Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan Doktrin Monroe sebagai strategi dominasi AS di belahan bumi barat.(whitehouse)PRIORITAS, 9/1/26 (Jakarta): Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman akan menggelar operasi militer berskala besar terhadap Nigeria. Ancaman itu muncul menyusul eskalasi kekerasan yang menargetkan komunitas Kristen di negara Afrika tersebut.
Amerika Serikat juga kembali menegaskan kehadiran dan sikap militernya di kawasan Afrika. Trump menyatakan Nigeria berpotensi menjadi sasaran sejumlah aksi militer apabila kelompok teroris ISIS terus melancarkan pembunuhan terhadap warga Kristen di wilayah itu.
“Jika mereka tidak berhenti membunuh umat Kristen, serangan akan dilakukan berkali-kali,” imbuh Trump dalam wawancara bersama The New York Times.
Kendati demikian, Trump menegaskan lebih memilih penyelesaian melalui satu operasi besar yang bersifat menentukan.
Ancaman tersebut tidak hanya sebatas pernyataan politik. Pada 25 Desember 2025, Amerika Serikat telah melancarkan serangan mematikan ke markas ISIS di wilayah barat laut Nigeria.
Komando Afrika Amerika Serikat (Africom) menyebutkan, serangan udara itu dilaksanakan atas permintaan resmi Pemerintah Nigeria untuk menekan perluasan aktivitas sel teroris.
Sinyal kesiapan tempur
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth turut menegaskan sinyal kesiapan tempur tersebut. Ia menyatakan militer Amerika Serikat sedang menyiapkan langkah lanjutan yang akan dijalankan pada saat yang dianggap tepat. Peningkatan aktivitas militer ini menjadi bagian dari doktrin baru AS untuk melindungi kelompok minoritas di wilayah konflik.
Mengacu pada laporan tahunan World Watch List 2025 yang dirilis organisasi Open Doors, Nigeria berada di posisi ketujuh sebagai negara dengan tingkat penganiayaan terhadap umat Kristen paling tinggi di dunia. Dalam setahun terakhir, tekanan dari komunitas internasional terhadap pemerintah Abuja pun semakin meningkat.
Merespons sorotan global, majelis tinggi parlemen Nigeria telah membentuk komite khusus pada Oktober lalu. Komite ini ditugaskan untuk mengevaluasi kondisi keamanan nasional dan meredam kekhawatiran dunia internasional atas krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung. Intervensi militer AS diperkirakan akan memengaruhi stabilitas kawasan dan pola penanganan terorisme di Afrika Barat. (P-Zamir)