RI–Filipina kembali buka jalur Manado–Bitung–Davao: Sulut disiapkan jadi gerbang Pasifik

Sem Muhaling
Senin, 27 April 2026
4 menit membaca

Catatan: Semuel Muhaling

KERJA sama Indonesia dan Filipina di kawasan timur makin “panas”. Pemerintah kedua negara kini tancap gas memperkuat konektivitas jalur Manado–Bitung–Davao–General Santos (Gensan) yang dinilai jadi kunci baru pergerakan ekonomi lintas batas. Walaupun sebenarnya telah pernah ada dua program kerja sama Indonesia-FIlipina namun gagal dilakukan secara permanen.


“Dalam hal kerja sama ekonomi, kami sepakat untuk memperkuat kolaborasi, antara lain penyelesaian mata uang lokal dan sistem pembayaran QR yang lebih kuat,” kata Menteri Luar Negeri RI Sugiono dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Filipina Theresa Lazaro di Jakarta, Kamis (23/4/26).

Langkah ini bukan sekadar wacana. Jalur ini disiapkan sebagai urat nadi perdagangan dan mobilitas antara Sulawesi Utara dan Mindanao, dua wilayah yang secara geografis sangat dekat, tapi selama ini belum tergarap maksimal.

Manado-Bitung-Davao bukan lagi rencana, ini akselerasi

Pemerintah menegaskan penguatan konektivitas ini adalah bagian dari percepatan kerja sama subkawasan yang selama ini sudah berjalan.


Dengan jalur yang makin aktif, arus barang, jasa, hingga orang diproyeksikan bakal melonjak signifikan.

Sulut disiapkan jadi hub baru

Penguatan jalur ini sekaligus mengangkat posisi Sulawesi Utara—khususnya Manado dan Bitung—sebagai pintu masuk utama Indonesia ke Pasifik.

Tak lagi sekadar daerah perbatasan, Sulut didorong naik kelas menjadi hub ekonomi regional yang menghubungkan Indonesia dengan Filipina dan negara-negara Pasifik lainnya.

Dampak langsung ke Sulut: Perdagangan dan pariwisata ngebut

Efeknya langsung terasa di dua sektor utama yakni perdagangan lintas negara makin cepat dan efisien serta pariwisata berpotensi melonjak karena akses makin mudah.

Pelaku usaha pun diuntungkan karena rantai distribusi jadi lebih pendek dan biaya logistik bisa ditekan.

Tantangan jalur Bitung-Davao: Infrastruktur dan konsistensi

Meski peluang besar terbuka, pemerintah dihadapkan pada pekerjaan rumah: memastikan kesiapan infrastruktur, transportasi, dan sistem logistik. Tanpa itu, jalur strategis ini bisa mandek di tengah jalan.

Jalur baru cermin kawasan timur tak lagi pinggiran

Langkah agresif ini menjadi sinyal kuat bahwa kawasan timur Indonesia tak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran, melainkan frontline ekonomi baru.

Dengan konektivitas yang semakin terbuka, Sulawesi Utara berpeluang besar menjadi pemain utama dalam peta perdagangan kawasan.

Baca juga: Cegah flu burung, ratusan ayam asal Filipina dimusnahkan di Bitung

Kerja Sama lama Bitung-Davao

Diketahui pada tahun 1990-an pemerintah kota Bitung di bawah kepemimpinan wali kota Drs. S.H. Sarundajang, pernah melakukan kerja sama sebagai sister city dengan kota Davao.

Sebagai tanda untuk memperkuat kerja sama itu, pemerintah kota Bitung membangun monumen pahlawan nasional Filipina, Jose Rizal di Kelurahan Madidir Weru, Kecamatan Madidir, Kota Bitung, Sulawesi Utara. Namun disayangkan kerja sama ini tidak berlanjut dengan aksi nyata.

Pelayaran RORO Bitung-Filipina tahun 2017

Kerja sama kedua dilakukan pada tahun 2017. Pelayaran langsung Kapal RORO Bitung-Filipina (Davao/General Santos) diluncurkan pada 30 April 2017 untuk meningkatkan konektivitas perdagangan dan memangkas waktu tempuh dari 3 minggu menjadi hanya 1-2 hari.

Rute ini bertujuan meningkatkan ekspor-impor dan efisiensi logistik, meski sempat menghadapi kendala keberlanjutan operasional. Pelayaran Roro Bitung-Filipina (Davao/General Santos) resmi diluncurkan pada 30 April 2017 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Rute ini dilayani oleh MV Super Shuttle RORO 12 untuk meningkatkan konektivitas dan perdagangan, namun sempat beroperasi tidak maksimal.

Bitung-Davao

Kapal RORO asal Filipina MV Super Suttle yang pernah melayani pelayaran Bitung-Davao hanya mampu melayani beberapa kali kemudian berhenti.(‘Courtesy’ sulawesi.bisnis.com/Dok)

Peresmian dan peluncurannya dilakukan secara simbolis di Davao, Filipina. Sedangkan armada yang digunakan adalah MV Super Shuttle RORO 12 menjadi kapal pertama yang melayani rute ini. Tujuannya untuk meningkatkan efisiensi waktu tempuh ekspor dan impor.

Sebagai muatan perdana pelayaran dari Davao FIlipina ke Bitung, MV Super Suttle membawa muatan tepung terigu. pelayaran ini berhasil memangkas waktu tempuh dari biasanya melalui Manila yang bisa mencapai 2-3 minggu, menjadi hanya sekitar 1,5 hingga 2 hari.

Dalam kerja sama tersebut direncanakan frekuensi operasi kapal dua kali per bulan.

Namun dalam pelaksanaannya mengalami beberapa kendala utama seperti minimnya muatan ekspor-impor berkelanjutan, ketidakseimbangan arus barang dan frekuensi pelayaran yang tidak stabil (direncanakan 2 kali per bulan). Akibatnya, jalur ini hanya aktif beberapa kali sebelum akhirnya mengalami stagnasi.

Harapan baru kerja sama baru Bitung-Davao

Dengan adanya kerja sama terbaru antara pemerintah Indonesia dengan Filipina kali ini, diharapkan ada realisasi yang berkelanjutan. Tidak sekadar program kerja sama di atas kertas. (*)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan