
Pavilion Wonderful Indonesia pada Tourism Expo Japan (TEJ) 2026 yang berlangsung di Tokyo Big Sight, Jepang, beberapa waktu lalu. (dok. Kemenpar)PRIORITAS, 3/10/2026 (Jakarta): Secangkir kopi dari Temanggung mengepul di tengah hiruk-pikuk Tokyo. Di tempat lain, pengunjung diajak mengikuti gerak Tari Merak, Tari Gondang Kreasi, hingga Tari Maumere. Bukan sekadar pertunjukan, aktivitas itu menjadi cara Indonesia membuka percakapan dengan pasar wisatawan Jepang.

Di tengah gelaran Tourism Expo Japan (TEJ) 2026, Indonesia membawa bukan hanya nama-nama destinasi populer, tetapi juga pengalaman tentang kopi, budaya, alam, wellness, hingga gastronomi.
Dari Tokyo Big Sight, Jepang, pada 24–27 September 2026, promosi tersebut menghasilkan potensi kunjungan sekitar 5.600 wisatawan, dengan estimasi potensi devisa mencapai 7,168 juta dolar AS atau sekitar Rp127 miliar.
Bagi Kementerian Pariwisata, angka tersebut bukan sekadar catatan dari sebuah pameran. Ia menjadi indikasi adanya peluang pasar yang masih dapat dikembangkan melalui komunikasi bisnis dan produk wisata yang lebih sesuai dengan karakter wisatawan Jepang.

“Capaian ini menjadi indikasi peluang pasar yang dapat ditindaklanjuti melalui penguatan komunikasi bisnis dan pengembangan paket wisata yang sesuai dengan minat wisatawan Jepang,” kata Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Membawa Indonesia lebih dekat ke pengunjung Jepang
Indonesia hadir di TEJ 2026 melalui Paviliun Wonderful Indonesia seluas 54 meter persegi di Hall E2, Booth G10, Tokyo Big Sight.
Paviliun tersebut menjadi ruang pertemuan antara destinasi Indonesia dan pasar Jepang. Delapan pelaku industri pariwisata ikut ambil bagian, mewakili beragam sektor, mulai dari maskapai penerbangan, agen perjalanan dan operator tur, akomodasi, pengelola destinasi, hingga atraksi wisata.
Mereka adalah Garuda Indonesia, Wendy Tour, Menjaga Bay Hotel, Kuno Villas, DMC White Tiger Bali, The Yoga Barn, Adventure Indonesia, serta The Mulia Resorts & Villas.
Kehadiran para pelaku industri ini memperlihatkan bahwa promosi pariwisata tidak berhenti pada memperkenalkan destinasi. Ada upaya untuk mempertemukan produk wisata Indonesia secara langsung dengan calon mitra dan konsumen dari Jepang.
“Pasar Jepang memiliki potensi yang penting bagi pariwisata Indonesia. Melalui partisipasi dalam TEJ 2026, kami tidak hanya memperkenalkan destinasi unggulan Indonesia, tetapi juga membangun hubungan langsung dengan mitra industri Jepang untuk membuka peluang kerja sama yang berkelanjutan,” ujar Made.
TEJ 2026 sendiri diikuti sekitar 40 negara, dengan sekitar 400 co-exhibitor dan 500 booth, serta menarik lebih dari 44.000 pengunjung.
Kopi Temanggung dan budaya yang bisa dirasakan
Salah satu pendekatan yang digunakan Paviliun Wonderful Indonesia adalah menghadirkan pengalaman secara langsung.
Melalui “Indonesia Coffee Corner”, pengunjung dapat menikmati kopi unggulan asal Temanggung, Jawa Tengah, yang disajikan langsung oleh barista.
Kopi menjadi pintu masuk yang sederhana, tetapi sekaligus membawa cerita tentang salah satu kekayaan produk Indonesia. Respons positif pengunjung terhadap aktivitas tersebut juga membuka peluang pengenalan produk kopi Indonesia di pasar Jepang.
“Aktivasi ini mendapat respons positif dari pengunjung sekaligus membuka peluang pengenalan produk kopi Indonesia ke pasar Jepang,” kata Made dalam keterangannya diterima Berita Prioritas, Sabtu (3/10/2026).
Pendekatan serupa dilakukan melalui seni pertunjukan. Tari Merak dari Bali, Tari Gondang Kreasi dari Sumatra Utara, dan Tari Maumere dari Nusa Tenggara Timur ditampilkan di hadapan pengunjung. Namun, mereka tidak hanya ditempatkan sebagai penonton. Pengunjung juga diajak ikut menari.
Suasana semacam itu membuat promosi destinasi tidak berhenti pada gambar dan informasi perjalanan. Keragaman budaya Indonesia dihadirkan sebagai pengalaman yang bisa dilihat, didengar, dan dirasakan secara langsung.
