12.000 pendemo Iran tewas dibantai diduga atas perintah Ayatollah Ali Khamenei

Jeffry Wuisan
Selasa, 13 Januari 2026
INTERNASIONAL 0 1098
4 menit membaca

PRIORITAS, 13/1/26 (Teheran): Laporan sangat mengejutkan datang dari Iran. Sebanyak 12.000 pengunjukrasa tewas dibantai aparat keamanan Iran diduga kuat atas perintah pemimpin rezim Ayatollah Ali Khamenei.

“Setidaknya 12.000 orang tewas selama dua malam berturut-turut, 8 dan 9 Januari. Ini pembantaian terbesar dalam sejarah kontemporer Iran”, lapor media Iran International seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Selasa (13/1/2026).

Menurut media tersebut, data korban tewas itu berdasarkan peninjauan informasi dari orang dalam pemerintah Iran, anggota Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), petugas medis, dan para saksi mata.

“Angka-angka ini dipublikasikan setelah verifikasi yang cermat dan bertahap serta sesuai dengan standar jurnalistik profesional”, jelas Iran International.

Sesuai informasi dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Administrasi Kepresidenan, Garda Revolusi di beberapa kota, pembantaian ini dilakukan atas perintah langsung pemimpin rezim Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Hal itu sepengetahuan dan persetujuan eksplisit dari kepala ketiga cabang pemerintahan Iran dan melalui perintah langsung untuk menembak para pengunjukrasa.

Salahsatu media internasional, BBC juga mengutip klaim korban jiwa massal dalam protes di Iran tersebut,

BBC melaporkan klaim lebih dari 10.000 kematian, dengan tuduhan aparat keamanan Iran menggunakan senjata otomatis AK-47 untuk menembak demonstran tak bersenjata.

Mayat-mayat para demonstran menumpuk di sejumah tempat. Namun BBC mengakui angka-angka tersebut belum diverifikasi.

Keluarga berdiri di samping mayat seorang pendemo di Iran yang hanya dibungkus plastik terpal dan diletakkan di atas tanah. (@mehmedclanbekli1)

 

Pemadaman listrik dan internet

Pembantaian terhadap belasan ribu pendemo di Iran itu, disebutkan terjadi saat rezim Iran sengaja melakukan pemadaman listrik dan internet.

“Pemadaman itu tampaknya bertujuan tidak hanya untuk menjaga kendali keamanan,  tetapi juga untuk menyembunyikan skala kekerasan”, kata Iran International.

Media tersebut menulis telah fokus pada verifikasi informasi untuk membangun gambaran yang lebih jelas tentang skala penindasan dan pembunuhan selama protes terbaru.

Pada hari Minggu (11 Januari 2026), banyak  bukti dan konvergensi laporan independen telah mencapai titik yang memungkinkan penilaian yang kredibel.

Selama dua hari terakhir, dewan redaksi Iran International melakukan tinjauan multi-tahap yang ketat sesuai dengan standar jurnalistik profesional.

Materi yang diperiksa termasuk informasi dari sumber yang dekat dengan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dua sumber di dalam kantor kepresidenan, laporan dari berbagai sumber di dalam Korps Garda Revolusi Islam di Mashhad, Kermanshah, dan Isfahan.

Informasi lain berasal kesaksian dari saksi mata dan keluarga korban yang tewas, laporan lapangan, data yang terkait dengan pusat-pusat medis, serta informasi yang diberikan para dokter termasuk perawat di beberapa kota di Iran.

Berdasarkan tinjauan itu, Iran International menyimpulkan peristiwa tersebut merupakan pembunuhan massal terbesar dalam sejarah kontemporer Iran, dengan menewaskan setidaknya 12.000 orang, terutama selama dua malam berturut-turut, Kamis dan Jumat, 8 dan 9 Januari 2026.

“Dari segi cakupan geografis, intensitas kekerasan, dan jumlah kematian dalam jangka waktu singkat, pembunuhan ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Iran,” tulis media tersebut.

Sejumlah aparat keamanan Iran membawa senjata api berjalan di pusat kota saat terjadi aksi protes besar-besaran terhadap pemerintah. (iranint’l)

 

Ditembak pasukan IRGC

Berdasarkan informasi yang ditinjau, para korban sebagian besar ditembak pasukan pengawal Ali Khamenei, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan Basij.

Kekerasan tersebut terorganisir dan sistematis, bukan akibat dari bentrokan sporadis atau tidak terencana. Banyak dari mereka yang tewas adalah anak muda di bawah usia 30 tahun.

Di bawah blokade komunikasi saat ini dan tanpa akses langsung ke informasi, konfirmasi angka akhir akan membutuhkan dokumentasi lebih rinci.

Pengalaman dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan badan-badan keamanan Iran secara konsisten menahan informasi dan menghindari pencatatan atau publikasi angka korban yang akurat.

Iran International menyatakan akan terus menyempurnakan angka pembunuhan teradp 12.000 pendemo ini,  dengan bantuan publik melalui pengumpulan dokumentasi, pengecekan silang antar keterangan, dan verifikasi informasi secara berkelanjutan.

Tujuannya  untuk memastikan tidak ada korban yang terlupakan dan tidak ada keluarga yang tidak didengar suaranya.

 

Media dibungkam

Sejak dulu di dalam Iran, semua media massa telah dibungkam secara efektif.

Hal yang sama terjadi sejak hari Kamis lalu (8 Januari 2026) ratusan surat kabar nasional dan lokal Iran, menghentikan operasinya serentak.

Pada saat itu adalah tanggal dimulai aksi protes besar-besaran di seluruh Iran dan berlangsung dua hari sampai 9 Januari 2026, setelah ada himbauan dari pangeran Reza Pahlevi di pengasingan agar masyarakat turun ke jalan.

Selain stasiun televisi pemerintah, hanya segelintir situs web berita yang tetap aktif, semuanya beroperasi di bawah sensor dan pengawasan keamanan langsung pemerintah Iran.

Iran International berencana untuk mempublikasikan temuannya secara lengkap dan memberikannya kepada badan dan lembaga internasional yang relevan.

“Republik Islam tidak dapat menyembunyikan kejahatan ini dengan memutus hubungan rakyat Iran dari dunia. Kebenaran akan didokumentasikan, nama-nama korban tewas akan diabadikan, dan pembantaian ini tidak akan dikubur dalam keheningan”, tegas Iran International. (P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025