Tentang upah pengupas bawang: Istana ‘pasang badan’, minta fokus ke substansi Pidato Presiden Prabowo

Hosana Rawis
Selasa, 18 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 18/8/26 (Jakarta): Pernyataan mengenai upah pengupas bawang (yang memang terekspos sepotong-sepotong) sontak jadi viral. Apalagi pembuat pernyataannya ialah salah seorang presiden hebat di era sekarang, dan sering menjadi sumber berita media internasional.

Ya, ini mengenai Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut upah untuk mengupas bawang adalah sebesar Rp700.000 per kilogram. Lalu salah seorang petinggi Istana, yakni Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, langsung ‘pasang badan’ pula.

Tegasnya, Hasan mengajak masyarakat untuk fokus pada substansi dari pidato Prabowo saja. (bukan pada potongsn info tertentu, lalu ‘digoreng’).

“Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu,” tegasnya lagi di Istana, Jakarta, Senin (17/8/26).

Lihatlah gagasan besar dari pidato Prabowo

Selanjutnya Hasan menjelaskan, alangkah baiknya masyarakat melihat gagasan besar dari pidato Prabowo tersebut.

“Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu,” lanjutnya.

Memang, seperti diungkap sebelumnya, pernyataan Presiden Prabowo Subianto soal upah buruh pengupas bawang Rp700.000 per kilogram langsung viral di media sosial (Medsos).

Akibat mendengar (atau membaca) pernyataan tersebut, demikian Kompas.com, Nurliah (50), pedagang sayur dan bumbu dapur di Pasar Pa’baeng-baeng, Makassar, Sulawesi Selatan, mengaku tergiur dengan besaran upah pengupas bawang.

Nurliah bahkan mengatakan bersedia menjadi buruh pengupas bawang jika pekerjaan dengan bayaran tersebut memang tersedia.

“Di mana? Kalau ada, saya juga mau,” kata Nurliah saat ditemui di Pasar Pa’baeng-baeng, dikutip dari Tribun Timur, Minggu (16/8/26) lalu.

Ia sendiri bukan orang yang asing dengan pekerjaan mengupas bawang. Sambil berjualan sayur dan bumbu dapur, ia mengaku kerap menerima pekerjaan sampingan sebagai buruh pengupas bawang.

Lalu Nurliah mengatakan, pernah mendapat upah Rp100.000 untuk mengupas 25 kilogram bawang. Jika dihitung berdasarkan jumlah bawang, bayaran tersebut setara sekitar Rp4.000 per kilogram. “Waktu saya dulu makkupas, Rp100.000 untuk 25 kilogram. Jadi kalau satu kilogram berarti Rp2.500,” kata Nurliah lagi.

Jadi ‘gorengan’ mengasyikkan

Tedy Matheos (60-an), seorang aktivis dan profesional di Jakarta pun ikut terlibat ‘nimbrung’ dalam bahasan viral ini.

“Bahan bakunya enak dan menghasilkan ‘gorengan’ isu mengasyikkan yang gurih laris. Tapi, bagi yang paham, ini bisa saja ‘jebakan’,” katanya meyakinkan.

“Prabowo itu agak mirip ‘ilmunya’ dengan Trump (Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, Red). Pinter mengolah konten untuk menu opini publik masif.”

Tedy menunjuk kehebatan Trump lewat letupan-letupannya di Medsos Truth Social, sementara Prabowo gunakan media pidato, eksplanasi. Langsungbke ‘audiens’ aneka latar.

“Bisa saja target mereka untuk membuat ‘peta’ yang semakin terang-benderang, sehingga terlihat kelompok mana yang tak terpancing, teguh setuju mendukung gagasan-gagasan mereka, mana pula yang langsung ikut ‘rame-rame’ menggoreng untuk menciptakan persepsi negatif tentang mereka, sehingga semakin memudahkan mengantisipasi,” demikian Tedy, yang kini juga menjadi petinggi sebuah organisasi kemasyarakatan (Ormas) level nasional, yakni Gerakan Penerus Perjuangan Merah Putih 14 Februari 1946 (GPPMP), di mana memiliki DPD dari Papua hingga Aceh serta PPLN di sejumlah negara, di antaranya Australia, Singapura, Korea, Jepang hingga Amerika Serikat.

“Ingat, kepinteran dan pengalaman mereka (Prabowo dan Trump, Red), di atas rata-rata,” ungkap Tedy Matheos penuh arti, menutup opininya. (P-*/mj/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025