
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memberikan keterangan kepada awak media usai Rapat Koordinasi Percepatan Pengembangan Bioetanol secara terbatas bersama 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi di Jakarta, Senin (21/9/2026). (ANTARA/Harianto).PRIORITAS, 22/9/26 (Jakarta): Langkah menuju kedaulatan energi nasional kini semakin nyata. Pasalnya, program pengembangan bioetanol berbasis pertanian berpotensi menghemat devisa negara hingga Rp500 triliun per tahun.

Penghematan fantastis ini terjadi akibat penghentian impor biofuel dari luar negeri.
Oleh karena itu, nilai ekonomi jumbo tersebut dapat berputar penuh di tingkat petani lokal. Pemerintah meyakini skema ini mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat pedesaan. “Etanol diproduksi negara lain, itu nilainya biofuel Rp500 triliun. Kalau Rp500 triliun ini berputar di petani Indonesia,” kata Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, pada Senin (21/9/2026).
Selanjutnya, program strategis ini mengandalkan tiga komoditas utama sebagai bahan baku. Pemerintah menetapkan tanaman tebu, singkong, dan jagung sebagai penopang industri etanol.

Untuk mendukung target tersebut, negara menyiapkan lahan seluas 1 hingga 2 juta hektare.
Bahkan, sebanyak 44 bupati dari berbagai daerah sentra produksi siap mendukung penuh. Para kepala daerah telah menginventarisasi potensi wilayah serta lahan yang cocok untuk tanaman energi.
Sementara itu, percepatan proyek ini membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah dan investor. Pemerintah mendorong keterlibatan BUMN serta sektor swasta melalui skema investasi yang menarik.
Pihak swasta diprediksi menyumbang porsi investasi terbesar hingga 70 persen. “Pasti swasta mau, karena tanahnya disiapkan oleh negara, pasti berbondong-bondong,” tambah Amran.
Oleh sebab itu, pengembangan bioetanol menjadi pilar utama setelah penguatan sektor pangan dan protein. Langkah nyata ini optimis membawa Indonesia menjadi negara berdaulat energi di masa depan. (P-*Ant/Gio R)

