
Logo Lalang Rondor Malesung dan artinya.(SS/TikTok/@umat_agama_malesung)PRIORITAS, 17/6/26 (Minahasa): Sistem kepercayaan masyarakat kuno Minahasa dengan nama Malesung bangkit kembali setelah lama ‘mati. Kepercayaan ini sebenarnya telah ada jauh sebelum agama-agama besar dari luar Nusantara masuk ke tanah Minahasa. Kepercayaan leluhur ini diyakini telah hidup dan diwariskan secara turun-temurun sejak masa awal peradaban orang Minahasa.
Bagi para penghayatnya, Malesung bukan sekadar tradisi adat, melainkan jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Sang Pencipta, sesama manusia, alam semesta, dan para leluhur. Dalam ajaran ini, Tuhan dikenal sebagai Opo Kasuruan Wangko atau Sang Pencipta Agung yang menjadi sumber segala kehidupan.

Salah satu ajaran utama Malesung adalah penghormatan kepada leluhur yang dianggap memiliki jasa besar dalam perjalanan kehidupan manusia. Para penghayat percaya bahwa roh leluhur tetap memiliki keterkaitan dengan kehidupan keturunannya.
Selain itu, Malesung mengajarkan keseimbangan antara manusia dan alam. Hutan, gunung, sungai, dan berbagai unsur alam diyakini memiliki nilai spiritual yang harus dijaga. Karena itu, setiap pemanfaatan alam dilakukan dengan penuh penghormatan dan tanggung jawab.
Filosofi hidup yang dikenal luas di Sulawesi Utara, Si Tou Timou Tumou Tou atau manusia hidup untuk memanusiakan manusia lain, juga diyakini memiliki akar kuat dalam nilai-nilai Malesung.
Dalam berbagai kisah tradisional Minahasa, Malesung tidak dapat dipisahkan dari legenda Toar dan Lumimuut yang dipercaya sebagai leluhur orang Minahasa.
Sejumlah literatur menyebut istilah Malesung berasal dari nama kuno yang berkaitan dengan perjalanan leluhur masyarakat pada masa lampau. Nama tersebut kemudian menjadi identitas budaya sekaligus spiritual masyarakat Minahasa sebelum berkembang menjadi berbagai sub-etnis yang dikenal saat ini.
Masuknya agama-agama dunia sejak abad ke-19 membuat praktik Malesung perlahan memudar. Banyak pengikutnya beralih memeluk agama-agama yang dibawa para misionaris maupun pendatang dari luar daerah.
Meski demikian, kepercayaan ini tidak benar-benar hilang. Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah tokoh adat dan penghayat kepercayaan berupaya menghidupkan kembali ajaran Malesung melalui wadah organisasi bernama Lalang Rondor Malesung (Laroma), yang berarti “jalan lurus Malesung”.
Organisasi tersebut menjadi tempat berhimpunnya para penghayat yang berusaha melestarikan nilai-nilai leluhur Minahasa di tengah arus modernisasi dan perubahan sosial.

Walaupun negara kini mengakui keberadaan penghayat kepercayaan melalui berbagai regulasi, para penganut Malesung masih menghadapi berbagai tantangan sosial. Sebagian masyarakat masih memandang kepercayaan leluhur sebagai sesuatu yang asing atau bahkan menyimpang.
Namun para penghayat menegaskan bahwa Malesung merupakan bagian dari identitas budaya Minahasa yang telah ada jauh sebelum hadirnya agama-agama modern. Mereka berharap keberadaan kepercayaan leluhur ini dapat dipahami sebagai warisan budaya dan spiritual yang layak dihormati.
Di tengah perubahan zaman, Malesung menjadi pengingat bahwa masyarakat Nusantara memiliki kekayaan spiritual yang tumbuh dari tanahnya sendiri. Bagi sebagian orang Minahasa, ajaran ini bukan sekadar sejarah, melainkan bagian dari identitas yang terus hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Malesung menjadi bukti bahwa jejak spiritual leluhur Minahasa masih bertahan, meski pernah hampir tenggelam oleh derasnya arus perubahan zaman.
Artikel ini sudah disusun ulang menjadi berita lansiran yang lebih panjang, bernuansa feature sejarah-budaya, dan aman dari plagiarisme karena tidak menyalin isi artikel asli secara langsung.(Semuel Muhaling/dari berbagai sumber)

