Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menyatakan Teheran sedang mempelajari dokumen yang diterima sebelum memberikan jawaban resmi.
“Setelah mempertimbangkan segala hal, Iran akan menyampaikan pandangannya kepada pihak Pakistan,” ujar Baghaei, dikutip Beritaprioritas dari The New York Times, Kamis (7/5/2026).
Proposal dari Washington disebut menjadi respons atas tawaran damai yang lebih dulu diajukan Iran pada pekan sebelumnya. Dokumen tersebut disampaikan melalui Pakistan yang saat ini berperan sebagai mediator dalam komunikasi antara kedua negara.
Meski detail isi proposal belum dipublikasikan, laporan menyebut terdapat 14 poin dalam memo yang dikirim Amerika Serikat kepada Iran. Belum diketahui sejauh mana poin-poin tersebut memiliki kesamaan atau perbedaan dengan proposal yang sebelumnya diajukan Teheran.
Pemerintah Pakistan mengakui aktivitas diplomasi mereka meningkat dalam beberapa hari terakhir. Sejumlah negosiator senior Pakistan dilaporkan intens menjalin komunikasi dengan kedua pihak guna mendorong tercapainya kesepakatan damai.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyampaikan harapannya agar momentum diplomasi saat ini dapat menghasilkan stabilitas jangka panjang di kawasan.
“Sangat berharap bahwa momentum saat ini akan mengarah pada kesepakatan jangka panjang yang menjamin perdamaian dan stabilitas berkelanjutan bagi kawasan ini dan sekitarnya,” ujar Shehbaz Sharif, dikutip Beritaprioritas dari Al Jazeera.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal positif terkait jalannya komunikasi dengan Iran. Dalam pernyataannya pada Rabu waktu setempat, Trump menyebut pembicaraan kedua negara berlangsung cukup baik.
“Kami telah berbicara dengan sangat baik sepanjang 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan,” kata Trump, dikutip Beritaprioritas.
Perkembangan ini menandai terbukanya kembali jalur diplomasi di tengah ketegangan yang masih berlangsung terkait isu nuklir dan konflik kawasan Timur Tengah. (P-Chris R)