Charlotte Salawati Daud putri Sangihe: Perempuan pertama Indonesia yang jadi wali kota

Sem Muhaling
Kamis, 23 April 2026
3 menit membaca

Oleh Semuel Muhaling


DI TENGAH dominasi laki-laki dalam sejarah politik Indonesia, nama Charlotte Salawati Daud muncul sebagai pengecualian yang mencolok. Ia bukan hanya tokoh perempuan biasa—melainkan wali kota perempuan pertama dalam sejarah Indonesia, jauh sebelum isu kesetaraan gender menjadi arus utama.

Lahir di tanah Sangihe, menembus sejarah nasional

Charlotte Salawati Daud lahir pada 20 Maret 1909 di Tariangbaru, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Kepulauan Sangihe menjadi titik awal perjalanan seorang perempuan yang kelak menorehkan sejarah nasional.

Di usia muda, ia merantau ke Makassar dan mulai aktif dalam berbagai organisasi pergerakan. Di kota inilah kesadaran politik dan sosialnya tumbuh, terutama dalam isu perempuan dan kemerdekaan bangsa.


Aktivis, jurnalis, dan pejuang perempuan

Pada era 1930-an, Salawati terlibat dalam gerakan nasionalis. Ia juga dikenal sebagai jurnalis yang progresif. Tahun 1945, ia menerbitkan majalah Wanita, media yang fokus pada edukasi dan hak-hak perempuan—sebuah langkah maju di masa ketika suara perempuan masih sangat terbatas.

Perannya tidak berhenti di dunia jurnalistik. Ia aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan bahkan menjalin komunikasi dengan pemerintah pusat di Jakarta untuk mendukung gerilya melawan penjajah.

Mencetak sejarah: wali kota perempuan pertama

Puncak kiprah Salawati terjadi pada 27 Desember 1949, ketika ia dipercaya menjadi Wali Kota Makassar—menjadikannya perempuan pertama yang menduduki jabatan tersebut di Indonesia.

Ia memimpin hingga 17 Agustus 1950, di masa yang sangat krusial: periode transisi dari kekuasaan kolonial ke pemerintahan Republik Indonesia.

Tak hanya simbol, kepemimpinannya nyata. Ia menghadapi situasi politik yang kompleks, termasuk ketegangan dengan pihak kolonial yang masih memiliki pengaruh di daerah tersebut.

Dari wali kota ke parlemen nasional

Setelah masa jabatannya, Salawati tetap aktif di dunia politik nasional. Ia kemudian menjadi anggota parlemen pada 1955 dan terlibat dalam gerakan perempuan melalui organisasi seperti Gerwani.

Perannya memperlihatkan bahwa ia bukan sekadar figur simbolik, tetapi juga aktor politik yang aktif memperjuangkan perubahan sosial.

Jejak panjang yang terlupakan

Meski memiliki peran besar, nama Salawati Daud tidak sepopuler tokoh perempuan lain dalam sejarah Indonesia. Padahal, ia:

  • Perempuan pertama yang menjadi wali kota di Indonesia
  • Aktivis perempuan sejak era kolonial
  • Jurnalis yang memperjuangkan kesadaran perempuan
  • Politisi nasional di masa awal republik

Ia wafat pada 10 Maret 1985 di Jakarta, meninggalkan warisan sejarah yang baru belakangan kembali mendapat perhatian.

Warisan dari Sangihe untuk Indonesia

Kisah Charlotte Salawati Daud adalah bukti bahwa dari daerah kepulauan seperti Sangihe, lahir tokoh yang mampu mengubah sejarah nasional.

Di era modern, ketika keterwakilan perempuan dalam politik masih terus diperjuangkan, sosoknya menjadi pengingat bahwa perempuan Indonesia sudah memimpin sejak awal republik berdiri.

Penutup

Charlotte Salawati Daud bukan sekadar catatan sejarah—ia adalah simbol keberanian, intelektualitas, dan kepemimpinan perempuan Indonesia.

Dan dari tanah Sangihe, daerah perbatasan paling utara Indonesia, ia membuktikan bahwa batas geografis tidak pernah menjadi penghalang untuk mencetak sejarah.  

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan