Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli (Biro Humas Kemnaker).PRIORITAS, 17/8/26 (Jakarta): Penguatan sektor industri dan kemandirian ekonomi kini bergantung pada kualitas SDM. Oleh sebab itu, Menaker Yassierli menegaskan bahwa agenda hilirisasi butuh tenaga kerja berdaya saing. Selain itu, pekerja juga harus memberi nilai tambah nyata bagi industri nasional.
Pernyataan ini sampaikan saat ia memimpin Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Jakarta, Senin (17/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya kemerdekaan untuk mengelola potensi bangsa secara mandiri. Akibatnya, keberhasilan hilirisasi tidak akan tercapai tanpa dukungan pekerja terampil.
Untuk menjawab tantangan ini, Kemnaker menerapkan empat pilar fokus utama:
Pengembangan Kompetensi Pekerja: Langkah ini mencakup penguatan pelatihan vokasi, pemagangan, dan sertifikasi. Program ini menyesuaikan tren digital, kecerdasan buatan (AI), serta transisi energi.
Penguatan Pasar Kerja Adaptif: Selanjutnya, pemerintah mempercepat penyelarasan (job matching) tenaga kerja. Data Sakernas Mei 2026 mencatat 148 juta orang telah bekerja, dengan tingkat pengangguran 4,65 persen.
Penciptaan Lingkungan Kerja Inklusif: Di samping itu, Kemnaker terus membuka akses bagi masyarakat. Langkah ini bertujuan agar warga mendapat keterampilan dan pekerjaan layak.
Harmonisasi Hubungan Industrial: Akhirnya, pemerintah memperkuat regulasi kerja. Kebijakan ini memastikan pertumbuhan industri sejalan dengan kesejahteraan pekerja.
Melalui langkah berkesinambungan ini, proses pelatihan hingga penyaluran kerja berjalan lebih optimal. Hasilnya, Indonesia memiliki tenaga kerja produktif yang siap bersaing secara global. (P-Gio R)