
Tumpukan sabut kelapa sebelum diproses untuk ekspor disimpan di gudang Rumah Produksi Bersama (RPB) Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara (Sulut). (‘Courtest’ Antara Sulut/Kementerian UMKM)PRIORITAS, 6/5/26 (Jakarta): Satu lagi produk dari kelapa, yakni olahan sabut kelapa asal Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel), Sulawesi Utara (Sulut), menembus pasar internasional lewat ekspor perdana ke Guangzhou, China, belum lama ini.

Informasi yang diterima Beritaprioritas.com, Rabu (6/5/26), menyebutkan, UMKM di Minsel telah mengirimkan dua kontainer berisi coco fiber, husk chip, dan peat blok yang diolah melalui Rumah Produksi Bersama (RPB) Minahasa Selatan.
Adapun nilai transaksi mencapai Rp98,68 juta totalnya.
Bukti transformasi pengelolaan sumber daya lokal

Sementara itu, Asisten Deputi Produksi dan Digitalisasi Usaha Kecil Kementerian UMKM, Ali, dalam keterangan tertulis yang diterima belum lama ini, mengatakan, capaian tersebut menjadi bukti transformasi pengelolaan sumber daya lokal menjadi produk bernilai tambah tinggi dibanding sebelumnya.
“Prestasi ini menjadi momentum penting dalam memperkuat hilirisasi sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan daerah di pasar internasional,” ujar Ali, dikutip Antara.
Diketahui, Minahasa Selatan merupakan salah satu sentra produksi kelapa terbesar di Sulawesi Utara dengan luas perkebunan mencapai 46.451 hektare saat ini.
Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kelapa daerah ini mencapai 43.980 ton pada 2025 atau sekitar 16,4 persen dari total produksi Provinsi Sulut.
Produk UMKM yang ‘go international’
Selanjutnya Ali menjelaskan, sebelumnya petani umumnya hanya memanfaatkan bagian buah, tempurung, dan air kelapa saja.
Tetapi, Ali menyampaikan, melalui penguatan ekosistem usaha dan pendampingan dari Kementerian UMKM, sabut kelapa yang sebelumnya kurang dimanfaatkan kini diolah menjadi produk bernilai ekonomi dan berorientasi ekspor alias ‘go international’.
Dikatakan, potensi ekonominya pun disebut cukup besar. Berdasarkan catatan Kementerian UMKM, dari setiap 100 kilogram kelapa, dapat dihasilkan sekitar 25 kilogram sabut yang kemudian diolah menjadi 7,5 kilogram coco fiber dan 16 kilogram coco peat.
Adapun di pasar domestik, coco fiber dapat dijual hingga Rp40.000 per kilogram, sementara coco peat sekitar Rp13.000 per kilogram.
Diketahui, produk coco fiber memiliki beragam pemanfaatan, mulai dari perlengkapan rumah tangga, komponen industri dan otomotif, hingga media tanam dan material pelestarian lingkungan seperti geotekstil penahan erosi.
Guna mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah membangun Rumah Produksi Bersama (RPB) olahan kelapa di Minahasa Selatan pada 23 September 2022. Fasilitas ini memungkinkan proses produksi dilakukan secara terintegrasi, sehingga meningkatkan nilai tambah bagi petani dan pelaku UMKM setempat.
Adapun program RPB merupakan salah satu strategi Kementerian UMKM dalam mendorong manufaktur skala usaha mikro dan kecil berbasis komoditas unggulan daerah. Saat ini terdapat 16 lokasi RPB yang mengelola 12 jenis komoditas di berbagai wilayah di Indonesia.
Lewat RPB, pemerintah memberikan dukungan berupa fasilitas produksi, bantuan alat dan mesin, pendampingan teknologi dan manajemen, hingga perluasan akses pasar dengan pendekatan business to business guna memperkuat rantai nilai dan meningkatkan kesejahteraan pelaku UMKM kita. (P-*r/se)

