Faktor lainnya adalah sistem pengaman tegangan tinggi atau High Voltage Interlock Loop (HVIL). Mekanisme ini akan secara otomatis menonaktifkan kendaraan apabila terdeteksi adanya gangguan, seperti kebocoran arus atau sambungan kabel yang tidak stabil.
“Jika ada kebocoran arus atau kabel tegangan tinggi longgar akibat guncangan, sistem akan melakukan emergency shut-off dalam hitungan milidetik,” imbuhnya.
Agus Purwadi menambahkan bahwa gangguan elektromagnetik di sekitar rel kereta api juga berpotensi memengaruhi kinerja kendaraan, meskipun kemungkinan terjadinya relatif kecil.
Di sisi lain, pakar otomotif ITB lainnya, Yannes Martinus Pasaribu, menilai bahwa mobil listrik modern pada umumnya telah dibekali sistem perlindungan yang mumpuni untuk menghadapi interferensi elektromagnetik.
“Secara teknis, potensi mobil listrik mati mendadak akibat medan elektromagnetik sangat kecil karena kendaraan sudah dilengkapi sistem pelindung dan lolos uji kompatibilitas,” jelasnya.
Dengan berbagai sistem proteksi tersebut, mobil listrik dinilai tetap aman digunakan, meskipun pengguna perlu memastikan kondisi sistem kelistrikan, terutama baterai 12 volt, tetap optimal. (P-*r/Zamir Ambia)