Sekilas kenangan Theo Sambuaga bersama sahabat Max Wilar, S.Th., M.Th.

Johanes Christiaan
Kamis, 5 Februari 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 5/2/2026 (Jakarta): Saya berteman dengan Max Wilar sejak tahun 1970. Saat itu Max menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta di Jalan Proklamasi, sementara saya kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI).

Pada masa itu, kami sama-sama aktif di IPMMD (Ikatan Pelajar Mahasiswa Minahasa di Jakarta), yang kemudian berkembang menjadi IPPMMD dengan penambahan unsur pemuda. Saya dipercaya sebagai Ketua Rayon Menteng, lalu menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat IPMMD menggantikan Freddy Rorimpandey, dengan Max Wilar sebagai salah satu ketua.

Awal tahun 1970-an menjadi masa penting bagi gerakan anak-anak muda Kawanua di Jakarta. Kami termasuk generasi yang mendorong terbentuknya KKK (Kerukunan Keluarga Kawanua), sebuah wadah besar yang menghimpun berbagai organisasi Kawanua.

Proses pembentukan KKK diawali dengan diskusi-diskusi intensif yang dipimpin oleh almarhum Oom Yan Walandouw bersama para tokoh Kawanua lainnya, bertempat di kantornya di Jalan Tanah Abang Timur, Jakarta Pusat. Kami aktif terlibat dalam diskusi-diskusi tersebut dan mendorong percepatan pembentukan KKK.

Bahkan, melalui IPMMD—termasuk Max Wilar dan Willy Rawung—kami berinisiatif mendorong pertemuan dan rekonsiliasi dua tokoh besar Kawanua saat itu, yakni Oom Alex Kawilarang dan Oom Ventje Sumual, yang pada waktu itu belum dapat bertemu. Upaya ini dilakukan dengan mengadakan kegiatan evangelisasi di rumah Oom Alex Kawilarang di Jalan Situbondo, Menteng, serta di rumah Oom Ventje Sumual di Jalan Jambu, Menteng.

Dalam kesempatan tersebut, kami menghimbau dan mendorong kedua tokoh untuk bersatu demi memperkuat upaya pembentukan KKK.

Upaya tersebut membuahkan hasil. Kedua tokoh akhirnya bersatu, dan KKK resmi terbentuk dengan Oom Yan Walandouw sebagai Ketua Umum, sementara Oom Alex Kawilarang dan Oom Ventje Sumual dipercaya sebagai Penasehat.

Di awal tahun 1970-an pula, Max Wilar aktif dalam berbagai gerakan mahasiswa, antara lain yang dipimpin Arif Budiman—senior Max di STT—yang memprotes pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Pada tahun 1971, Max bersama rekan-rekannya dari kelompok Mahasiswa Menuntut melakukan demonstrasi menentang pembangunan TMII dengan membuka pos berhari-hari di depan halaman Markas Polda Metro Jaya di Jalan Sudirman.

Pada tahun yang sama, saya memimpin sekitar 25 orang delegasi Pengurus IPMMD—termasuk Max Wilar dan Willy Rawung—mendatangi rumah Gubernur Sulawesi Utara dan Tengah (Suluttenggo) saat itu, Mayjen TNI H.V. Worang, di Jalan Teluk Betung, Jakarta Pusat. Aksi tersebut dilakukan untuk memprotes kebijakan gubernur yang memberikan bantuan keuangan bagi pembangunan TMII.

Setelah pernyataan protes dibacakan di hadapan pejabat yang mewakili gubernur—karena gubernur tidak berkenan menemui kami—kami justru dihardik oleh para pengawal dan diminta segera meninggalkan lokasi. Dalam insiden itu, Max Wilar sempat dipukul dengan pentungan oleh salah satu Staf Pribadi Gubernur.

Pasca peristiwa tersebut, kami kembali aktif di kampus masing-masing, terus menggelorakan gerakan mahasiswa yang konsisten menuntut pemerintah agar melaksanakan pembangunan nasional yang adil dan merata.
(Theo Sambuaga – TLS, 5 Februari 2026)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025