
Ilustrasi kekeringan.(Kompas.com)PRIORITAS, 16/9/26 (Jakarta): Perekonomian dunia semakin jauh dari kata tenang kurang dari dua tahun setelah Donald Trump kembali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).
Adapun Trump mengawali pemerintahannya dengan sejumlah kebijakan yang sangat kontroversial.
Diawali dari pemberlakukan tarif resiprokal yang dikenakan terhadap banyak negara mitra dagang AS. Dengan alasan untuk melindungi industri dan pekerja di dalam negeri AS.
Untuk kebijakan ini cukup mengguncang perdagangan dunia pada Awal April 2025. Imbasnya, barang yang masuk ke pasar domestik AS jadi lebih mahal, yang membuat rantai pasok harus disusun ulang, sedangkan negara-negara yang terdampak menyiapkan balasanan, khususnya China.
Kemudian ketidakpstian pun tak cukup berhenti di persoalan tarif. Perang antara AS-Israel dengan Iran yang dibuka pada akhir Ferbuari lalu, membuka persoalan yang jauh lebih besar karena dampaknya cukup mengganggu pasokan energi serta jalur perdagangan global.
Dengan kedua hal tersebut saja, penderitaan sudah cukup banyak di rasakan di banyak negara di berbagai belahan dunia. Tekanan inflasi yang melanda dunia, memaksan banyak bank sentral untuk mulai mengencangkan kebijakan moneternya, yang tentu saja mempertaruhkan pertumbuhan ekonomi.
Lewat kondisi-kondisi yang ada, CNBC Indonesia mencoba merangkum tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ekonomi dunia kini sedang tidak baik-baik saja.
1. Perang Iran yang Tak Kunjung Usai
Saat Amerika Serikat dan Israel mulai menggempur Iran pada 28 Februari 2026, perang diperkirakan tidak akan berlangsung lama.
Namun ternyata tujuh bulan berlalu, Iran belum menyerah. Teheran juga belum bersedia menerima perdamaian berdasarkan syarat yang ditentukan Washington.
Meskipun Washington masih dapat terus menjatuhkan bom ke wilayah Iran, namun, Teheran telah menunjukkan bahwa perang dapat dibalas dengan memperlebar medan pertempuran dan menyerang titik-titik penting milik AS di seluruh kawasan.
Adapun perang yang semula diperkirakan selesai dalam hitungan pekan akhirnya berlarut-larut selama berbulan-bulan. Pertempurannya tidak lagi hanya berlangsung di langit Iran, tetapi telah merambat ke pangkalan militer, fasilitas energi, dan jalur perdagangan Timur Tengah.
Pada titik inilah perang Iran mulai berubah menjadi persoalan bagi seluruh dunia.
2. Jalur Minyak Terganggu
Untuk peta Timur Tengah dipenuhi jalur sempit yang menentukan hidup matinya perdagangan energi dunia. Salah satu yang paling penting adalah Selat Hormuz.
Sesaat sebelum perang, aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 21,6 juta barel per hari pada kuartal IV-2025. Setelah pertempuran membesar, volumenya merosot menjadi hanya 4,9 juta barel per hari pada kuartal II-2026.
Jalur minyak Timur Tengah akhirnya terganggu dalam waktu bersamaan. Hormuz sulit dilewati, pipa East-West rusak, sedangkan Bab el-Mandeb semakin berbahaya.
Kalau satu pintu tertutup, pasokan masih dapat dialihkan melalui pintu lain. Kali ini, hampir semua pintu sedang bermasalah.
3. Harga Minyak Tembus Meroket
Akibat peang, pasar minyak tidak membutuhkan waktu lama untuk bereaksi. Setiap rudal yang terbang di Timur Tengah, kapal yang diserang di Hormuz, dan kerusakan pada pipa Arab Saudi langsung menambah kekhawatiran terhadap pasokan.
Kemudian pada perdagangan Selasa (15/9/26), kenaikan harga minyak berlanjut. Kontrak Brent untuk pengiriman November naik hampir 3 persen dan ditutup di US$108,75 per barel. Sementara itu, minyak WTI menguat lebih dari 4 persen menjadi US$105,83 per barel.
Saat minyak naik, biaya-biaya tersebut ikut bergerak. Perusahaan mungkin menahannya untuk sementara, tetapi tidak selamanya. Sebagian kenaikan pada akhirnya berpindah ke harga jual dan dibayar oleh konsumen.
4. Cicilan Membengkak
Gejolak tidak hanya tampak di pasar minyak. Kegelisahan serupa menjalar ke pasar surat utang. Investor mulai menjual obligasi karena khawatir lonjakan harga energi akan kembali mengobarkan inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral akan menahan suku bunga tinggi lebih lama atau bahkan menaikkannya kembali.
Hari Selasa (15/9/26), biaya pinjaman pemerintah global mencapai level tertinggi sejak krisis keuangan 2008. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan menembus 5 persen, mencerminkan tekanan dari melonjaknya utang global dan risiko inflasi.
Harga minyak yang naik di atas US$100 per barel akibat konflik yang meluas turut memperkuat tekanan inflasi. Kondisi ini mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral.
Masih banyak kondisi-kondisi buruk yang saat ini sedang dan akan dialami saat ini.
Seperti misalnya ancaman terbesarnya ada di pertanian. Kekeringan akan mengurangi hasil panen, sedangkan banjir akan merusak tanaman dan menghambat distribusi barang.
Pasalnya gangguan di satu negara dapat menjalar jauh melewati perbatasannya. Produksi yang berkurang mendorong harga naik, negara pengekspor dapat membatasi penjualan, dan pembeli berebut pasokan yang tersisa.
Para petani juga sudah menghadapi harga pupuk, bahan bakar, dan transportasi yang lebih mahal akibat perang. Biaya menanam meningkat, sementara hasil panen terancam menyusut.(P-*/am)