Bupati Sigi Moh Rizal Intjenae didampingi Kepala Lapas Perempuan Palu Yoesiana memberikan remisi kepada perwakilan warga binaan yang mendapatkan remisi pada momentum HUT Ke-81 RI, di Lapas Perempuan Kelas III Palu di Dolo, Sigi, Sulteng, Senin (17/8/26). (‘Courtesy’ Antara/Moh Salam)PRIORITAS, 17/8/26 (Sigi): Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Palu terus mengoptimalkan pembinaan warga binaan. Program tersebut mencakup pembinaan kepribadian, keterampilan, kemandirian, hingga pemenuhan hak dasar.
Kepala Lapas Perempuan Palu Yoesiana mengatakan pembinaan berlangsung melalui berbagai kegiatan harian. Kegiatan itu mencakup pendidikan, olahraga, pemanfaatan perpustakaan, serta pembiasaan hidup bersih.
Menurut Yoesiana, pembinaan berlangsung sejak warga binaan bangun hingga kembali beristirahat. Selain itu, petugas menanamkan budaya bersih diri dan menjaga kebersihan lingkungan lapas.
Petugas juga menerapkan budaya 3S, yakni Senyum, Sapa, dan Salam. Karena itu, pembinaan tidak hanya berfokus pada kepatuhan terhadap aturan. Program tersebut juga mendorong perubahan karakter dan perilaku warga binaan.
Yoesiana menegaskan warga binaan wajib mematuhi seluruh aturan hukum dan tata tertib. Dengan demikian, pembinaan kepribadian berjalan seiring dengan pembentukan sikap disiplin.
Selain pembinaan kepribadian, lapas mengembangkan program kemandirian. Program itu memberikan pelatihan keterampilan pada bidang wirausaha dan jasa.
Warga binaan menghasilkan berbagai produk kerajinan dan makanan olahan. Beberapa produk unggulan antara lain rajutan, bawang goreng khas Palu, dan olahan cokelat.
Mereka juga mendapat pelatihan tata rias salon dan layanan laundry. Selanjutnya, lapas mengarahkan warga binaan untuk mendukung program ketahanan pangan.
Lapas Perempuan Palu menerapkan sistem hidroponik dalam program ketahanan pangan. Petugas dan warga binaan juga memanfaatkan lahan di sekitar lapas secara produktif.
Lahan seluas 1.300 meter persegi di samping lapas kini memiliki kolam ikan dan perkebunan jagung. Pemanfaatan lahan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pelatihan kemandirian.
Dengan kegiatan tersebut, warga binaan memperoleh pengalaman yang dapat mereka gunakan setelah bebas. Karena itu, pembinaan tidak berhenti pada kegiatan di dalam lapas.
Yoesiana berharap seluruh program tersebut membentuk warga binaan menjadi pribadi yang lebih baik. Ia juga berharap mereka mampu hidup mandiri setelah menyelesaikan masa pidana.
Melansir Antara News Sulteng, pada momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Lapas Perempuan Palu memberikan remisi kepada 157 warga binaan. Pengurangan masa hukuman tersebut bervariasi antara satu hingga enam bulan.
Saat ini, Lapas Perempuan Palu menampung 216 orang. Jumlah tersebut terdiri atas 180 narapidana dan 36 tahanan.
Yoesiana menjelaskan petugas telah memverifikasi seluruh penerima remisi. Proses tersebut juga mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Menurutnya, remisi dapat menjadi motivasi bagi warga binaan untuk mengikuti pembinaan secara sungguh-sungguh. Selain itu, mereka perlu menjaga keamanan dan ketertiban serta menunjukkan perubahan perilaku.
Pembinaan yang terintegrasi diharapkan mempersiapkan warga binaan kembali kepada keluarga dan masyarakat. Dengan bekal kepribadian dan keterampilan, mereka memiliki peluang lebih besar menjalani kehidupan secara mandiri setelah bebas. (P-*Ant/sm)