WIG 2026 membawa cerita gastronomi Indonesia ke panggung global

Johanes Christiaan
Sabtu, 3 Oktober 2026
PARIWISATA 0 187
6 menit membaca

PRIORITAS, 3/10/2026 (Jakarta): Sebuah potong keju artisan, secangkir kopi, rempah pilihan, jamu yang diracik dengan sentuhan modern, hingga beras dengan aroma khas mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik setiap produk tersimpan cerita tentang bahan baku, tradisi, kreativitas, dan masyarakat yang menggantungkan hidup dari kekayaan pangan Indonesia.


Cerita-cerita itulah yang coba diangkat Kementerian Pariwisata melalui Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) 2026. Setelah membuka rangkaian di Pura Mangkunegaran, Solo, WIG berlanjut ke Yogyakarta dengan membawa gastronomi Indonesia lebih jauh dari sekadar urusan makanan: menjadikannya pengalaman wisata, peluang bisnis, sekaligus narasi yang dapat diperkenalkan ke dunia.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana membuka WIG Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja, Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).

Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, chef, praktisi, akademisi, dan komunitas. Sebanyak 22 pembicara hadir dalam lima sesi diskusi dan satu sesi ulasan buku. Antusiasme peserta bahkan melampaui target awal yang ditetapkan sebanyak 300 orang.


“Kita mempertemukan pemerintah, pelaku industri, chef, praktisi, akademisi, dan komunitas untuk membicarakan gastronomi dari berbagai sisi, sebagai identitas dan penggerak sosial-ekonomi, bagaimana warisan kuliner dapat berkembang menjadi bisnis, potensi wisata gastronomi, hingga bagaimana rasa dan cerita Indonesia dapat dibangun menjadi narasi global,” kata Widiyanti.

Ketika rasa menjadi alasan untuk bepergian

Bagi Kementerian Pariwisata, wisata gastronomi tidak berhenti ketika makanan tersaji di atas meja.

Ada perjalanan yang lebih panjang di baliknya. Wisatawan datang ke sebuah daerah karena ingin mencicipi makanan, tetapi kemudian mengenal bahan pangannya, melihat bagaimana makanan dibuat, bertemu dengan masyarakat, hingga memahami cerita yang melekat pada sebuah hidangan.

Di titik itulah makanan dapat berubah menjadi pengalaman wisata. “Tujuan akhirnya bukan sekadar membuat orang mencicipi makanan Indonesia. Kita ingin rasa menjadi alasan orang melakukan perjalanan, datang ke suatu daerah, bertemu masyarakatnya, mengenal bahan pangannya, mendengar ceritanya, lalu meninggalkan manfaat ekonomi bagi mereka yang hidup di sepanjang rantai gastronomi tersebut,” tutur Widiyanti.

Gagasan tersebut menjadi benang merah WIG 2026: membawa kekayaan kuliner dari akar lokal menuju pasar yang lebih luas, tanpa melepaskan cerita dan identitas yang melekat di dalamnya.

Dari beras, rempah, hingga jamu

Semangat mempertemukan rasa dengan peluang bisnis kemudian terlihat dalam **Artisan Market** yang berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Grand Hotel De Djokja.

Sebanyak “21 tenant dari wilayah Joglosemar dan Jakarta” hadir bersama 13 kolaborator yang menggelar berbagai workshop, sharing session, dan live cooking demo. Selama tiga hari, kegiatan tersebut ditargetkan menarik hingga 1.300 pengunjung.

Ruang tersebut memperlihatkan betapa beragamnya wajah gastronomi Indonesia.

Ada beras dengan karakter aroma khas, rempah pilihan, keju artisan berstandar internasional, teh dan kopi Nusantara, hingga jamu tradisional yang dikembangkan dengan pendekatan modern.

Produk lain seperti madu murni, gula kelapa organik, tempe berkualitas tinggi, kue kering artisanal, kombucha, dan soda artisan juga hadir.

Keragaman itu menunjukkan bahwa potensi gastronomi Indonesia tidak hanya berada pada makanan siap santap. Bahan baku lokal pun dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki peluang untuk masuk ke pasar yang lebih luas.

“Produsen dan UMKM dari berbagai daerah dipertemukan dengan pasar melalui beragam produk. Ini penting, karena ekosistem gastronomi hanya akan berkembang ketika mereka yang menghasilkan produk juga memperoleh akses kepada pembeli, industri, dan peluang pasar yang lebih luas,” kata Widiyanti.

