Krisis air bersih makin parah! Warga Lipang berpacu dengan air pasang gali rembesan di pesisir

Sem Muhaling
Senin, 28 September 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 28/9/26 (Sangihe): Krisis air bersih memaksa warga Desa Lipang, Kecamatan Kendahe, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, mencari sumber air alternatif hingga ke kawasan pesisir.


Dalam kondisi kemarau yang berkepanjangan, warga bersama pemerintah desa melakukan upaya secara mandiri dengan menggali rembesan air yang keluar dari celah bebatuan di kawasan pinggir pantai. Upaya tersebut dilakukan untuk mendapatkan air yang masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Kondisi itu tergambar dalam unggahan media sosial Nusakita, Senin (28/926), yang memperlihatkan sejumlah warga tengah berupaya menggali celah bebatuan menggunakan peralatan sederhana. Mereka harus bekerja di sela-sela batu sambil memperhitungkan waktu datangnya air pasang.

Upaya warga tersebut menjadi gambaran sulitnya mendapatkan sumber air tawar di wilayah kepulauan ketika curah hujan berkurang. Terlebih, sumber air yang mereka temukan di kawasan pesisir sangat rentan tercampur dengan air laut ketika permukaan air laut mulai naik.


Berpacu dengan air pasang

Warga Kampung Lipang menghadapi persoalan yang tidak sederhana. Rembesan air dari bebatuan hasil galian harus segera mereka ambil sebelum air pasang mencapai lokasi tersebut.

Ketika air laut mulai pasang, air asin berpotensi masuk dan bercampur dengan rembesan air yang terkumpul. Karena itu, warga harus berpacu dengan waktu untuk memperoleh air sebelum sumber tersebut kembali terkontaminasi air laut.

Upaya ini dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah kampung. Dengan peralatan sederhana, warga berusaha membuka celah pada bebatuan yang mereka perkirakan menjadi tempat keluarnya rembesan air.

Langkah tersebut sekaligus menunjukkan keterbatasan sumber air bersih yang tersedia di kawasan pulau kecil. Warga tidak hanya menghadapi persoalan jarak dan akses, tetapi juga harus menyesuaikan pencarian air dengan kondisi pasang surut laut.

El Niño memperpanjang tekanan kekeringan

Kondisi warga Lipang ini berlangsung di tengah fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam analisis 23 September 2026 mencatat indeks ENSO rata-rata Juli-Agustus-September sebesar 2,63, yang menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat. BMKG juga memasukkan Sulawesi Utara dalam wilayah yang mendapat peringatan dini kekeringan meteorologis pada Dasarian III September 2026.

BMKG menyebut kombinasi El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) berpotensi memperpanjang periode kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut juga menyebabkan awal musim hujan 2026/2027 kemungkinan mengalami kemunduran di 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen wilayah Indonesia.

Bagi masyarakat pulau kecil seperti Lipang, berkurangnya ketersediaan air hujan dapat langsung berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan dasar. Karena itu, rembesan air dari bebatuan di pesisir menjadi salah satu sumber alternatif bagi warga.

Desa Lipang dan persoalan sumber air
Pulau Lipang Sangihe

Letak geografis pulau/desa Lipang Kabupaten Kepulauan Sangihe. (Istimewa/sm)

Desa Lipang merupakan wilayah di Kecamatan Kendahe, Kabupaten Kepulauan Sangihe. Data pemerintah daerah juga mencatat keberadaan infrastruktur kelistrikan di kampung tersebut. Pada Juni 2025, PLTS Desa Lipang diresmikan dan disebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pelayanan dasar bagi masyarakat di wilayah terluar.

Persoalan air di Lipang sebenarnya bukan hal baru. Catatan mengenai kondisi kampung tersebut menunjukkan karakter wilayah yang berbatu dan memiliki keterbatasan sumber air. Masyarakat sebelumnya mengandalkan sejumlah sumber, termasuk air hujan dan sumber air dangkal, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi terkini kembali memperlihatkan pentingnya ketersediaan sumber air yang lebih aman dan berkelanjutan bagi masyarakat pulau kecil. Upaya warga menggali rembesan air di pesisir menjadi solusi sementara di tengah tekanan kemarau, tetapi pasang surut air laut sang mempengaruhui keberadaannya.

Pemerintah dan masyarakat Desa Lipang pun terus berupaya memanfaatkan sumber daya yang tersedia dengan cara sederhana. Di tengah keterbatasan tersebut, kebutuhan akan solusi penyediaan air bersih yang lebih permanen menjadi semakin penting agar masyarakat tidak terus bergantung pada sumber air yang mudah terpengaruh kondisi cuaca dan pasang laut. (P-*/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan