
Alfeyn Gilingan dan Pulau Bunaken. (Dok. BTN Bunaken)
PRIORITAS, 20/8/26 (Manado) : Badan Musyawarah Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro dan Talaud (Bamukisst) mendesak PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sulutenggo segera mencari solusi atas pemadaman bergilir di Pulau Bunaken.
Sekretaris Umum Bamukisst, Alfeyn Gilingan, mengatakan Pulau Bunaken adalah bagian yang tak terpisahkan dengan Taman Nasional Bunaken, sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.
Di lokasi ini, kata dia, ada banyak fasilitas pendukung sebagai penunjang aktivitas pariwisata di Taman Laut Bunaken.
Cottage maupun restoran adalah sebagian fasilitas penunjang pariwisata Bunaken, yang dibangun para pelaku usaha wisata di pulau tersebut.
“Adanya pemadaman bergilir oleh PLN ini secara langsung telah merugikan pelaku usaha wisata yang sudah mengeluarkan investasi cukup besar,” kata dia.
Selain menimnulkan gangguan terhadap iklim investasi wisata, hal tersebut juga akan berdampak pada kunjungan wisatawan ke Bunaken.
Menurut Alfeyn, belum adanya solusi dari PLN menyangkut hal itu, mengindikasikan ketidakpedulian atas upaya pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisata, khususnya ke Bunaken.
“Pak Gubernur Yulius Selvanus sebaiknya segera turun mendesak PLN agar segera mengatasi hal itu agar tidak kerugian pariwisata ini berkepanjangan,” tambahnya.
Hal, kata Alfeyn lagi, persoalan pasokan listrik ke Bunaken ini bukan baru terjadi sekarang di saat musim kemarau panjang, namun telah berlangsung cukup lama.
“(Apa) Alasan pemadaman karena apa.
Kalau mesin rusak, segera ganti mesin baru, jika kuota BBM kurang, harus ditambah,” tanyanya.
Selain berdampak pada pariwisata, pemadaman listrik bergilir tersebut, menurut Alfeyn, juga menimbulkan kerugian kepada masyarakat yang tinggal di pulau itu.
Protes Garda Tipikor Indonesia
Sebelumnya, Garda Tipikor Indonesia (GTI) Sulawesi Utara (Sulut) menyoroti persoalan pemadaman listrik bergilir yang masih terjadi di Pulau Bunaken.
Sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Sulawesi Utara maupun Indonesia, pemadaman itu dinilai sangat kontradiksi dengan upaya pemerintah memajukan pariwisata.
GTI Sulut menilai persoalan kelistrikan di Pulau Bunaken tidak bisa dianggap sebagai masalah biasa. Sebab, selain menyangkut kebutuhan dasar masyarakat, ketersediaan listrik juga berkaitan langsung dengan aktivitas pariwisata dan perekonomian warga.
“Bunaken itu wajah terdepan pariwisata Sulut. Kalau listrik masih padam bergilir, bagaimana kita mau berbicara tentang pariwisata berkualitas dan pelayanan kepada wisatawan,” tegas Ketua GTI Sulut, Risat Sanger, dalam siaran pers yang diterima, Rabu (19/8/2026).
Oleh karena itu, kata Risat Sanger, GTI Sulut mempertanyakan kinerja General Manager (GM) PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Suluttenggo yang dinilainya tak becus. Menurut dia, persoalan pemadaman listrik di kawasan strategis seperti Bunaken semestinya mendapat perhatian serius dan solusi yang bersifat permanen.
“Ini menjadi pertanyaan besar terhadap kinerja GM PLN Sulut-Go. Jangan sampai persoalan yang menyangkut masyarakat dan destinasi pariwisata unggulan justru dibiarkan berlarut-larut,” ujar dia.
Menurut GTI, pemadaman listrik dapat memberikan dampak langsung terhadap masyarakat dan pelaku usaha pariwisata di Bunaken. Penginapan, restoran, usaha penyelaman, komunikasi hingga berbagai aktivitas wisata sangat membutuhkan pasokan listrik yang stabil.
GTI Sulut menilai pembangunan pariwisata tidak cukup hanya dengan melakukan promosi destinasi. Infrastruktur pendukung, termasuk kelistrikan, harus dipastikan mampu menunjang kebutuhan masyarakat maupun wisatawan.
“Jangan hanya menjual keindahan Bunaken kepada wisatawan. Pemerintah dan PLN juga harus memastikan infrastruktur dasarnya tersedia dengan baik. Listrik adalah kebutuhan dasar,” tegasnya.
Garda Tipikor Indonesia Sulut meminta PLN memberikan penjelasan secara terbuka mengenai penyebab terjadinya pemadaman bergilir di Pulau Bunaken serta langkah konkret yang akan dilakukan untuk mengatasinya.(P/dg)