Hasil penelitian mestinya dikemas agar dekat dengan anak-anak

Armin Mandika
Kamis, 17 September 2026
KESRA 0 56
3 menit membaca

PRIORITAS, 17/9/26 (Jakarta): Karya ilmiah termasuk hasil penelitian tidak harus berhenti di jurnal atau laporan ilmiah namun bisa dikemas untuk dekat dengan anak-anak.

Adapun gagasan tersebut ditegaskan Kepala Pusat Riset Kewilayahan (PRW) BRIN, Ahmad Helmy Fuady saat membuka kegiatan Workshop “Penulisan Buku Cerita Anak Berbasis Hasil Penelitian” yang diselenggarakan, seperti dilansir dari brin.go.id pada Rabu (16/9/26), di Jakarta.

Bahkan Helmy mendorong periset untuk mengemas hasil penelitian dan pengalaman riset mereka menjadi cerita yang menarik bagi anak-anak Indonesia. Pengalaman periset ketika melakukan penelitian di berbagai negara, mulai dari kawasan Asia Tenggara, China, Jepang, Afrika, hingga Eropa, menyimpan banyak cerita yang dapat menjadi “jendela” bagi anak-anak untuk mengenal dunia.

“Pengalaman tersebut dapat diterjemahkan menjadi cerita yang sederhana, kreatif, dan mudah dipahami anak,” katanya dalam kegiatan yang diikuti periset dari berbagai pusat riset di lingkungan BRIN ini.

Helmy berharap workshop ini dapat mendorong lahirnya karya yang mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan dunia anak. Dengan demikian, hasil riset tidak hanya disampaikan dalam bentuk publikasi ilmiah, tetapi juga dapat hadir melalui bacaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, lingkungan sekitar, maupun pengalaman penelitian.

Miliki tujuan

Sementara itu, Renny Yaniar, penulis dan ilustrator buku anak, yang hadir sebagai narasumber mengajak peserta melihat proses menulis sebagai sebuah perjalanan yang membutuhkan arah dan tujuan yang jelas. Salah satunya dengan menentukan akhir cerita sejak awal agar proses pengembangan cerita memiliki tujuan.

Dikatakan Renny, kemampuan menulis tidak semata-mata ditentukan oleh bakat. Konsistensi, kemauan, dan latihan menjadi bagian penting dalam mengembangkan ide menjadi sebuah karya.

“Menulis itu seperti sebuah perjalanan. Kita perlu tahu arah dan tujuan yang ingin dicapai,” ungkapnya.

Untuk konteks penulisan cerita anak berbasis riset, Renny menjelaskan bahwa hasil penelitian dapat dikembangkan dengan mengolahnya melalui tema, karakter, latar, dan alur yang dekat dengan dunia anak. Pada saat yang sama, penulis tetap perlu memahami materi dan melakukan riset agar informasi yang disampaikan kepada pembaca tetap tepat.

Dicontohkannya sejumlah karyanya yang memadukan pengetahuan berbasis riset dengan unsur fiksi, antara lain cerita tentang budaya peranakan serta kisah mengenai lumba-lumba yang diangkat dari riset dan pengetahuan tentang laut tropis.

Tak selalu manusia

Dikatakan Renny, karakter dalam cerita anak tidak selalu harus berupa manusia. Tokoh dapat berasal dari hewan, benda, tanaman, maupun karakter imajinatif. Namun, cerita tetap membutuhkan konflik dan perkembangan karakter agar pembaca dapat mengikuti perjalanan tokoh hingga akhir.

Untuk pengemasan tersebut menjadi penting karena informasi ilmiah perlu diterjemahkan ke dalam bentuk yang sesuai dengan cara anak memahami cerita. Pengetahuan yang kompleks dapat menjadi lebih mudah diterima ketika hadir melalui tokoh, peristiwa, dan konflik yang dekat dengan dunia mereka.

Lewat workshop ini, para periset diharapkan dapat mengembangkan hasil penelitian menjadi cerita yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan mudah dipahami anak. Upaya tersebut menjadi salah satu cara memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan berbasis riset sejak usia dini.(P-*/am)

 

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025