Eropa kembali ke batu bara, Bahlil: Indonesia diminta pasok 20 juta ton

Selvijn MJR
Selasa, 5 Mei 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 5/5/26 (Jakarta): Di tengah kesulitan global kini, energi fosil kembali jadi andalan. Terkait itu Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia mengungkapkan adanya permintaan batu bara mencapai 20 juta ton per tahun dari negara-negara Uni Eropa (UE) di tengah dinamika geopolitik global yang belum mereda saat ini.


Disebutnya, permintaan tersebut muncul saat sejumlah negara maju kembali membuka opsi penggunaan energi fosil lagi.

Namun sayangnya Bahlil tidak mengungkapkan kapan permintaan tersebut disampaikan dan negara di Uni Eropa yang meminati batu bara Indonesia ini.

“Sekarang Amerika buka opsi batu bara, di Eropa membuka opsi batu bara, ada minta kami untuk 20 juta per tahun,” ujar Bahlil dalam acara Sinergi Alumni IPB di Jakarta pada Sabtu, (2/5/26) akhir pekan lalu.


Ubah strategi energi

Selanjutnya Bahlil menyebut, kondisi global saat ini membuat banyak negara mengubah strategi energi mereka, termasuk yang mendorong transisi energi bersih sebelumnya.

Lalu, dalam situasi tersebut, Indonesia justru melihat peluang sekaligus tantangan dalam menjaga ketahanan energi nasional kita.

Dikatakannya, langkah negara-negara maju tersebut menunjukkan adanya inkonsistensi dalam agenda transisi energi global yang disepakati.

Yakni, di satu sisi mendorong negara berkembang untuk meninggalkan batu bara, namun di sisi lain justru kembali memanfaatkannya untuk kepentingan domestik mereka.

“Dia suruh kami pensiun, dia sendiri tidak pensiun-pensiun. Bagaimana ini net zero emission 2050 2060,” ujarnya lagi.

Indonesia negara kedua paling tahan krisis energi

Bahlil awalnya menyinggung publikasi JP Morgan Asset Management yang diklaim menempatkan Indonesia menjadi negara kedua yang paling tahan krisis energi global, salah satu faktornya langaran produksi dan cadangan batu bara Indonesia yang sangat besar saat ini.

Lalu, Bahlil menilai, keinginan Eropa tidak bisa direspons secara normatif.

Karenanya, kata Bahlil, pemerintah, memilih pendekatan realistis dengan tetap memanfaatkan sumber energi domestik demi menjaga stabilitas ekonomi dan keterjangkauan energi bagi masyarakat kita.

“Saya bilang ini model apa. Saya putuskan, saya bilang (PLTU-PLTU) batu bara jalan saja dulu. Ini bicara tentang survival mode, kami bicara tentang efisiensi. Jangan kami korbankan rakyat kami dengan harga listrik yang besar,” tegasnya lagi.

Tidak ingin terjebak dalam skema global

Ditambahkannya, Indonesia tidak ingin terjebak dalam skema global yang justru merugikan kepentingan nasional kita.

Karena itu, kebijakan energi akan disesuaikan dengan kebutuhan dalam negeri, bukan semata mengikuti tekanan eksternal lagi.

Kemudian dalam jangka panjang, demikian dikutip Kompas.com, pemerintah tetap mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan.

Tetapi dalam jangka pendek, pemanfaatan batu bara dinilai masih menjadi pilihan strategis untuk menjaga ketahanan energi dan stabilitas harga listrik di Indonesia. (P-*r/Kps/jr)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan