Pemerintah Indonesia mengkaji strategi Toyota demi memperkuat industri otomotif nasional

Zamir Ambia
Minggu, 20 September 2026
OTOMOTIF 0 72
3 menit membaca

PRIORITAS, 20/9/26 (Jakarta): Pemerintah mempelajari pengalaman Toyota dalam mengembangkan kapabilitas industri untuk meningkatkan daya saing industri otomotif nasional.


Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan pengembangan inovasi dapat mencakup penguatan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan rantai pasok.

“Toyota merupakan salah satu contoh terbaik bagaimana inovasi, penguasaan teknologi, pengembangan SDM, dan penguatan rantai pasok dapat membangun industri yang berdaya saing global. Pengalaman tersebut relevan bagi Indonesia dalam terus memperkuat industri manufaktur dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri,” ujar Susiwijono saat mengunjungi Toyota Commemorative Museum of Industry and Technology (TCMIT) di Nagoya, dikutip di Jakarta, Minggu (20/9/26).

Susiwijono menilai pengalaman Toyota dalam membangun kapabilitas industri sejalan dengan upaya Indonesia memperkuat daya saing sektor manufaktur.


Toyota telah menjalin kerja sama dengan Indonesia selama lebih dari lima dekade. Perusahaan tersebut juga turut mendorong pertumbuhan industri otomotif nasional.

Toyota Indonesia mencatat produksi 10 juta unit kendaraan. Dari jumlah tersebut, lebih dari 3 juta unit telah Toyota ekspor ke lebih dari 100 negara.

Sementara itu, investasi Toyota Group di Indonesia mencapai sekitar Rp100 triliun. Investasi tersebut menopang ekosistem industri yang melibatkan lebih dari 360.000 tenaga kerja.

Kandungan lokal atau local content dalam ekosistem produksi Toyota di Indonesia juga telah mencapai lebih dari 80 persen.

Ekosistem tersebut mencakup lebih dari 240 pemasok Tier-1 serta sekitar 520 pemasok Tier-2 dan Tier-3. Jaringan pemasok itu memperkuat keterhubungan industri otomotif dengan sektor komponen dalam negeri.

Capaian tersebut menunjukkan peran Indonesia telah berkembang dari pasar otomotif menjadi salah satu basis produksi dan ekspor Toyota ke pasar global.

Penguatan ekosistem kendaraan elektrifikasi

Pemerintah menilai penguatan ekosistem industri semakin penting seiring transformasi sektor otomotif menuju kendaraan yang lebih ramah lingkungan.

Susiwijono mengatakan perkembangan kendaraan elektrifikasi dapat membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas rantai nilai industri. Peluang itu mencakup produksi baterai dan komponen, pengembangan sektor daur ulang, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

“Transformasi menuju kendaraan elektrifikasi membuka peluang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir, termasuk pengembangan baterai, komponen, daur ulang, dan sumber daya manusia. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi bagian penting dari rantai nilai kendaraan elektrifikasi global,” tuturnya.

Dalam pengembangan kendaraan elektrifikasi, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan kemitraan strategis dengan Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) pada April 2026.

Kemitraan tersebut mencakup pengembangan produksi baterai kendaraan elektrifikasi di Indonesia dengan nilai investasi Rp1,3 triliun.

Produksi itu mencakup pengembangan sel dan modul baterai. Toyota juga memproyeksikan Indonesia sebagai basis ekspor baterai ke pasar global mulai semester II 2026.

Pemerintah selanjutnya akan mendorong kolaborasi dengan pelaku industri untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional. Langkah tersebut juga mencakup perluasan pasar ekspor dan peningkatan kemampuan industri menghadapi perubahan teknologi.

Kunjungan Susiwijono ke TCMIT menjadi bagian dari upaya memperkuat dialog pemerintah dan Toyota. Dialog tersebut membahas pengembangan industri manufaktur, inovasi teknologi, rantai pasok, elektrifikasi kendaraan, pengembangan SDM, dan perluasan ekspor. (P-*r/Zamir Ambia)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan