Tentara AS siap tempur
(‘Courtessy’ CNBC Indonesia/Reuters)PRIORITAS, 29/3/26 (Jakarta): Dilansir berbagai sumber internasional, sebanyak lebih dari 3.500 tentara Amerika Serikat (AS), termasuk kapal induk USS Tripoli yang mengangkut sekitar 2.500 personel Marinir, telah tiba di Timur Tengah pada Sabtu, (28/3/26), demikian informasi yang diterima Beritaprioritas.com, Minggu (29/3/26) siang.
Adapun kedatangan bala bantuan militer besar-besaran ini terjadi di tengah serangan yang kian intensif dalam perang Iran yang terus memanas.
Sebagaimana dinyatakan
Komando Pusat AS (CENTCOM) dalam unggahan media sosial, USS Tripoli, yang menjadi kapal bendera bagi Tripoli Amphibious Ready Group / 31st Marine Expeditionary Unit, telah tiba di area tanggung jawabnya. Kapal perang amfibi ini merupakan versi paling mutakhir dari jenis kapal “big deck”, yang memberikan ruang lebih luas bagi jet tempur siluman F-35, pesawat Osprey, serta pesawat tempur lainnya yang canggih.
Diketahui, kapal tersebut sebelumnya berbasis di Jepang sebelum akhirnya menerima perintah pengerahan ke Timur Tengah hampir dua pekan lalu.
Bawa peralatan tempur
Selanjutnya CENTCOM menjelaskan, selain pasukan Marinir, Tripoli juga membawa seabrek peralatan tempur seperti pesawat angkut dan jet tempur serang, serta aset serbuan amfibi.
Kemudian kapal USS Boxer dan dua kapal lainnya beserta unit ekspedisi Marinir lainnya juga telah diperintahkan dari San Diego menuju wilayah tersebut.
Gempur 11.000 target
Adapun eskalasi serangan udara juga dilaporkan terus meningkat tajam sejak dimulainya operasi militer besar-besaran.
Sebab, berdasarkan lembar fakta yang dirilis CENTCOM pada hari Sabtu, lebih dari 11.000 target telah digempur sejak Operasi Epic Fury resmi dimulai pada 28 Februari 2026 lalu.
Seperti dinyatakan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, yang memberikan pernyataan terkait strategi militer Washington pada hari Jumat lalu, menegaskan, Amerika Serikat dapat mencapai tujuannya di kawasan tersebut tanpa harus melibatkan pengerahan pasukan darat.
“Amerika Serikat dapat memenuhi tujuannya tanpa pasukan darat mana pun. Namun, Presiden Trump harus bersiap untuk berbagai kemungkinan dan pasukan Amerika tersedia untuk memberikan pilihan maksimal bagi presiden serta kesempatan maksimal untuk menyesuaikan diri dengan kemungkinan-kemungkinan yang muncul jika hal itu terjadi,” tambahnya.
Sepuluh personel Amerika terluka
Diketahui, pengerahan pasukan ini merupakan respons atas serangan Iran yang sebelumnya melukai personel Amerika.
Dilaporkan, setidaknya 10 tentara AS, termasuk dua orang yang terluka parah, mengalami cedera saat Iran menembakkan enam Rudal Balistik dan 29 drone ke pangkalan udara Pangeran Sultan di Arab Saudi, tetangganya.
Adapun perang yang terus mengganas ini telah mengacaukan penerbangan sipil global, mengganggu ekspor minyak, dan memicu lonjakan harga bahan bakar. Blokade Iran terhadap Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis, telah memperburuk dampak ekonomi dunia.
Bahkan kondisi semakin rumit setelah pemberontak Houthi yang didukung Iran menyatakan bergabung dalam peperangan pada hari Sabtu. Kelompok tersebut mengeklaim telah meluncurkan serangan Rudal ke wilayah Israel yang menurut otoritas setempat berhasil dicegat di udara.
Adapun Juru bicara militer Houthi, Brigadir Jenderal Yahya Saree, menyatakan dalam pesan rekaman yang disiarkan televisi Al-Masirah, pihaknya telah meluncurkan serangan kedua ke Israel. Saree menyebut serangan ke Israel selatan itu dilakukan bersamaan dengan serangan dari Iran dan Hizbullah, meski ia tidak merinci kepastian lokasinya.
Disebutkan, keterlibatan Houthi dikhawatirkan akan merusak jalur pengiriman barang global jika mereka kembali menargetkan kapal-kapal di Selat Bab el-Mandeb. Analis senior Yaman di International Crisis Group, Ahmed Nagi, memperingatkan, peningkatan serangan terhadap perkapalan komersial akan mendorong kenaikan harga minyak dan mengganggu stabilitas keamanan maritim.
“Dampaknya tidak akan terbatas pada pasar energi saja,” lanjutnya.
Diketahui, akibat penutupan Selat Hormuz, banyak negara kini berebut mencari rute alternatif untuk pengiriman komoditas. Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Semenanjung Arab menjadi jalur krusial bagi kapal menuju Terusan Suez, di mana Arab Saudi kini mengirimkan jutaan barel minyak mentah per hari melalui jalur ini.
Tambahan informasi, sekitar 12 persen perdagangan dunia dan 10 persen perdagangan maritim global-termasuk 40 persen lalu lintas kapal kontainer-melewati Terusan Suez setiap tahunnya. Ancaman Houthi sangat nyata mengingat antara November 2023 hingga Januari 2025, mereka telah menyerang lebih dari 100 kapal dagang dan dua di antaranya ditenggelamkan.
Trump beri tenggat waktu
Sampai kini, ketegangan politik antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu. Presiden Donald Trump telah memberikan tenggat waktu kepada Iran hingga 6 April untuk membuka kembali Selat Hormuz, namun pihak Iran bersikeras tidak akan melakukan negosiasi.
Sementara utusan Trump, Steve Witkoff, sebagaimana dilansir CNBC Indonesia, mengungkapkan, Washington telah menyampaikan 15 poin “daftar tindakan” kepada Iran untuk gencatan senjata, termasuk pembatasan program nuklir.
Tetapi, Teheran menolak proposal tersebut dan justru mengajukan lima poin tuntutan balik yang mencakup pembayaran reparasi serta pengakuan kedaulatan Iran atas jalur perairan itu. (P-*r/jr)