Teheran berduka, Ali Khamenei tewas dalam serangan operasi militer AS-Israel

Zamir Ambia
Minggu, 1 Maret 2026
2 menit membaca

PRIORITAS, 1/3/26 (Jakarta): Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dikabarkan tewas akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Tehran pada 28 Februari 2026. Media pemerintah Iran kemudian mengonfirmasi kematiannya pada dini hari 1 Maret 2026 setelah sebelumnya Presiden AS Donald Trump mengumumkan hal serupa.

Pemimpin tertinggi Iran itu meninggal pada usia 86 tahun. Lembaga berita resmi Iran melaporkan putri, menantu, serta cucunya turut tewas dalam serangan udara tersebut. Presiden AS Donald Trump menyatakan tokoh tersebut dan pejabat tinggi Iran tidak mampu menghindari sistem intelijen serta serangan canggih Amerika Serikat.

Selama 37 tahun memimpin Iran, ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini sejak 1989. Masa kepemimpinannya memainkan peran besar dalam memadukan agama dan politik ke dalam struktur negara serta penguatan institusi militer.

Di bawah kendalinya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berkembang menjadi institusi kunci dalam ranah politik, ekonomi, dan pertahanan Iran. Pemerintahannya juga menekankan konsep ekonomi perlawanan sebagai respons terhadap sanksi dan tekanan Barat.

Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei pernah menjabat presiden Iran dalam konflik panjang melawan Irak pada 1980-an. Perang itu memperdalam permusuhan terhadap AS dan Barat dalam politik luar negeri Iran selama beberapa dekade.

Di dalam negeri, kebijakan Khamenei sering kontroversial. Pemerintahannya menghadapi protes besar, termasuk pada 2009 dan gelombang protes nasional pada 2022, yang ditanggapi dengan tindakan keras aparat keamanan.

Tantangan besar dalam tahun terakhir

Kritik terhadap pemerintahannya mencakup tuduhan pembatasan kebebasan dan ketidakpekaan terhadap aspirasi generasi muda. Protes sosial dan ekonomi menandai tantangan besar dalam beberapa tahun terakhir masa jabatannya.

Kekuasaan Khamenei meluas melalui pembangunan jaringan pengaruh luar negeri termasuk dukungan ke kelompok proksi di wilayah seperti Lebanon dan Irak. Strategi tersebut memperkuat posisi Iran dalam konflik regional.

Kematian Khamenei menimbulkan dampak besar bagi Iran dan geopolitik kawasan, termasuk kekosongan kepemimpinan dan potensi perubahan dalam arah politik negara setelah hampir empat dekade berada di puncak kekuasaan. (P-Zamir)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025