Seorang pemuda bergegas menuju gate keberangkatan di bandara, mencerminkan tingginya mobilitas generasi muda Indonesia yang didorong pendidikan dan peluang di luar daerah asal, sebagaimana temuan riset terbaru Pusat Riset Kependudukan BRIN. (Courtesy: iStockphoto)PRIORITAS, 14/3/26 (Jakarta): Benarkah pendidikan menentukan seberapa sering seseorang berpindah wilayah? Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjawabnya dengan data. Pusat Riset Kependudukan BRIN menemukan 40 persen pemuda Indonesia pernah bermigrasi setidaknya sekali seumur hidup.
Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Meirina Ayumi Malamassam menggunakan data longitudinal Indonesian Family Life Survey (IFLS) gelombang 1-5 tahun 2025. Pendekatan life-course digunakan untuk menganalisis riwayat perpindahan individu usia 15 hingga 34 tahun berdasarkan pergantian pekerjaan, pendidikan, dan pembentukan keluarga.
Hasilnya mengejutkan. Rata-rata pemuda Indonesia mengalami 0,86 migrasi antarkabupaten atau kota. Bagi yang sudah pernah berpindah, frekuensinya bahkan mencapai rata-rata 2,14 kali.
Studi ini menemukan pola yang konsisten. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin sering ia berpindah wilayah. Kelompok berpendidikan dasar hampir tidak pernah melakukan migrasi sama sekali.
“Menariknya, kelompok berpendidikan rendah cenderung memulai migrasi pertama pada usia sedikit lebih muda, sedangkan kelompok berpendidikan tinggi menunjukkan kecenderungan mobilitas lanjutan yang lebih kuat pada fase berikutnya,” ujar Ayumi dikutip dari BRIN, Sabtu (14/3/26).
Orang berpendidikan tinggi umumnya memilih menetap di wilayah baru pada usia 34 tahun. Sebaliknya, mereka yang berpendidikan rendah justru memulai migrasi lebih awal. Pola ini mencerminkan positive education selectivity dalam mobilitas antarwilayah.
Rentang waktu antara satu perpindahan ke perpindahan berikutnya tercatat singkat, hanya sekitar 1-3 tahun. Ini menunjukkan tingkat mobilitas generasi muda Indonesia cukup tinggi.
“Temuan ini memperlihatkan bahwa pendidikan berperan penting dalam membentuk trajektori migrasi. Perbedaan tingkat pendidikan berkaitan dengan peluang, waktu transisi kehidupan, serta arah mobilitas antarwilayah,” tutur Ayumi.
Riset ini memperkuat pemahaman tentang transformasi sosial generasi muda Indonesia. Pendidikan bukan hanya membuka peluang karier, tetapi juga membentuk pola mobilitas individu secara signifikan. (P-Khalied M)