‘28 Years Later: The Bone Temple’ sekte yang menjadikan sisa-sisa manusia sebagai simbol kekuasaan

Rebecca Wilhelmina T
Rabu, 14 Januari 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 14/1/26 (Jakarta): Mulai hari ini, Rabu (14/1/26) film sekuel “28 Years Later: The Bone Temple” bisa dinikmati penggemar film-film horor di Indonesia. Film tersebut diputar terbatas untuk media pada Selasa (13/1/26) di Jakarta.

“28 Years Later: The Bone Temple”  merupakan sekuel atau lanjutan dari film “28 Years Later” yang diproduksi pada Juni 2025 lalu oleh Columbia Pictures.

Dilansir dari “Production Notes” Columbia Picture, syuting sepenuhnya film ini dilakukan di sejumlah lokasi di Inggris.

Simbol kekuasaan

Film “28 Years Later: The Bone Temple” mengisahkan seorang pemuda bernama Spike yang tumbuh di dunia tanpa struktur sosial yang jelas. Ia hidup di tengah kekosongan nilai dan terseret ke dalam kelompok fanatik bernama Kuil Tulang (The Bone Temple), sebuah sekte yang menjadikan sisa-sisa manusia sebagai simbol kekuasaan.

Keberadaan sekte ini menjadi wajah baru ancaman dalam “28 Years Later The Bone Temple”, menegaskan bahwa film zombie ini lebih menyoroti kehancuran moral manusia.

Sekte “Kuil Tulang” dipimpin Sir Jimmy Crystal, sosok karismatik sekaligus kejam yang meyakini kekerasan sebagai fondasi tatanan baru. Melalui karakter ini, “28 Years Later: The Bone Temple” menggambarkan bagaimana ideologi dapat menjadi senjata paling mematikan di dunia pasca-apokaliptik.

Pendekatan tersebut menjadikan film zombie ini terasa lebih psikologis dan menekan.

Berbeda dari film zombie konvensional, ancaman terbesar dalam “28 Years Later: The Bone Temple” justru datang dari sesama penyintas. Generasi baru yang tumbuh tanpa empati digambarkan membangun sistem sosial yang brutal demi bertahan hidup.

Sinopsis film ini menegaskan bahwa kehancuran berkepanjangan melahirkan makna baru tentang kekuasaan, yang sering kali bersumber dari kekerasan.

Pemeran lintas generasi

Dari sisi produksi, “28 Years Later: The Bone Temple” diperkuat jajaran pemeran ternama lintas generasi. Kehadiran aktor-aktor berpengalaman menambah bobot dramatis dalam film zombie ini, sekaligus memperdalam konflik emosional yang dihadirkan.

Film yang disutradarai Nia DaCosta ini dibintangi Ralph Fiennes, Jack O’Connell, Alfie Williams, Erin Kellyman, dan Chi Lewis-Parry. Diproduseri oleh Andrew Macdonald, Peter Rice, Bernard Bellew, Danny Boyle, dan Alex Garland.

Skenario ditulis oleh Alex Garland. Produser Eksekutif adalah Cillian Murphy. Sutradara Fotografi adalah Sean Bobbitt, BSC. Desainer Produksi & Kostum adalah Gareth Pugh dan Carson McColl. Editor adalah Jake Roberts, ACE. Musik oleh Hildur Gudnadottir.

Saat Nia DaCosta mengambil alih kendali penyutradaraan dari Danny Boyle, ia memasukkan kisah baru ini dengan nuansa horor dan visinya sendiri yang lebih tinggi dan khas untuk dunia distopia ini.

Danny Boyle mengatakan, “Nia adalah pilihan yang tepat untuk menyutradarai The Bone Tempe. Alex Garland dan saya telah lama menjadi penggemar reinterpretasi ‘Candyman’ yang dibuatnya dan menyadari bahwa Nia memiliki kemampuan horor yang serius, dan kecintaan yang tulus pada film ‘28 Days Later’ yang asli.”

Sama-sama gila

Garland, yang menciptakan dunia ini bersama Boyle, kembali berperan sebagai penulis skenario. “28 Years Later adalah kisah besar, dan tidak bisa diceritakan dalam satu film,” katanya.

Nia DaCosta membalas dengan komentar yang menarik. “Yang menghubungkan kedua film ini adalah keduanya sama-sama gila, unik, dan merupakan karya seni yang personal,” kata DaCosta.

“Ketika pertama kali membahas film baru ini dengan Danny dan Alex, saya mengatakan kepada mereka, ‘Saya akan membuatnya menjadi karya saya sendiri. Saya tidak akan mencoba membuat ‘film Danny Boyle’,” ucap Nia.

Menurutnya, naskah Alex Garland dalam film garapannya ini sangat berbeda dengan “28 Years Later” sehingga cocok untuk pendekatan yang berbeda. “Saya benar-benar bisa memberikan sentuhan pribadi saya di dalamnya – untuk mengekspresikan sisi gila saya – dan berpetualang secara visual serta memadukannya dengan pembuatan film yang lebih klasik,” tambahnya.

“Sejak awal, Nia memberi tahu Danny dan saya bahwa kamera tidak akan bergerak seperti cara Danny menggerakkan kamera, dan tidak akan diedit seperti cara Danny memotong,” Garland menegaskan.

“Itu sangat mengesankan bagi Danny karena naluri kebanyakan orang akan meniru gayanya, dan Nia tidak melakukan itu. Itu mengesankan dan cerdas. Filmnya cukup berbeda, dan itu hal yang baik,” ujarnya.

“Kita memiliki Jimmy Crystal dan para pengikutnya serta dunia mereka, dan Kelson serta dunianya,” DaCosta menjelaskan. “Spike bergerak di antara keduanya, jadi menarik untuk memiliki gaya pembuatan film yang berbeda untuk setiap karakter.”

Jejak DaCosta termasuk memperdalam perjalanan emosional Kelson, Spike, dan Jimmy Crystal, sambil mengungkap lebih banyak tentang yang terinfeksi – dan kemungkinan mengubah dunia dengan mencoba membatalkan wabah tersebut. (P-rwt)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025