Bali masih menjadi magnet
Di balik berbagai aktivitas promosi tersebut, Kementerian Pariwisata juga mencoba membaca apa yang sebenarnya dicari pasar Jepang.
Survei dilakukan terhadap 1.614 pengunjung Paviliun Wonderful Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa 63,3 persen responden belum pernah berkunjung ke Indonesia, sementara 36,7 persen lainnya sudah memiliki pengalaman berwisata di Indonesia.
Ketika ditanya mengenai destinasi yang diminati, Bali masih berada jauh di depan dengan persentase 86,2 persen.
Setelah Bali, pilihan responden mencakup Pulau Komodo dan Labuan Bajo sebesar 5,3 persen, Borobudur 4 persen, Raja Ampat 1,7 persen, Danau Toba 1,5 persen, dan Lombok 1,2 persen.
Data tersebut menjadi salah satu pijakan Kemenpar dalam merancang strategi berikutnya.
“Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penguatan strategi promosi Indonesia di Jepang, khususnya dengan memanfaatkan Bali sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi lainnya,” ujar Made.
Artinya, popularitas Bali tidak hanya dipandang sebagai tujuan akhir. Bali dapat menjadi pintu pertama untuk memperkenalkan wajah Indonesia yang lebih luas.
Dari sana, wisatawan dapat diarahkan untuk mengenal Labuan Bajo, Yogyakarta, Manado, Danau Toba, Lombok, serta destinasi unggulan lainnya.
Strateginya adalah mengembangkan paket perjalanan tematik yang menggabungkan destinasi yang sudah dikenal dengan pengalaman baru di berbagai daerah.
Dari pameran ke meja bisnis
Promosi di Tokyo juga bergerak keluar dari ruang pameran. Pada 24 September 2026, Kemenpar menggelar Networking Dinner di Cinta Jawa Café, Tokyo.
Delapan pelaku industri pariwisata Indonesia bertemu dengan 20 buyers potensial dari Jepang, yang terdiri atas agen perjalanan, operator tur, dan mitra industri lainnya.
Format makan malam informal dipilih untuk membuka ruang percakapan yang lebih personal.
Di sana, pelaku industri Indonesia dapat memperkenalkan produk wisata, menjajaki kerja sama, memperluas jaringan distribusi, sekaligus melihat peluang untuk mengembangkan paket perjalanan ke Indonesia.
Bagi industri pariwisata, pertemuan semacam ini penting karena promosi pada akhirnya perlu berujung pada transaksi, kemitraan, dan perjalanan nyata.
Upaya serupa dilakukan melalui pertemuan dengan Japan Airlines (JAL) pada 25 September 2026.
Pertemuan tersebut membahas perkembangan pasar wisatawan Jepang, pengembangan segmen wisata premium, serta peluang kolaborasi promosi melalui program Familiarization Trip atau Fam Trip bagi agen perjalanan dan operator tur Jepang.
Salah satu gagasan yang dijajaki adalah paket perjalanan yang mengombinasikan Jakarta, Yogyakarta, dan Labuan Bajo.
Paket semacam ini membuka kemungkinan perjalanan yang lebih beragam bagi wisatawan Jepang. Bahkan, ada peluang untuk mengoptimalkan perjalanan bisnis menjadi kesempatan untuk melanjutkan perjalanan rekreasi di Indonesia.
Mengubah ketertarikan menjadi perjalanan
Bagi Indonesia, pasar Jepang bukan sekadar pasar yang perlu didatangi lewat pameran pariwisata. Tantangannya adalah bagaimana ketertarikan yang muncul di ruang pamer dapat diterjemahkan menjadi keputusan untuk membeli paket perjalanan dan akhirnya datang ke Indonesia.
Karena itu, angka potensi 5.600 wisatawan dari TEJ 2026 menjadi bagian dari proses yang lebih panjang.
Ada destinasi yang harus diperkenalkan, produk yang perlu disesuaikan, konektivitas yang perlu diperkuat, dan jaringan industri yang harus terus dibangun.
Di Tokyo, Indonesia mencoba memulai proses itu dari berbagai pintu: secangkir kopi Temanggung, gerak tari tradisional, pesona Bali, hingga percakapan bisnis antara pelaku industri.
Semua diarahkan pada satu tujuan yang sama: membuat Indonesia semakin dekat dengan wisatawan Jepang sekaligus memperluas pilihan perjalanan mereka di luar destinasi yang selama ini sudah dikenal.
“Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Kementerian Pariwisata berupaya untuk terus memperkuat promosi pariwisata Indonesia di Jepang melalui sinergi pemerintah dan industri, pengembangan produk wisata yang sesuai dengan karakteristik pasar, serta perluasan kemitraan strategis dengan pelaku industri pariwisata internasional,” kata Made. (P/*-bwl)

