

PRIORITAS, 10/4/2026 (Jakarta): Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena yang disebutnya sebagai “inflasi pengamat”, yakni banyaknya pihak yang memberikan analisis di berbagai bidang tanpa didukung latar belakang keilmuan dan data yang akurat.

Pernyataan itu disampaikan Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (10/4/2026). Ia menilai, sejumlah pengamat kerap menyampaikan pandangan yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan.
“Sekarang ini ada fenomena inflasi pengamat. Banyak pengamat berbicara di luar bidangnya, bahkan datanya tidak sesuai fakta,” ujarnya.
Menurut Teddy, fenomena tersebut bukan hal baru dan telah berlangsung sejak sebelum Prabowo Subianto menjabat sebagai Presiden. Ia menilai, sebagian pihak berupaya membentuk opini publik melalui narasi yang tidak berbasis data.

Ia juga menyinggung tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo yang dinilai tetap tinggi. Berdasarkan data resmi Komisi Pemilihan Umum, pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka meraih 96.214.691 suara pada Pemilu 2024.
“Faktanya, lebih dari 96 juta warga memberikan kepercayaan kepada Pak Prabowo. Itu bukti nyata, bukan asumsi,” katanya.
Meski demikian, Teddy menegaskan pemerintah tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai pihak. Namun, ia mengingatkan agar kritik disampaikan secara konstruktif dan tidak menimbulkan keresahan di masyarakat.
Ia juga memastikan kondisi nasional saat ini berada dalam keadaan stabil dan terkendali. Pemerintah, lanjutnya, akan terus berupaya menyempurnakan berbagai kebijakan demi memenuhi harapan publik.
“Tentu belum sempurna. Kami terima kritik dan masukan, dan akan terus kami maksimalkan secepat mungkin,” pungkasnya. (P-*/bwl)

