Berangkat dari kegelisahan, MKJ gelar forum kritik seni Jakarta 2026

Sem Muhaling
Rabu, 13 Mei 2026
4 menit membaca

PRIORITAS, 13/5/26 (Jakarta): Di tengah derasnya arus media sosial, ledakan konten cepat, dan banjir opini instan, Masyarakat Kesenian Jakarta (MKJ) akan melaksanakan forum kritik seni. Hal ini dilakukan mengingat tradisi kritik seni dinilai semakin penting untuk menjaga ruang dialog kebudayaan tetap hidup, sehat, dan bermakna. Berangkat dari kegelisahan itu, MKJ akan menggelar Forum Kritik Seni Jakarta pada Selasa, 19 Mei 2026, di PDS H.B. Jassin, Jakarta.


Kegiatan bertema “Membangun Tradisi Kritik Seni yang Kritis, Terbuka, dan Berkelanjutan” ini akan menghadirkan workshop menulis kritik seni pada pagi hari, dilanjutkan diskusi publik mengenai wajah kritik seni masa kini pada siang hingga sore hari. Forum tersebut merupakan kerja sama MKJ dengan PDS H.B. Jassin – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta serta Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

MKJ : Bagiamana wajah kritik seni.

Bagiaimana wajah kritik seni.(MKJ/Ist.)

Kritik seni dinilai semakin penting

Ketua MKJ, Arie F. Batubara, mengatakan kritik seni bukanlah upaya menjatuhkan karya, melainkan cara membaca dan memahami karya seni secara lebih mendalam dan kontekstual.

Menurutnya, di tengah derasnya arus informasi dan dominasi opini singkat di media sosial, kemampuan membaca karya seni secara kritis menjadi semakin penting bagi masyarakat.


“Kritik seni membantu publik memahami konteks, makna, dan persoalan yang ada di balik sebuah karya. Seni tidak cukup hanya dinikmati secara permukaan, tetapi juga perlu dipikirkan dan didialogkan,” ujar Arie.

Ia menambahkan, kritik dalam berkesenian juga berfungsi sebagai jembatan antara seniman dan masyarakat. Karena itu, ruang-ruang diskusi dan pendidikan kritik seni harus terus dihidupkan agar ekosistem kebudayaan dapat berkembang secara sehat, terbuka, dan berkelanjutan.

Hadirkan kritikus dan redaktur budaya

Workshop menulis kritik seni akan berlangsung mulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber berpengalaman di bidang seni dan jurnalistik budaya, yakni Arie F. Batubara, Bambang Bujono, dan Mustafa Ismail.

Acara akan dipandu moderator Rintis Mulya, pegiat seni sekaligus praktisi pendidikan.

Dalam workshop tersebut, peserta akan diajak memahami bagaimana membaca karya seni secara kritis, mempelajari teknik menulis kritik yang tajam namun komunikatif, hingga membangun sudut pandang yang kuat dalam tulisan budaya dan kesenian.

MKJ menilai kemampuan menulis kritik dalam berkesenian penting dipelajari tidak hanya oleh seniman dan akademisi, tetapi juga mahasiswa, jurnalis, pegiat komunitas, hingga masyarakat umum yang ingin memahami karya seni secara lebih mendalam.

Bahas wajah baru kritik seni

Sementara itu, diskusi publik bertajuk “Bagaimana Wajah Kritik Seni Kini?” akan berlangsung pukul 13.00 hingga 17.00 WIB.

Forum ini akan membahas perkembangan kritik seni di era digital, pengaruh media sosial dan algoritma, perubahan selera publik, hingga tantangan dunia kebudayaan saat ini.

Diskusi menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, di antaranya Hilmi Faiq dan Akhlis Suryapati. Dalam materi tambahan forum, turut disebut nama Saras Dewi sebagai pembicara.

Diskusi akan dimoderatori Dedy Tri Riyadi dengan pewara Dian Mariyana.

Panitia berharap forum tersebut dapat menjadi ruang bertemunya seniman, akademisi, mahasiswa, media, komunitas seni, hingga masyarakat umum untuk membangun kembali tradisi kritik seni di Indonesia.

Dorong lahirnya penulis kritikus muda

Ketua Panitia, Mustafa Ismail, mengatakan kritik seni memiliki peran penting dalam menjaga percakapan kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan zaman yang bergerak sangat cepat.

“Kami ingin mendorong lahirnya penulis dan pengamat seni muda yang kritis, terbuka, dan mampu membaca perubahan zaman. Kritik seni tidak boleh berhenti hanya pada penilaian ‘bagus’ atau ‘tidak bagus’, tetapi harus mampu menghadirkan pembacaan yang argumentatif dan kontekstual terhadap karya seni,” kata Mustafa.

Menurut dia, kebudayaan yang sehat lahir dari percakapan yang hidup. Karena itu, forum semacam ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk memperkuat tradisi intelektual dan diskursus seni di Indonesia.

Terbuka untuk umum dan gratis

Forum Kritik Seni Jakarta MKJ ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Peserta juga akan mendapatkan sertifikat keikutsertaan.

Panitia menargetkan sekitar 100 peserta yang berasal dari kalangan seniman, mahasiswa, jurnalis budaya, komunitas seni, akademisi, hingga masyarakat umum.

Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan berikut: bit.ly/4w8i5iR. (P-*r/sm)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan