
Seorang tentara muda Rusia yang saat ini ikut berperang di satu wilayah di Ukraina. Ratusan ribu tentara Rusia disebutkan mengalami stres akibat perang (ho/tass)PRIORITAS, 5/8/26 (Moskow): Seorang tentara Rusia yang diduga mengalami tekanan mental (stres) akibat perang, menembak mati seorang rekannya dan tiga warga sipil di wilayah Krimea.

“Empat orang tewas di desa Khmelnitskoye”, kata gubernur kota Sevastopol di Krimea selatan yang ditunjuk Rusia, Mikhail Razvozhayev.
Menurut surat kabar Rusia, The Moscow Times, seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Rabu (5/8), prajurit itu pertama kali melepaskan tembakan ke arah rekan-rekannya, menewaskan satu orang dan melukai satu lainnya.
Seorang pejabat mengatakan tentara itu kemudian mengarahkan senjatanya ke warga sipil, menewaskan tiga orang, di desa Khmelnytske.

Para korban warga sipil adalah dua pria, berusia 71 dan 59 tahun, serta seorang wanita berusia 64 tahun.
Empat orang lainnya, termasuk seorang tentara, terluka.
Razvozhayev mengatakan petugas medis melakukan segala upaya untuk menyelamatkan mereka.
Mabuk minuman keras
Media berita pengasingan Agentstvo, mengutip tangkapan layar dari grup obrolan lokal, mengklaim telah mengidentifikasi tentara terduga pelaku penembakan itu sebagai Maxim Alistratov (21 tahun), dari wilayah Saratov di Rusia selatan.
Moscow Times tidak dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.
Grup obrolan tersebut memperingatkan warga tentara itu sempat melarikan diri ke hutan setelah menembak rekan-rekan prajuritnya.
Gubernur Sevastopol, mengatakan pelaku penyerangan telah ditangkap.
“Semua keadaan dan penyebab insiden tersebut sedang diselidiki,” kata Razvozhayev, seraya mendesak masyarakat untuk tetap tenang dan tidak menyebarkan rumor.
Laporan lain menyebutkan peristiwa di dekat Sevastopol itu sebenarnya seorang tentara Rusia mabuk minuman keras dan melepaskan tembakan ke arah rekan-rekan sesama tentaranya.
Ia kemudian mengarahkan senjatanya ke arah warga sipil, dan membunuh tiga orang.
Belum jelas apakah jumlah korban tewas diperkirakan akan meningkat.
Tingkat stres tinggi
Berdasarkan laporan ahli, studi rumah sakit, dan estimasi resmi Rusia sendiri,
tingkat stres termasuk PTSD, kecemasan, depresi, insomnia, dan masalah terkait di kalangan tentara Rusia yang terlibat dalam perang Ukraina cukup tinggi.
Pejabat Rusia, Anna Tsivilyova, wakil menteri pertahanan yang mengurus veteran menyatakan sekitar 20% tentara yang pulang mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) atau gangguan stres pascatrauma, sesuai laporan FPRI.org
PTSD adalah gangguan mental yang muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis yang sangat buruk seperti perang.
Pada 2023 sudah disebut sekitar 100.000–150.000 tentara Rusia yang pulang perang membutuhkan bantuan psikologis profesional. Angka aktual bisa lebih dari 200.000 seiring berlanjutnya perang dengan Ukraina.
Studi di Rumah Sakit Psikiatri No. 1 Moskow (140 tentara, 2023–2024) sekitar setengah didiagnosis PTSD saat masuk.
Gejala umum kecemasan (75%), depresi (51%), insomnia (48%). Setelah perawatan, sekitar 18,6% masih PTSD.
Sisanya diklasifikasikan ulang sebagai gangguan organik akibat cedera otak, gangguan afektif, delusi/schizotypal, atau ketergantungan alkohol.
Krimea milik Ukraina
Wilayah Krimea sebenarnya milik Ukraina yang dianeksasi Rusia dari Ukraina pada tahun 2014.
Daerah ini adalah semenanjung strategis dan sangat termiliterisasi di Laut Hitam.
Aneksasi tersebut ditolak komunitas internasional dan dianggap sebagai tanah Ukraina yang diduduki.
Hingga kini Ukraina masih menargetkan wilayah tersebut termasuk markas atau pos-pos tentara Rusia, dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal.(P-*/jw).

