Menguak kumpul kebo, dari gubernur hingga anggota dewan di Pulau Jawa

Khalied Malvino
Selasa, 9 September 2025
2 menit membaca

PRIROITAS, 9/9/25 (Jakarta): Kumpul kebo sudah menjadi bagian sejarah sosial Indonesia sejak masa kolonial, ketika pejabat dan warga Belanda hidup bersama perempuan lokal tanpa ikatan pernikahan resmi. Praktik ini muncul karena biaya membawa istri dari Eropa ke Hindia Belanda sangat besar dan penuh risiko.

Situasi itu membuat banyak pejabat tinggi memilih membangun rumah tangga bersama perempuan pribumi, sebagian besar dari kalangan budak. Dari hubungan itu lahir generasi baru tanpa ikatan sah.

Salah satunya terjadi pada Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff (1743-1750). Menurut catatan buku Tempat-Tempat Bersejarah di Jakarta (2016), ia yang sudah beristri menerima budak cantik dari Ratu Bone. Budak itu kemudian dibaptis dengan nama Helena Pieters dan tinggal bersama Van Imhoff hingga memiliki anak-anak.

Kisah serupa juga dialami Gubernur Jenderal VOC Reinier de Klerk (1777-1780). Sesampainya di Jawa, ia hidup bersama seorang budak perempuan. Dari hubungan itu lahir banyak anak yang kemudian dikirim ke Belanda.

Tidak hanya gubernur jenderal, elit lain seperti penasihat Thomas Stamford Raffles dan anggota Dewan Hindia Herman Warner Muntinghe juga tercatat tinggal bersama tiga budak perempuan meski telah beristri Indo-Belanda.

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025