

detikcom/Al Mahfud.

PRIORITAS, 1/5/2026 (Manado): Stabilitas sosial di Manado kembali menjadi sorotan setelah kota ini keluar dari sepuluh besar dalam Indeks Kota Toleran (IKT) yang dirilis Setara Institute pada April 2026. Kondisi tersebut mendorong pembacaan ulang terhadap pemikiran Samsu Rizal Panggabean, akademisi dan praktisi resolusi konflik yang dikenal melalui kontribusinya dalam pendirian program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik di Universitas Gadjah Mada.
Dalam kajiannya yang terangkum dalam buku Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia, Rizal menyoroti posisi Manado pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, ketika berbagai konflik komunal melanda sejumlah wilayah Indonesia. Di tengah eskalasi kekerasan seperti Kerusuhan Sambas, Kerusuhan Poso, dan Kerusuhan Ambon, Manado berada dalam tekanan tinggi akibat kedekatan geografis dan arus pengungsi yang membawa trauma serta narasi konflik.
Selain faktor eksternal, dinamika internal seperti demonstrasi mahasiswa pada masa transisi dari rezim Orde Baru turut menambah potensi instabilitas. Prediksi meluasnya konflik bahkan sempat muncul, termasuk dari Presiden saat itu, Abdurrahman Wahid. Namun, Manado tetap relatif aman dari konflik terbuka.

Rizal mengidentifikasi tiga mekanisme utama yang berperan dalam menjaga stabilitas tersebut. Pertama adalah kontrol batas, yakni upaya kolektif untuk membangun identitas sosial yang menolak masuknya potensi konflik. Semboyan “Torang Samua Basudara” menjadi instrumen kultural yang diperkuat melalui komunikasi publik dan internalisasi di masyarakat.
Kedua, mekanisme koordinasi yang melibatkan berbagai aktor, baik pemerintah maupun masyarakat sipil. Peran Badan Kerja Sama Antar Umat Beragama (BKSAUA) menjadi contoh konkret melalui pertemuan rutin lintas agama serta respons cepat terhadap potensi konflik di masyarakat.
Ketiga, mekanisme penghubung (brokerage), yaitu perluasan jaringan kerja sama dengan melibatkan lebih banyak pihak. Pendekatan ini terlihat dalam penanganan konflik lokal, seperti insiden perkelahian pemuda pada 22 Januari 1999 yang berpotensi berkembang menjadi konflik antaragama, namun berhasil diredam melalui kolaborasi lintas elemen masyarakat.
Perkembangan terkini menunjukkan adanya tantangan baru dalam menjaga harmoni sosial di Manado. Penurunan peringkat toleransi memunculkan kebutuhan untuk menilai kembali efektivitas mekanisme lama dalam konteks sosial yang terus berubah. Sejumlah pertanyaan muncul terkait relevansi strategi kontrol batas, koordinasi lintas aktor, serta kekuatan nilai “Torang Samua Basudara” di kalangan generasi muda.
Pemikiran Rizal juga menonjol dari sisi pendekatan. Ia menitikberatkan pada relasi strategis antaraktor serta kondisi nirkekerasan sebagai objek studi. Pendekatan ini berbeda dari kecenderungan umum yang berfokus pada analisis konflik yang telah terjadi. Perspektif tersebut membuka ruang untuk memahami faktor-faktor yang menjaga perdamaian sebelum konflik muncul.
Pandangan ini diperkuat oleh Mohtar Mas’oed yang menilai Rizal sebagai intelektual publik yang menggabungkan kerja akademik dan praktik lapangan, termasuk dalam penanganan dampak konflik dan bencana di berbagai wilayah.
Situasi Manado saat ini menuntut perhatian serius guna mencegah potensi konflik di masa mendatang. Penguatan kembali nilai-nilai sosial, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas yang selama ini terbentuk. (P- Christivan Riung)

