Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengancam mengebom Oman jika negara Teluk itu menghambat perundingan AS dengan Iran. Foto ketika Trump melakukan pertemuan dengan kabinetnya di Camp David, Juli 2026 lalu (the white house)PRIORITAS, 17/8/26 (Washington): Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengancam akan mengebom negara Oman jika menghalangi perundingan AS dengan Iran.
“Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump seperti dilaporkan media Fox News, hari Senin (17/8).
Trump mengeluarkan peringatan luar biasa kepada Oman, ketika ditanya tentang peran negara Teluk itu dalam pembicaraan yang melibatkan Iran.
AS curiga terhadap Oman terutama karena menilai sikap mediasi Oman bias pro-Iran
Pembicaraan paralel Oman-Iran soal Selat Hormuz dianggap mengganggu tujuan AS, lapor Al-Monitor.
Selama proses perundingan damai AS dan Iran usai serangan besar-besaran AS dan Israel, Oman telah menjadi perantara.
Pejabat senior AS menyatakan mereka membuang Oman dari proses mediasi, karena “sangat duplicitous, hampir seperti karyawan Iran” dalam cara mereka bermanuver, rilis New York Times.
Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, secara terbuka menyatakan kesepakatan damai “dalam jangkauan” jika diplomasi diberi ruang
AS melihat ini sebagai pengulangan poin yang diminta Iran dan lobi publik yang menentang kebijakan AS, bukan mediasi netral. Akibatnya, peran Oman sebagai mediator digeser ke Qatar dan Pakistan.
Soal selat Hormuz
Oman dan Iran juga terang-terangan berunding soal Selat Hormuz terutama mekanisme pengelolaan navigasi, rute pelayaran, layanan, dan kemungkinan memberlakukan biaya sekitar 20 persen mirip tol bagi setiap kapal yang lewat.
AS menafsirkan ini sebagai upaya memberi pengaruh dan kontrol lebih besar kepada Iran, mengancam kebebasan navigasi, dan mengganggu upaya AS membuka kembali selat Hormuz serta mengakhiri konflik.
Intelijen AS sempat menilai Oman berencana bergabung dengan Iran dalam sistem tol itu, yang justru menyulitkan kapal-kapal tanker minyak dunia.
AS menekankan, kedekatan Oman dengan Iran dan pernyataan publiknya menghambat kemajuan perundingan sesuai keinginan Washington.
Tak boleh miliki senjata nuklir
Presiden Trump juga kembali menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.
“Tujuan utama adalah, dan akan selalu, bahwa Iran tidak dapat memiliki, dalam bentuk apa pun, senjata nuklir”, kata Trump dalam unggahannya di Truth Social, hari Senin ini (17/8).
Komentar Trump muncul ketika periode negosiasi 60 hari untuk mencapai kesepakatan damai antara AS dan Iran segera berakhir, tanpa ada kabar menggembirakan.
Kedua pihak tampaknya masih memiliki perbedaan pendapat yang sama seperti dua bulan lalu.
Situasi ini memunculkan ketidakpastian apakah perang di Timur Tengah akan berakhir atau tidak.
AS terus meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui sanksi keuangan dan ancaman tindakan militer lebih lanjut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, Kamis lalu mengatkatakan Washington meningkatkan sanksi keuangan terhadap Teheran yang dimulai setelah Trump memberlakukan kembali kebijakan “tekanan maksimum” tahun lalu.
Tekanan itu semakin intensif setelah AS melakukan operasi militer terhadap Iran pada bulan Februari.
“Kami akan menerapkan langkah-langkah yang belum pernah terlihat dalam sejarah isolasi ekonomi terhadap suatu negara,” kata Bessent.
Departemen Keuangan AS telah menargetkan rekening bank, dompet kripto, aset di seluruh dunia milik Iran, memutus pembayaran baik kepada pimpinan rezim maupun pemerintah itu sendiri.
Departemen Keuangan AS juga menerapkan kombinasi isolasi ekonomi dan blokade berkelanjutan terhadap Selat Hormuz.
Presiden Trump juga berulang kali mengancam akan melanjutkan operasi tempur besar-besaran terhadap Iran dengan serangan yang “lebih besar dari sebelumnya”.
Sejauh ini, Amerika Serikat dan Iran masih terlibat dalam kebuntuan terkait kendali dan kepemilikan jalur tanker minyak dan kargo di Selat Hormuz.
Pembukaan kembali sepenuhnya jalur laut itu untuk pelayaran komersial telah menjadi tuntutan utama Amerika Serikat. (P-*/jw)