Generasi muda Ukraina kini siap tempur lawan penjajah Rusia

Jeffry Wuisan
Rabu, 31 Desember 2025
11 menit membaca

PRIORITAS, 31/12/25 (Kyiv):  Memasuki tahun keempat perang skala penuh dengan Rusia, satu generasi Ukraina yang dibesarkan di bawah serangan udara,  kini telah cukup mahir untuk siap bertempur lawan penjajah Rusia.

Mereka inilah para generasi muda Ukraina pemberani, yang siap berkorban untuk negaranya.

Para pemuda dan pemudi Ukraina ini, secara sukarela bergabung dengan militer, menukar ruang kuliah dengan tempat perlindungan, atau mencoba menyeimbangkan kedua dunia.

Keputusan mereka muncul di saat militer Ukraina menghadapi tekanan semakin besar, untuk mengatasi kekurangan petempur.

Menurut data ada sekitar 70,000 wanita berusia 18 hingga 40 tahun ikut menjadi tentara Ukraina, dengan sekitar 5.000 di antaranya bertugas di wilayah garis depan pertempuran bertarung melawan Rusia.

Sedangkan pria muda dengan usia 17 hingga 35 tahun diperkirakan mencapai 100,000 orang. Banyak pria muda dengan jumlah berkisar 15.000 orang ikut bertugas di medan tempur sebagai operator drone (pesawat nirawak) serta berbagai peralatan militer berteknologi tinggi.

Pada tahun 2024, pemerintah Ukraina menurunkan usia mobilisasi militer dari 27 menjadi 25 tahun.

Pemerintah Ukraina memperkenalkan “kontrak khusus” satu tahun, yang ditujukan bagi mereka berusia 18 hingga 24 tahun, dengan gaji Hryvnia 1 juta atau $24.000 (sekitar Rp.401,5 juta) dan pendidikan tinggi gratis.

Para generasi muda Ukraina pemberani tersebut, mengungkapkan mengapa mereka mendaftar, bagaimana mereka menyeimbangkan studi dan dinas, dan apa yang mereka harapkan setelah perang, seperti dikutip Beritaprioritas.com dari The Kyiv Independent dan berbagai sumber media Ukraina, hari Rabu (31/12/25).

 

Sophia Yanchevska (19 tahun)

Sophia Yanchevska (19 tahun), bertugas di Brigade Penyerangan Terpisah ke-3 Ukraina.

Bagi Sophia Yanchevska, keputusan untuk mendaftar militer terasa hampir tak terelakkan. “Saya selalu tahu cepat atau lambat generasi kami harus berjuang,” ujarnya.

Orangtuanya menjadi sukarelawan selama perang di Donbas pada tahun 2014 dan kemudian menjadi veteran.

Ketika invasi besar-besaran Rusia dimulai, orang tuanya sedang berada di kantor pendaftaran pada 25 Februari.

Sofiya, yang saat itu berusia 16 tahun, ingin bergabung dengan mereka. Karena terlalu muda untuk bertempur, ia menghabiskan waktunya di pangkalan sukarelawan bersama rekan-rekan tentara orang tuanya, belajar di sela-sela pelatihan.

“Seorang saudari seperjuangan mengajari saya bahasa Ukraina, yang lain mengajari saya sejarah. Kami berlatih di pangkalan,” tuturnya.

Pada tahun 2022, ia mendaftar di Akademi Kyiv-Mohyla. Bahkan setelah menandatangani kontrak dengan Brigade Serangan Terpisah ke-3 pada usia 19 tahun, ia masih melanjutkan studi hukumnya.

Dia mengikuti ujian dari ruang bawah tanah, terkadang berhenti di tengah ujian untuk mengevakuasi tentara yang terluka.

Awalnya ia bermaksud mempelajari administrasi publik untuk membantu para veteran. Namun, pengabdiannya kini menariknya ke arah hukum pidana internasional.

Ini berguna untuk menguji apakah hukum tersebut dapat membuat perbedaan dan untuk membantu dalam penyelidikan kejahatan perang.

Saat bertugas, ia bertemu dengan Bohdan (22 tahun), yang kini menjadi pacarnya.

Bohdan pernah bertempur di Bakhmut di unit penyerangan dan terluka. Kini, ia bertugas di posisi berbeda di brigade yang sama dengan Sophia.

Mimpinya adalah membuka bar. “Saya tidak punya visi yang jelas — kita harus bertahan hidup dulu untuk mengetahuinya,” kata Sophia Yanchevska.

“Tapi saya tahu alasan saya berjuang: demi keluarga saya, dan demi kesempatan anak-anak saya di masa depan untuk tinggal di Ukraina, berbicara bahasa Ukraina, membaca buku-buku kami, menonton film-film kami”, katanya.

 

Ivanna Tsimerman (23 tahun)

Ivanna Tsimerman (23 tahun), kini bertugas di unit komando di Kyiv setelah terluka dalam pertempuran.

Bagi Ivanna Tsimerman, keputusan untuk mendaftar ke militer Ukraina datang pada pagi hari tanggal 24 Februari 2022.

Di usia 20 tahun, ia memasuki kantor rekrutmen. “Saya sudah mempersiapkan diri secara mental sebelumnya, tetapi ketika ledakan mulai terjadi pukul 4 pagi, keraguan itu hilang,” kenangnya.

Awalnya, dia ditugaskan pada tugas-tugas administrasi dan kemudian mulai diterjunkan ke medan tempur.

“Ketakutan terbesar saya saat itu adalah saya tidak akan punya waktu untuk berperang sebelum perang berakhir,” katanya.

Tahun itu, ia juga menyelesaikan tahun keempatnya di Universitas Negeri Zhytomyr.

Ia sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri, tetapi dekannya mendesaknya untuk melanjutkan. Ia belajar jarak jauh dengan program individual dan lulus sambil bertugas.

Terluka pada tahun 2023 dan ditempatkan di cadangan, dia sekarang bertugas di unit komando di Kyiv.

“Sulit untuk mundur setelah tiga tahun bertempur. Militer memberi kita komunitas, orang-orang yang berpikir seperti kita. Sangat sulit menemukan komunitas seperti itu di tempat lain,” ujarnya.

Setelah pengalamannya di garis depan medan perang, ia sulit mempercayai perdamaian yang cepat.

“Tentu saja, saya ingin ini berakhir, tetapi ini bukan momen yang membahagiakan. Terlalu banyak yang tewas,” kata Tsimerman.

 

Serhiy Dodurov (20 tahun)

Serhiy Dodurov, (20 tahun) mahasiswa hukum yang kini menjadi tentara di Resimen Sistem Pilot ke-412 (Nemesis).

Serhiy Dodurov pertama kali mempertimbangkan untuk bergabung dengan militer pada awal tahun 2022. Ia baru berusia 18 tahun dan sedang belajar hukum di Akademi Kyiv-Mohyla.

Awalnya, ia mengatakan ia mengira tentara “sudah cukup banyak orangnya,” tetapi lonjakan iklan rekrutmen setelah serangan balik tahun 2023 mengubah pikirannya.

“Itu adalah titik balik. Saya tidak bisa terus-menerus mengatakan pada diri sendiri bahwa mereka tidak membutuhkan saya,” kata Serhiy.

Ia menandatangani kontrak pada Januari 2024 dan mengambil cuti akademik meski angkatannya lulus tanpa dirinya. Ia mengatakan hal itu membuat keputusan untuk mundur lebih mudah.

Sekarang, Serhiy bertugas di Resimen Sistem Pilot ke-412, yang dikenal sebagai Nemesis, bekerja di bidang intelijen dan analitik.

Ia takut kehilangan kendali atas waktunya, tetapi kematian juga menghantuinya. Ia menulis surat wasiat sebelum bergabung dan berencana memperbaruinya.

“Ada saat-saat di Donbas ketika saya benar-benar berpikir saya mungkin tidak akan kembali,” katanya.

Kini, saat mendengar kata “perencanaan”, yang ada dipikirannya bukan lagi kehidupan dirinya sendiri, melainkan rekan-rekannya dan misi mereka. “Pekerjaan mengubah bahasa dan arti kata-kata,” katanya.

Sulit baginya membayangkan kehidupan setelah perang. “Banyak sekali pertanyaan yang belum terjawab. Dan di sini, semuanya sederhana: bangun, kerjakan tugasmu, lacak target, tidur. Ulangi,” katanya.

 

Oleksandr Romanuk (20 tahun)

Oleksandr Romanuk, (20 tahun) petugas medis tempur di Brigade Serbu ke-3 Ukraina.

Sejak kecil, Oleksandr Romanuk telah terpesona pada masa lalu Ukraina.

“Saya tumbuh besar dengan cerita-cerita tentang bangsa Cossack, tentang orang-orang yang mengorbankan nyawa mereka demi negara dan bangsa kita,” kenangnya. Ibunya, yang telah menjadi sukarelawan sejak dimulainya perang di Donbas pada tahun 2014, sering bercerita kepadanya tentang apa yang dialami para prajurit.

Jadi ketika Rusia melancarkan invasi besar-besarannya pada tahun 2022, Oleksandr, yang saat itu baru berusia 17 tahun, berlari ke kantor pendaftaran setempat — tetapi ditolak karena usianya.

Dia ingin menjadi sukarelawan untuk mengantarkan perlengkapan dan berencana untuk mendaftar saat memenuhi syarat.

Pada akhir tahun 2023, setelah pelatihan dan pembicaraan panjang dengan ibunya, ia bergabung dengan Brigade Serbu ke-3, salah satu unit Ukraina yang paling teruji dalam pertempuran.

Keluarganya menerima keputusan itu, meski dengan air mata.

“Semua orang mendukung saya. Tapi adik perempuan saya yang berusia sembilan tahun sering menangis ketika saya pergi, dan itu bagian tersulitnya,” ujarnya.

Ia menjadi petugas medis tempur peleton dalam unit yang dijuluki “Decepticons”.

Awalnya, ia mengira petugas medis tidak akan masuk ke parit perlindungan, tetapi ternyata lebih dari itu.

Dia harus punya keberanian besar untuk menolong tentara yang terluka di saat terjadi kontak senjata.

“Kami juga melakukan penyerangan. Dan saya berhasil melewati lebih dari satu. Saya bangga bisa melakukannya,” tuturnya.

Menjelang salah satu misi, Kampusnya menyuruh dia mengikuti ujian atau mengundurkan diri. Tetapi setelah orang tua teman-teman sekelasnya turun tangan, universitas memberinya cuti akademik hingga tahun 2027.

Dia sekarang berharap untuk tetap menjadi tentara setelah perang.

“Awalnya, saya pikir saya akan kembali ke kehidupan sipil. Tapi semakin lama saya bertugas, semakin mustahil rasanya,” ujarnya.

 

Deniz (18 tahun)

Deniz (18 tahun), bergabung dengan pasukan pertahanan udara Ukraina.

Deniz telah menantikan hal ini sejak ia berusia 15 tahun. Saat itu, di awal invasi besar-besaran Rusia, ia dan teman-temannya membuat bom molotov dan berbicara tentang membela Ukraina.

Ketika akhirnya menginjak usia 18 tahun, ia langsung pergi ke pusat perekrutan di dekat kota asalnya, Sumy.

Meskipun ia seorang penyanyi terlatih dan bisa saja ditugaskan ke orkestra militer, Deniz meminta posisi di pertahanan udara.

Beberapa unit memanggilnya kembali, tetapi beberapa menolaknya karena usianya. Ia juga harus meyakinkan keluarganya.

“Semua orang menentangnya. Jadi saya bilang saya akan bekerja sebagai instruktur saja. Bukan tentara. Seperti pekerjaan biasa. Saya tahu saya akhirnya akan menandatangani kontrak juga,” katanya.

Dia yang termuda di unitnya, dikelilingi pria-pria yang usianya dua kali lipat darinya.

Namun, katanya, ikatan yang ia rasakan dengan mereka tak tertandingi.

Ia masih berharap untuk menekuni musik suatu hari nanti, tetapi merasa ia sudah berada di tempat yang tepat sekarang.

“Pengalaman yang mereka miliki, seberapa besar kepedulian mereka — semua itu mengubah cara pandang kita terhadap segala hal. Saat ini, saya tidak tahu bagaimana hidup tanpa semua ini,” ujarnya.

 

Ruslana Danilkina (19 tahun)

Ruslana Danilkina (19 tahun) tetap tegar meski kehilangan satu kaki dalam perang lawan Rusia.

Ruslana, adalah prajurit muda Ukraina dengan panggilan “Simka”

Wanita pemberani ini juga dipanggil Rusya. Ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Ukraina pada 24 Februari tahun lalu, saat usianya baru 18 tahun, sebagai reaksi atas invasi besar-besaran Rusia.

Ia bertugas sebagai operator sistem komunikasi hingga 10 Februari tahun 2023 lalu, ketika kendaraannya terkena tembakan rudal di wilayah Kherson dan ia kehilangan sebagian kakinya.

Setahun yang lalu, ia secara sukarela bergabung dengan Ukraine Army dan menjadi operator sinyal.

Meski sempat terluka parah, Namun baginya, tak ada peluru, ranjau, proyektil, bom, atau rudal yang dapat membunuh semangatnya.

Ruslana Danilkina (19 tahun) jadi model majalah Vogue.

Ruslana Danilkina berasal dari Odessa. Ia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Ukraina pada usia reatif masih muda belia.

Ia kehilangan kaki kirinya, sehingga Ruslana harus menjalani lima operasi sebelum akhirnya mendapatkan kaki palsu berkat bantuan badan amal Superhumans. Ia benar-benar manusia super, seorang pahlawan!

Ia kini bekerja di pusat prostetik, bedah rekonstruksi, rehabilitasi, dan perawatan psikologis bagi korban perang

“Aku ingin menunjukkan kepadamu bahwa menjadi cantik dan bahagia itu mungkin, apa pun yang terjadi!”, katanya mantap.

Sekarang setelah sembuh, meski dengan kaki palsu ia bangkit lagi. Ia sudah lancar berjalan dan bepergian. Ia membantu orang-orang yang terluka lainnya kembali ke kehidupan normal.

“Aku ingin negara kita tidak mengasihani orang-orang yang telah meninggalkan jejak perang. Orang-orang yang terluka tetaplah orang yang sama. Hanya saja, masing-masing dari mereka memiliki kisah perjuangannya sendiri, kisah ketakutan dan kemenangan. Aku ingin setiap orang yang telah berkorban untuk tidak takut kembali ke masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain”, katanya.

Kisah perjalanan hidup Ruslana Danilkina ini, mendapat pujian dan dukungan banyak orang.

Ruslana bahkan diundang secara khusus majalah elite Vogue, untuk wawancara dan pemotretan.

Wajah Ruslana dinilai cantik dan kisah perjuangannya sebagai tentara Ukraina tetap tegar, meski terkena bom milter Rusia, serta memberi banyak inspirasi termasuk motivasi bagi kaum muda.

Karina (20 tahun) dari Brigade TDF 113 Ukraina.

Karina (20 tahun)

Karina dengan tanda panggilan “Furya”.  Gadis ini menjadi tentara Ukraina ketika usianya 19 tahun. Setahun yang lalu ia bergabung dengan militer.

Sekarang, ia adalah pilot UAV atau pesawat nirawak (drone) yang terampil.

Ia telah memiliki pengalaman tempur yang nyata dan hasil yang solid dalam perang melawan Rusia.

Berasal dari wilayah Luhansk, keluarganya menghabiskan dua tahun di bawah serangan terus-menerus militer Rusia.

Masa itu mengubah segalanya baginya. Ia akhirnya mendaftar untuk menjadi prajurit. Sekarang ia melawan balik dari udara.

Setiap hari Karina harus mengoperasikan drone untuk menyerang pasukan, peralatan tempur atau sasaran militer Rusia

Bersama sejumlah tentara di Brigade TDF ke-113, Karina mampu menerbangkan berbagai jenis drone, baik itu pembawa bom, maupun jenis pesawat nirawak pengejar drone musuh (anti drone).

Setiap hari ratusan sasaran musuh mereka hancurkan. Ada kebanggaan dalam dirinya karena bisa ikut terlibat mempertahankan negaranya, Ukraina dari invasi Rusia.

Mottonya: “Masuk Angkatan Bersenjata—atau untuk Angkatan Bersenjata!”

 

Nelly (21 tahun)

Nelly. Wanita muda yang gesit mengejar musuh dengan tembakan mortir.

Seorang penembak senior di baterai mortir.  Gadis berusia 21 tahun ini sebelumnya pernah belajar akting. Namun kini ia menekuni seni tempur di medan perang melawan Rusia.

Dalam sebuah video, Nelly dan unitnya dikerahkan di wilayah Donetsk, demi mempertahankan wilayah Ukraina.

Ia begitu cekatan turun dari mobil dan berlari menyiapkan peralatan tempur mortir di sebuah lokasi, untuk membidik sasaran kelompok kendaraan musuh, Rusia.

Nelly lahir di Kyiv, Ukraina. Ia sebelumnya kuliah di Kyiv National Karpenko – Universitas Kary.

Nelly menyebut senjata mortir sudah menjadi bagian dari hidupnya ketika Rusia menyerang tanah airnya, Ukraina.

“Mortir bukan senjata super akurat. Biasanya ketika kami mendeteksi atau melihat ada pergerakan musuh, kami akan membidiknya”, jelasnya.

Menurut dia, perang melawan Rusia adalah perjuangan untuk negara yang bebas, Ukraina.

Ia tidak setuju Rusia seenaknya merampas wilayah Ukraina. “Tidak akan ada perdamaian tanpa Krimea, Luhansk dan Donbas. Semua itu milik kami”, tegas Nelly.

Ia berharap suatu saat nanti Ukraina akan menang perang lawan Rusia, sehingga ia dan rekan-rekannya bisa bebas bepergian ke mana saja di wilayah Ukraina.

“Ada sesuatu yang akan saya lakukan ketika Ukraina menang perang. Saya akan mengunjungi kuburan tempat para pejuang perang kami terbaring. Saya akan duduk di sana dan mengatakan kepada mereka bahwa kami melakukan semuanya bersama”, katanya dengan tegar.(P-Jeffry W)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025