Senat AS sahkan RUU target lumpuhkan sumber dana perang Presiden Rusia

Jeffry Wuisan
Sabtu, 8 Agustus 2026
3 menit membaca

PRIORITAS, 8/8/26 (Washington):
Senat Amerika Serikat (AS) hari Jumat (waktu setempat) telah mengesahkan paket Rancangan Undang Undang (RUU) yang akan menjatuhkan sanksi besar-besaran dan sangat berat terhadap sumber-sumber uang pemerintahan Presiden Rusia, Vladimir Putin.


RUU sanksi bernama ‘Lindsey Graham’ (menghormati mendiang Senator Graham) itu, memang menargetkan untuk mematikan semua pendanaan perang Rusia terhadap Ukraina.

Salahsatu paket sanksi adalah bertujuan untuk memutus pendapatan energi Rusia yang selama ini menjadi sumber dana utama Putin.

Senat telah mengirimkan rancangan undang-undang tersebut ke Dewan Perwakilan Rakyat AS, di mana pemungutan suara diperkirakan dilakukan bulan September setelah reses musim panas kongres.


Setelah disahkan Kongres, Undang-undang tersebut akan menjatuhkan sanksi kepada pejabat Rusia, oligarki, lembaga keuangan, dan armada tanker bayangan yang digunakan Moskow untuk menghindari pembatasan ekspor minyaknya.

Tarif hingga 500 persen

Undang-undang itu juga akan memberikan wewenang kepada Presiden AS, Donald Trump, untuk menetapkan tarif hingga 500 persen pada impor Rusia, termasuk gas dan minyak.

Salah satu ketentuan utama akan memungkinkan Trump untuk mengenakan tarif hingga 100 persen pada barang-barang dari negara-negara yang merupakan pembeli utama minyak dan gas Rusia, termasuk China dan India.

Para pendukung UU tersebut berpendapat memutus pendapatan energi sangat penting untuk membatasi kemampuan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam membiayai perang di Ukraina, yang kini memasuki tahun kelima.

Jika disahkan menjadi undang-undang, Putin sendiri akan termasuk di antara mereka yang menjadi sasaran, bersama dengan pejabat senior lainnya.

Paket sanksi terhadap Putin itu dirancang Senator AS Lindsey Graham, seorang Republikan dari Carolina Selatan, sebelum ia meninggal.

Graham, yang meninggal pada 11 Juli 2026 lalu, menghabiskan lebih dari setahun membangun dukungan untuk Rancangan Undang Undang tersebut.

Tak lama sebelum kematiannya, Graham mengumumkan ia telah mencapai kesepakatan dengan Gedung Putih mengenai versi revisi teks tersebut.

Darline Graham, saudara perempuan senator yang menggantikannya di Kongres, mengatakan pengesahan akhir RUU tersebut akan menghormati saudara laki-lakinya sekaligus mempromosikan “perdamaian dengan memutus pendanaan yang membiayai mesin perang Rusia.”

Sangat memukul Rusia

Senator Demokrat Jeanne Shaheen, anggota Komite Hubungan Luar Negeri Senat, mengatakan undang-undang tersebut sangat memukul sektor energi dan keuangan Rusia.

“Vladimir Putin hanya memahami kekuatan, dan dia hanya menanggapi tekanan”, ujarnya.

Tekanan Undang-undang ini merupakan kesempatan terbaik untuk akhirnya membuat mesin perang Rusia bertekuk lutut dan memaksa Putin ke meja perundingan, lapor Turkiye Today.

Kedutaan Besar Rusia di Amerika Serikat mengutuk RUU tersebut, dengan mengatakan bahwa RUU itu “merugikan pemerintahan AS saat ini.”

Keputusan Senat AS ini terjadi ketika Rusia juga menghadapi tekanan yang semakin besar dari Eropa.

Uni Eropa menyetujui paket sanksi ke-21 bulan lalu sejak invasi ke Ukraina pada tahun 2022.

Paket kebijakan Uni Eropa terbaru berfokus pada pembekuan tingkat batas harga minyak, yang dimaksudkan untuk mencegah Rusia mengambil keuntungan dari lonjakan harga minyak terkait perang Timur Tengah.

Paket tersebut juga menargetkan sektor keuangan Rusia dan perusahaan mata uang kripto serta menambahkan puluhan pejabat Rusia lainnya ke daftar hitam Uni Eropa terkait perang.(P-*/jw)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan