Dua orang milisi RSF tersenyum dengan latar belakang puluhan warga tergeletak di tanah usai dibantai di rumahsakit bersalin di El Fasher, Sudan pekan ini.(@ashiswai)PRIORITAS, 8/11/25 (Darfur): Tentara pemberontak Sudan, Rapid Support Forces (RSF), sengaja ingin menghilangkan bukti pembantaian, dengan membakar ratusan mayat di El-Fasher, Darfur.
Citra satelit seperti dikutip Beritaprioritas.com, hari Sabtu (8/11/25), menunjukkan upaya pemusnahan jenazah korban pembantaian tersebut, dilakukan para tentara pemberontak yang dipimpin Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo.
Beberapa hari sebelumnya tentara RSF merebut kota El-Fasher di Darfur dari tangan Sudanese Armed Forces (SAF) atau pasukan pemerintah Sudan.
Tentara SAF yang dipimpin Jenderal Abdel Fatah Burhan, tak mampu mempertahankan kota tersebut dan mundur.
Ironisnya, ketika menguasai kota tersebut, pemberontak bertindak brutal dengan membantai habis semua penduduk sipil.
Dalam sejumlah video yang beredar di media berbagai media sosial, tentara pemberontak RSF menembak mati para pasien yang sedang dirawat di sebuah rumahsakit.
Bahkan pasien yang sudah lansia yang mengalami patah tangan dan sedang duduk langsung ditembak di kepala, hingga ia tewas tersungkur di lantai.
Di luar halaman para tentara dengan bangga dan sambil tertawa berpose di depan ratusan mayat yang bergelimpangan di tanah.
Kejahatan perang
Citra satelit Vantor yang diliris media Asharq Al Awsat menunjukkan asap dari kebakaran di rumah sakit Saudi di El-Fasher, Kamis, 6 November 2025.
Citra satelit baru yang dianalisis itu tampaknya menunjukkan upaya tentara pemberontak untuk menghilangkan bukti mayat, karena ada kekhawatiran mereka bisa dihukum berat akibat melakukan kejahatan perang.
Gambar-gambar satelit menunjukkan kebakaran di rumah sakit Saudi di el-Fasher di dekat kumpulan benda putih yang terlihat beberapa hari sebelumnya di foto-foto lainnya.
Laboratorium Penelitian Kemanusiaan di Sekolah Kesehatan Masyarakat Yale menggambarkan gambar-gambar tersebut sebagai pembakaran benda-benda yang diduga kuat sebagai mayat.
“Praktik pembakaran jenazah tidak sesuai dengan praktik pemakaman Islam,” demikian pernyataan laboratorium Yale dalam laporannya.
Pembakaran benda-benda yang tampaknya identik dengan jenazah manusia, mempersulit upaya di masa mendatang untuk menghitung jumlah korban tewas sejak jatuhnya El-Fasher.
Selain itu tim medis pun akan sulit mengidentifikasi serta mengembalikan jenazah kepada anggota keluarga.
Pembunuhan besar
Tumpukan objek-objek putih yang tampaknya sesuai dengan mayat, menunjukkan besarnya skala pembunuhan yang dilakukan tentara pemberontak RSF di kota tersebut.
Citra satelit El-Fasher sebelumnya menunjukkan kuburan massal digali dan kemudian ditutup di dua lokasi di kota itu.
Satu di sebuah masjid di sebelah utara rumah sakit Saudi tempat sekitar 460 orang dilaporkan tewas dan yang lainnya di bekas rumah sakit anak-anak yang digunakan RSF sebagai penjara.
RSF sempat membantah membunuh siapa pun di rumah sakit Saudi. Namun kesaksian dari mereka yang melarikan diri dari El-Fasher, video daring dan citra satelit, menyajikan gambaran nyata kebrutalan dari serangan tersebut.
Tentara RSF juga menghalangi akses jalan menuju El-Fasher di sebelah barat. Sebuah tanggul baru telah ditambahkan ke lokasi tersebut.
Gencatan senjata
Tentara pemberontak Sudan mengumumkan menyetujui gencatan senjata kemanusiaan, yang diusulkan kelompok mediator pimpinan AS yang dikenal sebagai Quad.
Seorang pejabat militer Sudan mengatakan tentara RSF menyambut baik usulan Quad.
Perang antara RSF dan militer SAF dimulai pada tahun 2023, ketika ketegangan meletus antara dua mantan sekutu, yang dimaksudkan untuk mengawasi transisi demokrasi setelah pemberontakan tahun 2019.
Badan PBB, WHO menyebutkan pertempuran tersebut telah menewaskan sedikitnya 40.000 orang dan menyebabkan 12 juta orang mengungsi.
Namun, kelompok-kelompok bantuan mengatakan jumlah korban tewas sebenarnya bisa jauh lebih tinggi.
Penasihat AS untuk urusan Afrika, Massad Boulos, mengatakan rencana gencatan senjata yang dipimpin AS akan dimulai dengan gencatan senjata kemanusiaan selama tiga bulan diikuti proses politik selama sembilan bulan.
(P-Jeffry W)
No Comments