Gawat! Anak bisa terancam bisu seumur hidup, dokter spesialis THT Gorontalo ungkap penyebab utama dan cara mencegahnya!

Sem Muhaling
Jumat, 14 Agustus 2026
3 menit membaca
PRIORITAS, 13/08/26 (Kota Gorontalo): Perhimpunan Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok (THT) Bedah Kepala dan Leher Indonesia (PERHATI-KL) Cabang Provinsi Gorontalo menyatakan, anak bisa terancam bisu seumur hidup. Kabar krusial bagi seluruh masyarakat ini membuat pihaknya kini terus mendorong setiap Puskesmas untuk melengkapi fasilitas medis dasar.
Organisasi profesi ini meminta agar seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama menyediakan alat Otoacoustic Emissions (OAE). Kehadiran peralatan medis tersebut sangat vital demi memetakan dan menguji fungsi pendengaran bayi sejak hari pertama lahir. Pasalnya, pengujian mendasar ini mampu mendeteksi potensi kecacatan pendengaran seawal mungkin pada anak.
Selain itu, langkah preventif ini menjadi fondasi utama dalam menjamin mutu tumbuh kembang generasi muda bangsa. Oleh karena itu, ketersediaan alat tersebut di tingkat akar rumput merupakan kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.
Ancaman serius pada anak
Ketua PERHATI-KL Provinsi Gorontalo, dr. Helen M Y Nazaruddin, menyampaikan penegasan ini pada sebuah agenda penting di Kota Gorontalo. Ia berbicara dalam Seminar dan Workshop “Merdeka Mendengar” yang berlangsung secara meriah. Acara strategis ini lahir atas prakarsa Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo bersama Nobel Audiology Center.
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa OAE merupakan instrumen pemeriksaan awal yang sangat praktis dan mudah digunakan. Tidak hanya itu, deteksi dini ini berdampak amat luas terhadap kehidupan sosial anak. Kerusakan pendengaran yang terlambat tertangani akan merusak kemampuan komunikasi, sosialisasi, proses belajar, hingga masa depan buah hati. Akibatnya, anak yang mengalami gangguan fungsi pendengaran kerap mengalami hambatan interaksi sosial secara permanen di masyarakat.
Pentingnya penanganan dini 
Melansir Antara News, dr. Helen M Y Nazaruddin menegaskan bahwa keterlambatan deteksi akan memicu efek domino yang merugikan. Anak yang tidak bisa mendengar otomatis akan kesulitan belajar bicara. Kondisi menderita ini berujung pada penurunan prestasi pendidikan serta isolasi lingkungan secara menyeluruh. Oleh sebab itu, PERHATI-KL sangat berharap agar alat OAE segera tersedia di seluruh puskemas daerah. Dengan demikian, para dokter, bidan, maupun perawat dapat menjalankan skrining awal secara langsung dan cepat.
Selanjutnya, jika menemukan kelainan fungsi pendengaran, petugas faskes bisa segera merujuk pasien kecil tersebut ke rumah sakit rujukan. Langkah cepat ini memastikan balita mendapatkan intervensi medis yang tepat sesuai kondisi medis yang mereka alami.
Imbauan kepada masyarakat  
Di samping dorongan fasilitas medis, PERHATI-KL juga mengimbau seluruh orang tua agar meningkatkan kewaspadaan harian. Para orang tua wajib mencermati setiap tahapan perkembangan bicara serta pola komunikasi anak secara berkala. Apabila mendapati anak mengalami gejala keterlambatan bicara, orang tua harus segera mengonsultasikannya ke dokter spesialis THT.
Selain kesadaran mandiri warga, peran aktif pemerintah daerah hingga Kementerian Kesehatan sangat menentukan keberhasilan program ini. Penyediaan anggaran serta pengadaan sarana deteksi di faskes primer merupakan investasi berharga bagi masa depan anak-anak Indonesia. Ringkasnya, sinergi antara kesadaran masyarakat dan dukungan pemerintah pusat menjadi kunci utama untuk menekan risiko ketulian permanen pada anak. (P-*Ant/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan