Konflik AS dan Iran picu harga tiket penerbangan internasional melonjak tajam

Zamir Ambia
Rabu, 4 Maret 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 4/3/26 (Jakarta): Konflik militer antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran memicu gangguan besar pada industri penerbangan global. Penutupan sejumlah bandara utama di Timur Tengah membuat rute penerbangan internasional terganggu serta memicu lonjakan harga tiket pesawat.

Bandara besar di kawasan Teluk seperti Dubai masih ditutup selama beberapa hari setelah serangan balasan Iran. Penutupan pusat transit penting tersebut memangkas kapasitas penerbangan global, terutama pada rute populer Asia menuju Eropa.

Data dari situs maskapai menunjukkan kursi pada sejumlah penerbangan sudah habis untuk beberapa hari ke depan. Lonjakan permintaan serta terbatasnya kapasitas membuat harga tiket melonjak tajam dalam waktu singkat.

Tiket yang mengalami kenaikan

Dikutip dari a, salah satu contoh kenaikan terlihat pada rute Hong Kong–London milik Cathay Pacific. Tiket kelas ekonomi satu arah tercatat mencapai sekitar HK$21.158 atau sekitar US$2.705 (sekitar Rp45 juta), jauh lebih tinggi dibanding tarif normal sekitar HK$5.054 pada periode biasa.

Kenaikan juga terlihat pada penerbangan Sydney–London milik Qantas. Maskapai tersebut menawarkan tiket ekonomi sekitar AUD 3.129 atau sekitar US$2.220 untuk satu perjalanan setelah banyak rute alternatif digunakan akibat penutupan wilayah udara Timur Tengah.

Maskapai harus mengalihkan jalur penerbangan untuk menghindari wilayah konflik. Perubahan rute membuat perjalanan lebih panjang serta meningkatkan konsumsi bahan bakar, sehingga biaya operasional maskapai ikut melonjak.

Selain menaikkan harga tiket, kondisi tersebut juga membuat banyak penumpang harus mencari jalur alternatif. Sebagian memilih transit melalui China, Singapura, atau Amerika Utara untuk mencapai Eropa.

Analis industri penerbangan menilai tarif penerbangan berpotensi terus naik jika konflik berlanjut. Selama wilayah udara Timur Tengah belum sepenuhnya dibuka, konektivitas global akan tetap terganggu dan biaya perjalanan udara cenderung lebih mahal. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025