
Pelatih Real Madrid Zinedine Zidane berbincang dengan Alvaro Odriozola dan Marco Asensio pada laga leg pertama semifinal Liga Champions melawan Chelsea di Stadion Alfredo Di Stefano, Valdebebas, Madrid, Selasa (27/4/21). (Courtesy: Getty Images)PRIORITAS, 16/1/26 (Madrid): Mantan pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane kembali berbicara soal pengalamannya menangani Los Blancos. P

ernyataan itu muncul di saat Madrid sedang berada dalam fase sulit setelah memutus kerja sama dengan Xabi Alonso di tengah musim dan menunjuk Alvaro Arbeloa sebagai pengganti.
Zidane merupakan sosok sentral dalam periode tersukses Madrid di era modern. Dalam dua periode kepelatihannya, pria asal Prancis itu mempersembahkan tiga gelar Liga Champions dan dua trofi LaLiga.
Dalam wawancara di kanal YouTube milik Hamidou Msaidie, salah satu stafnya saat di Madrid, Zidane menegaskan fondasi utama kesuksesan bukan terletak pada taktik semata, melainkan pada cara pelatih memosisikan diri di hadapan para pemain.

Zidane menyebut pelatih harus hadir sepenuhnya untuk pemain jika ingin bertahan lama di level tertinggi.
“Di Real Madrid, kami menempatkan diri untuk para pemain. Bagi saya, itulah yang membuat sesuatu menjadi kuat, Anda ada untuk pemain. Jika Anda tidak memahami itu, Anda tidak akan bertahan di profesi ini,” kata Zidane, seperti melansir Goal.com, Jumat (16/1/26).
Ia menambahkan, dukungan pelatih kepada pemain harus terasa nyata, bukan sekadar formalitas.
“Kami ada untuk mendukung mereka dan menunjukkan bahwa kami selalu ada untuk mereka. Pelatih harus bisa membuat pemain merasa didukung setiap saat,” lanjutnya.
Menurut Zidane, penerimaan ruang ganti menjadi faktor krusial agar ide dan metode kepelatihan bisa berjalan efektif.
“Agar ruang ganti menerima apa yang ingin kami terapkan, para pemain harus menyukai kami. Jika mereka tidak sepakat dengan latihan, metode, dan semua yang diterapkan, akan selalu ada yang kurang,” ujarnya.
Zidane menilai atmosfer positif di ruang ganti Madrid saat itu menjadi pembeda utama.
“Bersama kami, para pemain benar-benar menikmati semuanya. Mereka menikmati prosesnya di semua level,” kata Zidane.
Ia juga mengungkap kondisi tim yang sempat mengalami masa sulit sebelum akhirnya kembali mendominasi Eropa.
“Mereka sempat melalui periode yang berat dan perlu mengembalikan kepercayaan diri, kondisi fisik, dan segalanya. Kami membangun kerangka agar semua itu bisa kembali,” tutur Zidane.
Menurut Zidane, ketika pemain merasa bahagia dan kompetitif, hasil besar akan mengikuti.
“Ketika seorang pemain kompetitif, senang berlatih, dan bahagia bermain, Anda pasti bisa memenangi tiga Liga Champions,” ucapnya.
Pernyataan Zidane itu kontras dengan kondisi Real Madrid saat ini. Klub memecat Xabi Alonso setelah kurang dari delapan bulan menjabat, menyusul kekalahan dari Barcelona di final Piala Super Spanyol.
Manajemen Madrid menyebut keputusan tersebut diambil berdasarkan kesepakatan bersama, sembari menegaskan Alonso tetap menjadi bagian dari keluarga besar klub.
Sementara itu, era Alvaro Arbeloa di Madrid belum berjalan mulus. Pada laga debutnya, Los Blancos tersingkir dari Copa del Rey setelah kalah 2-3 dari Albacete, hasil yang langsung memunculkan tekanan besar terhadap pelatih anyar tersebut. (P-Khalied M)