Dengan mempertemukan produsen, UMKM, industri, dan konsumen, pemerintah berharap gastronomi tidak hanya bertahan sebagai warisan, tetapi berkembang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Menengok keju di tengah persawahan

Cerita gastronomi kemudian dibawa keluar dari ruang forum dan pasar. Melalui program “Tastemaker Gastronomy Trip”, peserta diajak melihat secara langsung bagaimana sebuah produk pangan dapat menjadi pengalaman wisata. Salah satu tujuannya adalah “Mazaraat Artisan Cheese”, produsen keju artisan yang didirikan Jamie Najmi dan Nieta Pricillia.

Di tempat tersebut, pengunjung tidak hanya mencicipi keju. Mereka dapat melihat proses produksi berbagai jenis keju, mencoba membuat keju sendiri, hingga menikmati kudapan _cheese spread_ di tengah lanskap persawahan Yogyakarta.

Pengalaman itu memperlihatkan sisi lain gastronomi: produk pangan dapat menjadi atraksi yang menggabungkan rasa, pengetahuan, proses produksi, dan lanskap destinasi.

Bagi Kementerian Pariwisata, pengembangan seperti ini juga berkaitan dengan kemampuan produk lokal untuk masuk ke rantai pasok industri pariwisata, termasuk hotel, restoran, dan kafe atau HOREKA.

“Bagi kami, inilah salah satu wajah penting gastronomi, ketika kekayaan lokal tidak berhenti sebagai potensi, tetapi masuk ke pasar, tumbuh menjadi usaha, menciptakan nilai tambah, dan menjadi bagian dari industri pariwisata,” ujar Widiyanti saat berkunjung ke Mazaraat Artisan Cheese.

Dari akar lokal menuju pasar global

Gagasan membawa produk lokal ke pasar yang lebih luas menjadi semakin penting ketika gastronomi ditempatkan sebagai bagian dari strategi pariwisata.

Indonesia memiliki kekayaan bahan pangan dan tradisi kuliner yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Tantangannya bukan hanya menjaga warisan tersebut tetap hidup, tetapi juga menciptakan ekosistem yang memungkinkan para pelakunya berkembang.

Karena itu, WIG 2026 tidak hanya menghadirkan forum dan pasar artisan.

Program ini juga mencakup “Indonesia Restaurant Months” bersama Priceless by Mastercard yang melibatkan 150 restoran di enam kota, serta “Chef Collaboration” di berbagai hotel dan restoran di tiga kota.

Kementerian Pariwisata juga menggandeng Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) untuk menghadirkan “Culinary Festival” pada 7 Oktober hingga 1 November 2026. Festival tersebut melibatkan 32 mal di 14 kota.

Rangkaian itu memperluas ruang bagi kuliner Indonesia untuk hadir di hadapan masyarakat, industri, dan wisatawan dalam berbagai bentuk.

WIG bergerak ke Sumatra Barat

Setelah Solo dan Yogyakarta, perjalanan WIG akan berlanjut ke Sumatra Barat pada 2027. Pilihan tersebut bukan tanpa alasan. Sumatra Barat dikenal memiliki tradisi kuliner yang telah lama menjadi bagian dari identitas Indonesia dan dikenal hingga mancanegara.

Bagi Kementerian Pariwisata, perjalanan WIG dari satu daerah ke daerah lain merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa cerita gastronomi Indonesia tidak hanya berpusat pada satu wilayah.

“Setelah Solo dan Yogyakarta, tahun depan kita akan bergerak menuju Sumatra Barat, sebuah daerah yang kekayaan rasa dan tradisi kulinernya telah lama menjadi salah satu wajah Indonesia yang dikenal dunia. Dari sana, kita akan terus membawa semangat yang sama: dari akar lokal menuju pengakuan global, dari rasa menjadi perjalanan, dan dari perjalanan menjadi kesejahteraan,” ucap Widiyanti.

Pada akhirnya, gastronomi yang ingin diangkat melalui WIG bukan sekadar tentang apa yang tersaji di piring.

Ada petani yang menghasilkan bahan baku, perajin yang mengolahnya, chef yang menghidupkan cita rasa, pelaku UMKM yang membangun produk, restoran yang menyajikannya, hingga wisatawan yang datang untuk mencari pengalaman.

Di antara semua mata rantai tersebut, terdapat peluang untuk mengubah rasa menjadi perjalanan dan perjalanan menjadi manfaat ekonomi.

Dari Solo, Yogyakarta, dan kelak Sumatra Barat, cerita itu terus dibawa. Dari dapur-dapur lokal menuju meja makan dunia, gastronomi Indonesia sedang berusaha menemukan panggungnya sendiri—dengan rasa sebagai pintu masuk dan cerita sebagai kekuatannya. (P-*/bwl)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan