
Tikus pembawa dan penular wabah pes. (Ist.)PRIORITAS, 14/4/26 (Jakarta): Masyarakat Indonesia diingatkan untuk waspada terhadap potensi kembalinya wabah pes di tanah air. Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan hal itu di Jakarta.

Dikatakan, meski dalam beberapa tahun terakhir tidak ditemukan kasus pada manusia, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menyebutkan adanya fenomena silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama namun masih berpotensi muncul kembali.
“Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Senin (13/4/26), seperti dilansir dari Antara Selasa (14/4/26).
Peneliti BRIN Ristiyanto menjelaskan, pes diduga masih berada dalam fase tersebut. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab serta vektor (hewan atau organisme pembawa penyakit) dan reservoir (inang alami tempat patogen/kuman hidup) masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia.

Vektor dan reservoir tersebut antara lain adalah hewan tikus dan pinjal (sejenis serangga parasit kecil tanpa sayap).

Pinjal, hewan kecil yang juga menjadi penular wabah pes. (Ist.)
Disebutkannya, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem, sehingga habitat tikus semakin mendekat ke permukiman manusia.
“Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri,” kata Ristiyanto.
Perubahan iklim
Sementara itu, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menyebutkan perubahan iklim turut berkontribusi terhadap peningkatan populasi pinjal sebagai vektor penyakit.
“Kombinasi perubahan lingkungan, keberadaan vektor dan reservoir, serta meningkatnya interaksi dengan manusia, menjadi faktor risiko utama yang perlu diwaspadai,” ucap Choirul.
Ia menegaskan tikus sebagai reservoir utama bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh hewan tersebut.
Diterangkan, meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, antara lain Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.
Choirul mengingatkan agar kondisi ini tidak dianggap sepele. Menurutnya, ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya.
Ia merekomendasikan, sebagai langkah antisipasi, dilakukan penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit.
Selain itu, peningkatan sanitasi lingkungan dan pemantauan wilayah bekas endemis juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah. (P-*/hdt)

