Jessie Manopo, Doktor Termuda ITB 2025. (Dok. itb.ac.id)PRIORITAS, 13/11/25 (Bandung): Pada momen wisuda Institut Teknologi Bandung (ITB) Oktober 2025 di gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB, Bandung, Jawa Barat, Jessie Manopo menjadi salah satu pusat perhatian di antara 2.942 wisudawan saat itu. Di usianya yang baru 25 tahun 10 bulan, Jessie menjadi wisudawan Doktor (S3) Termuda dengan meraih gelar bergengsi di bidang Fisika dengan predikat “Summa Cumlaude”.
Dihimpun dari beberapa sumber, termasuk reportase Aura Salsabila Alviona, mahasiswa Bioteknologi ITB 2025 melalui situs itb.ac.id, disebutkan, raihan tersebut dapat dicapainya karena mengikuti program percepatan studi Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program ini mengintegrasikan jenjang S2 dan S3 sehingga memungkinkan penyelesaian kedua seluruh jenjang hanya dalam waktu empat tahun saja.
“Awalnya waktu S1 ada kakak tingkat yang juga lanjut S2-S3 dengan beasiswa PMDSU. Beliau diundang ke kampus untuk mengisi acara, dan setelah mendengar testimoninya saya jadi tertarik,” ujar Jessie, dikutip dari situs ITB, Rabu (12/11/25).
Dalam gaya bahasa Aura Salsabila, Jessie menjelaskan bahwa kunci utama di balik percepatan studinya adalah program PMDSU. Program ini dirancang sebagai “tol” akademik yang mengintegrasikan jenjang S2 dan S3, memungkinkan penyelesaian kedua tingkat pendidikan tersebut hanya dalam waktu empat tahun.
Disebutkan, Jessie juga melihat nilai lebih dari program tersebut yang menyediakan kesempatan riset di luar negeri melalui program PKPI-PMDSU, di samping dorongan internal untuk berkarier di bidang riset yang memang membutuhkan kualifikasi S3.
Dari fisika SMA hingga material komputasi
Jessie Manopo telah menunjukkan ketertarikan pada sains sejak SMA. “Kalau dulu SMA suka matematika dan fisika karena seru bisa melatih cara berpikir,” kenang Jessie yang berdarah Manado itu.
Perjalanan akademiknya dimulai dari S1 Fisika di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang ia selesaikan dengan predikat Cumlaude. Di sinilah minatnya semakin terasah tajam. Ia merasa dosen-dosen S1 berhasil mengajar dan membuatnya melihat fisika sebagai ilmu yang menarik untuk mempelajari alam semesta.
Titik baliknya terjadi di semester 6, saat ia mulai belajar Fisika Zat Padat. Dari situ, ia tertarik untuk menekuni riset di bidang ilmu material. Karena juga menyukai programming sejak SMA, Jessie menggabungkan kedua minatnya dan memilih bidang spesifik, Computational Materials Science (Ilmu Material Komputasi). Ia bahkan sudah mulai mempelajari Density Functional Theory (DFT) sejak S1, sebuah metode yang akhirnya ia tekuni hingga jenjang S3.
Menjalani program S2 dan S3 secara bersamaan dalam waktu singkat tentu menuntut strategi manajemen waktu yang efektif. Jessie Manopo, dengan pengalamannya, membagikan rahasia di balik efisiensi studinya.
“Tipsnya, habisin semua kuliah di tahun pertama supaya pada saat tahun kedua bisa mulai fokus riset,” ungkapnya.
Strategi ini sangat terbantu oleh materi kuliah S2 di ITB, yang sebagian besar merupakan pengulangan dari materi S1. Hal ini memastikan proses adaptasinya berjalan mulus dan mempercepat kemajuannya di ITB.
Disiplin dan etos kerja
Di luar strategi akademik, disiplin menjadi fondasi utama kesuksesan riset Jessie. Selama menjalani studi S3, ia secara konsisten bekerja di laboratorium setiap hari kerja, mulai pukul 9 pagi hingga 5 sore. Setelah jam kerja, Jessie memanfaatkan waktu untuk beristirahat, memastikan keseimbangan antara studi dan kehidupan pribadi tetap terjaga.
Disiplin dan etos kerja yang kuat ini membuahkan hasil riset yang luar biasa. Sepanjang masa studinya dari S1 hingga S3, Jessie tercatat sangat produktif dengan berhasil memublikasikan enam research paper, dengan tiga sebagai penulis pertama (first-author) dan tiga sebagai co-author.
Karya-karya ilmiah bergengsi itu termasuk yang dimuat di jurnal Q1 Materials Chemistry and Physics (saat S1) dan RSC Advances (saat S2), menunjukkan kontribusi signifikan Jessie dalam bidangnya.
Sepeda, musik, dan karier di Jepang

Jessie Manopo juga menjalani program Postdoctoral di Kyushu University, Jepang, (Ist.)
Di balik citra akademisi yang tekun, Jessie tetap meluangkan waktu untuk hobi dan refreshing. “Kalau weekend suka sepedaan jauh gitu bisa 40-50 kilometer bolak-balik,” katanya.
Selain itu, ia juga hobi mendengarkan musik dan mengoleksi album. Ada satu hobi uniknya yang ternyata sangat bermanfaat untuk masa depannya, yaitu belajar bahasa Jepang karena kecintaannya pada musik Jepang.
“Ternyata cukup bermanfaat juga hobinya karena sekarang saya kerja di Jepang (postdoc),” ungkap Jessie. Saat ini, ia sedang menjalani program Postdoctoral di Kyushu University, Jepang, melanjutkan jejak risetnya di kancah global.
Perjalanan Jessie menuju gelar doktor termuda bukanlah tanpa tantangan. Ia mengakui bahwa lulus dari ITB, terutama program S3, “sulit banget.” Beberapa hambatan sempat ia hadapi.
Jessie pun memberikan pesan singkat namun realistis bagi mahasiswa lain yang sedang berjuang. “Semangat saja karena S3 itu memang sulitlah,” katanya.
Pesan ini menegaskan bahwa setiap pencapaian besar membutuhkan perjuangan, tetapi dengan dedikasi dan strategi yang tepat, mengukir prestasi gemilang adalah mungkin.
Alumni SMAN 6 Bandung
Respon positif atas pencapaian Jessie Manopo datang dari berbagai pihak. Salah satunya, melalui media sosial Instagram@sman6bdg, keluarga besar SMAN 6 Bandung meluapkan rasa bangga atas prestasi Jessie yag ternyata adalah alumni sekolah tersebut.
Akun IG itu menulis: Rasa bangga menyelimuti keluarga besar SMAN 6 Bandung. Salah satu alumninya, Jessie Manopo, meraih gelar Doktor Fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) di usia 25 tahun dengan predikat Summa Cum Laude. Ia menjadi doktor termuda ITB tahun 2025.
Dalam kolom komentar, diketahui, Jessie Manopo lulus dari SMAN 6 Bandung kelas XII-MIPA 1 dengan walikelas Ibu R. Lies Rukmini.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan seluruh warga Enam dan bukti bahwa semangat belajar serta ketekunan dapat membawa seseorang mencapai puncak tertinggi dalam dunia akademik,” tulis akun tersebut.
Dalam catatan ITB, rekor Doktor Termuda ITB masih dipegang Syed Saquib. Mahasiswa program doktoral Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, ITB, itu adalah peraih program doktoral di usia 25 tahun 9 bulan, tapi ia merupakan mahasiswa internasional dari India. (P-*/ht)
No Comments