Bank Indonesia diperkirakan pertahankan suku bunga 4,75 persen demi menjaga stabilitas rupiah

Zamir Ambia
Selasa, 21 April 2026
NEWS 0 209
3 menit membaca

PRIORITAS, 21/4/26 (Jakarta): Bank Indonesia diproyeksikan tetap menahan suku bunga acuan di angka 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar pada 21–22 April 2026.


Langkah tersebut dianggap konsisten dengan prioritas bank sentral saat ini, yakni menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung.

Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, menilai peluang Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga masih sempit. Ketidakpastian global yang berlanjut dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap stabilitas nilai tukar jika pelonggaran moneter dilakukan.

“BI diperkirakan kembali menahan suku bunga pada April. Selama tekanan eksternal belum mereda, akan sulit bagi BI untuk memangkas suku bunga,” imbuhnya, Selasa (21/4/26).


Menurut Josua Pardede, kondisi pasar global di awal pekan memang cenderung stabil, namun belum cukup solid untuk mendorong perubahan arah kebijakan. Pelaku pasar masih menunggu kejelasan situasi geopolitik, termasuk kemungkinan tercapainya kesepakatan damai yang hingga kini belum pasti.

Ia menambahkan, pelemahan dolar AS dan harga minyak yang terjadi setelah munculnya optimisme negosiasi dinilai masih rentan dan sangat dipengaruhi oleh dinamika harian.

Dalam situasi tersebut, penurunan suku bunga dipandang berisiko karena dapat mengurangi perlindungan terhadap rupiah, terutama saat stabilitas pasar belum sepenuhnya pulih.

Alasan BI

Di samping itu, tekanan dari sisi inflasi energi juga menjadi faktor penting. Kenaikan harga energi, termasuk BBM nonsubsidi, semakin memperkuat alasan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga.

“Kenaikan BBM nonsubsidi sendiri belum otomatis memaksa BI menaikkan suku bunga, tetapi jelas membuat BI makin sulit untuk memangkasnya sekarang,” imbuh Josua.

Ia menambahkan, dampak kenaikan BBM nonsubsidi terhadap inflasi April dinilai tidak terlalu besar karena hanya memengaruhi kelompok tertentu.

Namun, Bank Indonesia tetap memperhitungkan efek lanjutan, seperti peningkatan ekspektasi inflasi, biaya logistik dan produksi, serta potensi inflasi impor apabila tekanan terhadap rupiah berlanjut.

Bank Permata bahkan memproyeksikan peluang penurunan suku bunga pada 2026 bisa tertutup jika harga minyak rata-rata menyentuh US$80 per barel dan nilai tukar rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Fundamental ekonomi tergolong solid

Dari sisi domestik, fundamental ekonomi masih tergolong solid. Inflasi inti pada Maret 2026 tercatat menurun, sementara indeks keyakinan konsumen (IKK) tetap tinggi di level 122,9. Di sisi lain, penjualan ritel masih menunjukkan pertumbuhan, dan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur berada di zona ekspansi meski sedikit melambat ke level 50,1.

“Artinya, ekonomi domestik memang mengalami moderasi, tetapi belum masuk kondisi yang memaksa BI harus buru-buru menurunkan suku bunga demi menyelamatkan pertumbuhan,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, Bank Indonesia diperkirakan masih akan lebih mengutamakan stabilitas nilai tukar dibandingkan mendorong pertumbuhan lewat penurunan suku bunga.

Dalam jangka pendek, bank sentral kemungkinan memaksimalkan bauran kebijakan lainnya guna menjaga momentum ekonomi, sembari tetap mempertahankan suku bunga acuan. (P-*r/Zamir Ambia)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan