Parigi Moutong menggebrak! Surplus beras tembus 130 ribu ton, produksi pangan makin menggila

Sem Muhaling
Sabtu, 15 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 14/08/26 (Parigi): Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan menyebut Kabupaten Parigi Moutong mencatat surplus beras 130 ribu ton pada 2025. Angka itu menjadi salah satu surplus terbesar dalam beberapa tahun terakhir.


Kepala Dinas TPHP Parigi Moutong Dadan Priatna menyampaikan capaian tersebut di Parigi, Jumat. Menurut Dadan, surplus 2025 meningkat tajam dibandingkan capaian 2024. Saat itu, surplus beras Parigi Moutong hanya mencapai sekitar 98 ribu ton.

Dadan menilai konsistensi petani menjadi salah satu faktor utama peningkatan produksi. Para petani terus meningkatkan hasil panen dari tahun ke tahun. Kondisi tersebut sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional.

Parigi Moutong memiliki hamparan persawahan yang cukup luas. Luas tanam padi di daerah itu mencapai sekitar 63 ribu hektare. Pada 2025, petani menghasilkan 317.361 ton gabah kering giling atau GKG.


Produksi melonjak, stok beras makin kuat

Melansir Antara News, pari produksi tersebut, Parigi Moutong menghasilkan lebih dari 180 ribu ton beras siap konsumsi. Sementara itu, konsumsi lokal berada di kisaran 50 ribu ton per tahun. Data tersebut menunjukkan ruang surplus yang cukup besar bagi daerah.

Dadan menyebut jumlah penduduk Parigi Moutong mencapai sekitar 459.570 jiwa. Mereka tersebar pada 283 desa dan kelurahan di seluruh wilayah kabupaten. Karena itu, kebutuhan pangan masyarakat tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.

Sektor pertanian juga menjadi salah satu sektor unggulan Parigi Moutong. Selain pertanian, daerah tersebut memiliki potensi besar pada sektor kelautan dan perikanan. Kedua sektor itu turut menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan menjaga keseimbangan produksi dan harga. Produksi yang tinggi harus tetap memberikan keuntungan bagi petani. Karena itu, stabilitas harga beras menjadi perhatian pemerintah.

Tembus pasar luar daerah

Dadan mengatakan harga beras saat ini masih stabil. Selain memenuhi kebutuhan lokal, petani juga menjual beras ke sejumlah wilayah di luar daerah. Kondisi tersebut menunjukkan kuatnya posisi Parigi Moutong sebagai pemasok pangan.

Beras produksi Parigi Moutong mengalir ke sejumlah pasar di kawasan timur Indonesia. Sebagian beras masuk ke pasar Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara. Distribusi juga menjangkau Maluku Utara dan wilayah sekitarnya.

Arus perdagangan tersebut membuka peluang ekonomi bagi petani dan pelaku usaha. Selain itu, distribusi antardaerah memperkuat peran Parigi Moutong dalam rantai pasok pangan. Pemerintah tentu perlu menjaga produksi agar pasokan tetap berkelanjutan.

Karena itu, pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas lahan. Salah satunya melalui penerapan teknologi pertanian modern. Strategi tersebut diharapkan mampu menghasilkan panen lebih tinggi pada lahan yang sama.

Teknologi pertanian jadi senjata baru

Saat ini, petani lokal banyak mengandalkan sistem tanam benih langsung atau tabela. Metode tersebut memungkinkan petani melakukan dua hingga tiga kali tanam dalam setahun. Produktivitas rata-rata mencapai sekitar 5,2 ton per hektare.

Namun, pemerintah ingin meningkatkan produktivitas tersebut melalui teknologi. Salah satu inovasinya berupa Pertanian Modern Advanced Agricultural System atau PM-AAS. Metode tersebut menggabungkan budidaya pertanian dengan pendekatan berbasis teknologi.

Dadan menyebut metode PM-AAS berpotensi meningkatkan produktivitas padi. Pemerintah memproyeksikan hasilnya dapat mencapai sekitar 10 ton per hektare. Target tersebut hampir dua kali lipat dari produktivitas rata-rata saat ini.

Jika target itu tercapai, produksi pangan Parigi Moutong berpotensi meningkat signifikan. Surplus beras juga dapat bertambah pada tahun-tahun berikutnya. Kondisi tersebut sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai salah satu lumbung pangan.

Peningkatan produksi juga dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Namun, pemerintah tetap perlu menjaga keseimbangan antara produksi, distribusi, dan harga. Dengan begitu, peningkatan produksi benar-benar memberikan manfaat kepada petani dan masyarakat. (P-*Ant/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan