
Arsip Foto – Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengulurkan selang air untuk melakukan pembasahan area di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, Jumat (7/8/2026). (ANTARA/Ananto Pradana).PRIORITAS, 11/8/26 (Malang): Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Peristiwa ini terjadi sejak Senin (3/8). Hingga Senin (10/8) malam, api telah menghanguskan lahan seluas 742,70 hektare.

Api berawal dari titik kecil seluas 7,9 hektare di Blok Bantengan. Angin kencang dan cuaca kering mempercepat penyebaran api. Kobaran api menjalar ke Watu Gede, Blok Jantur, B29, dan Bukit Dingklik.
Puncak kebakaran terjadi pada Sabtu (8/8) malam. Api melompati Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) selebar 18 meter. Peristiwa ini langsung membakar kawasan savana di sekitarnya.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menutup seluruh jalur wisata Bromo demi keselamatan pengunjung. Langkah ini juga mendukung kelancaran pemadaman. Petugas menutup lima akses masuk utama di Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang.

Tim gabungan terus memadamkan titik api di wilayah Probolinggo dan Pasuruan. Personel terdiri atas Balai Besar TNBTS, Pemprov Jatim, TNI/Polri, BNPB, BPBD, dan relawan.
Tim menerapkan dua strategi pemadaman secara bersamaan:
Jalur darat: Petugas memadamkan api secara manual menggunakan gebyok dan truk pemadam. Mereka juga melakukan pembasahan area untuk mencegah munculnya bara baru.
Jalur udara dan drone: BPBD Jatim mengoperasikan drone water spray berkapasitas 150 liter air untuk celah tebing sempit. Selain itu, BNPB menerjunkan dua helikopter water bombing berkapasitas 1.000 liter air per angkut. Tim mengambil pasokan air secara rutin dari Ranu Pani.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau lokasi kebakaran pada Minggu (9/8). Pemerintah resmi membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Kebakaran TNBTS. Sementara itu, pihak kepolisian menangani investigasi penyebab awal kebakaran. (P-Gio R)

