Ternyata Iran akhirnya ajukan proposal damai ke AS melalui Pakistan guna akhiri konflik dan blokade Selat Hormuz yang telah memicu lonjakan harga minyak serta inflasi global. (‘Courtesy’ Beritasatu.com/Google)PRIORITAS, 2/5/26 (Islamabad): Terbetik informasi menggembirakan tentang harapan baru yang muncul di tengah ketegangan geopolitik, setelah Iran secara resmi mengirimkan proposal perdamaian terbaru kepada Amerika Serikat (AS) melalui Pakistan, dan khabarnya sudah diketahui Presiden Donald Trump.
Adapun langkah diplomasi ini dilakukan saat negosiasi langsung antara Teheran dan Washington sedang berada dalam titik beku, meskipun kedua belah pihak masih menghormati kesepakatan gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir ini.
Keinginan Iran mencari jalan keluar
Sebagaimana dilaporkan Kantor berita resmi Iran, IRNA, Jumat (1/5/26) malam, dokumen proposal tersebut diserahkan kepada pihak Islamabad pada Kamis (30/4/26) malam sebelumnya untuk diteruskan ke Gedung Putih di Washington.
Disebutkan, langkah ini menunjukkan keinginan Iran untuk mencari jalan keluar diplomatik guna mengakhiri konflik yang dimulai sejak serangan mendadak besar-besaran oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026.
Prioritas utama, Iran tak ada senjata nuklir
Merespons khabar tersebut, pihak Gedung Putih bersikap sangat hati-hati dan tegas.
Anna Kelly, juru bicara Gedung Putih, dikutip Beritasatu.com menyatakan, pihaknya tidak akan membeberkan rincian percakapan diplomatik yang bersifat rahasia tersebut.
Tetapi, ia kembali menekankan posisi tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dimana kepentingan keamanan nasional mereka ialah prioritas utama, terutama memastikan Iran tidak pernah memiliki senjata nuklir lagi.
Blokade ketat Selat Hormuz
Adapun kondisi di lapangan saat ini masih sangat kritis bagi ekonomi global. Meski baku tembak telah berhenti sejak 8 April, Iran tetap melakukan blokade ketat di Selat Hormuz. Jalur pelayaran vital ini tersumbat, memutus pasokan minyak, gas, dan pupuk ke pasar internasional. Sebagai balasan, Amerika Serikat juga menerapkan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran, membuat perekonomian negara itu tertekan.
Akibat dampak dari “perang blokade” ini sangat dirasakan oleh masyarakat dunia. Harga minyak mentah saat ini melonjak hingga 50 persen di atas level sebelum perang. Bank Sentral Eropa bahkan terpaksa mempertahankan suku bunga tinggi karena kekhawatiran akan lonjakan inflasi yang tidak terkendali akibat terganggunya rantai pasok energi global.
Pelunakan posisi
Sementara itu di pihak Iran, suara-suara dari tokoh senior mulai menunjukkan pelunakan posisi namun tetap tegas. Kepala Yudisial Iran, Gholamhossein Mohseni Ejei, menyatakan Iran tidak pernah menghindari negosiasi. Meski begitu, ia menegaskan negaranya tidak akan menerima persyaratan yang bersifat “pemaksaan” dari pihak luar, sembari menekankan, Iran tidak menginginkan perang berlanjut lagi.
Sebaliknya di Washington, pemerintahan Trump tengah menghadapi perdebatan hukum domestik yang sengit mengenai “Undang-Undang Kekuatan Perang” (War Powers Resolution). Para pengkritik menilai Trump telah melewati batas waktu 60 hari untuk meminta persetujuan Kongres. Namun, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan, gencatan senjata saat ini secara otomatis “menghentikan jam” waktu legal itu. (P-*r/Bst/jr)