Wamenaker: AI dan digitalisasi jadi tantangan besar tenaga kerja Indonesia

Giovanni Riung
Sabtu, 9 Mei 2026
EKBIS 0 230
2 menit membaca

Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Afriansyah Noor. (Dok. Humas Kemnaker).


PRIORITAS, 9/5/2026 (Jakarta): Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menghadapi percepatan digitalisasi global dan perkembangan Artificial Intelligence yang terus mengubah pola dunia kerja.

Pernyataan tersebut disampaikan Afriansyah saat menjadi narasumber dalam Indonesia Cloud and Datacenter Convention 2026 di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Menurutnya, transformasi digital saat ini tidak hanya memengaruhi sistem industri, tetapi juga menuntut tenaga kerja memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja modern.


“Dunia kerja sedang mengalami perubahan besar akibat AI dan digitalisasi. Tantangan kita bukan hanya soal jumlah, tetapi kualitas dan kesesuaian keterampilan,” ujar Afriansyah.

Berdasarkan data Sakernas November 2025, jumlah penduduk usia kerja di Indonesia mencapai 218,85 juta jiwa. Dari angka tersebut, tercatat 7,35 juta orang masih menganggur dan didominasi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Kondisi tersebut dinilai menunjukkan masih adanya kesenjangan keterampilan atau skill mismatch antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri.

Untuk menjawab tantangan itu, Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia memperkuat program pelatihan berbasis kompetensi, reskilling, dan upskilling guna meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional.

Pemerintah juga mengoptimalkan platform SIAPkerja sebagai sistem digital terintegrasi yang memudahkan masyarakat mengakses layanan pelatihan, sertifikasi, hingga penempatan kerja.

Selain penguatan keterampilan teknis atau hard skill, Kemnaker turut mendorong peningkatan soft skill dan sertifikasi kompetensi sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap kemampuan tenaga kerja Indonesia.

Afriansyah menjelaskan program ketenagakerjaan nasional dibangun melalui penguatan kurikulum pelatihan, kolaborasi dengan industri, serta pemanfaatan teknologi digital dalam pelayanan ketenagakerjaan.

“Kemnaker fokus pada perluasan penempatan tenaga kerja dengan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan,” katanya.

Ia menambahkan, pemerintah menargetkan terciptanya ekosistem ketenagakerjaan yang inklusif, adaptif, dan berdaya saing global dalam mendukung visi Indonesia Emas 2045.

Melalui penguatan kompetensi SDM dan sinergi lintas sektor, pemerintah berharap tenaga kerja Indonesia mampu bersaing di tengah perubahan teknologi dan dinamika industri global yang terus berkembang. (P-*r/Humas Kemnaker/Gio R)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan