
Rahasia ekonomi Indonesia menurut Bank Dunia.(Ilustrasi/AI)PRIORITAS, 15/6/26 (Jakarta): Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Bank Dunia menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang kuat. Kekuatan konsumsi domestik, aktivitas investasi yang tetap berjalan, serta stabilitas ekonomi makro menjadi fondasi utama yang menopang pertumbuhan nasional di tengah berbagai tekanan eksternal. Namun, untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, Indonesia dinilai perlu melakukan reformasi produktivitas secara menyeluruh.

Mengutip sejumlah media, Bank Dunia menegaskan bahwa permintaan domestik masih menjadi mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Besarnya pasar dalam negeri membuat Indonesia relatif lebih tahan terhadap gejolak ekonomi global dibanding banyak negara yang sangat bergantung pada ekspor.
Ketahanan konsumsi rumah tangga, ditopang oleh aktivitas ekonomi yang terus bergerak dan tingkat pengangguran yang relatif terkendali, menjadi faktor penting yang menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Meski demikian, Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5 persen, lebih rendah dibanding target pemerintah yang berada pada rentang 5,4 hingga 6 persen. Proyeksi tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan fiskal dan ketidakpastian ekonomi global.

Di balik ketahanan ekonomi Indonesia saat ini, Bank Dunia mengingatkan adanya persoalan struktural yang perlu segera dibenahi, yakni rendahnya pertumbuhan produktivitas.
Menurut lembaga tersebut, produktivitas menjadi faktor kunci yang menentukan kemampuan Indonesia untuk keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah dan mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Pertumbuhan ekonomi yang hanya ditopang oleh konsumsi tidak akan cukup untuk membawa Indonesia menjadi negara maju. Oleh karena itu, peningkatan produktivitas tenaga kerja, efisiensi industri, inovasi teknologi, serta kualitas sumber daya manusia menjadi agenda yang tidak bisa ditunda.
Salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus adalah industri manufaktur. Dalam beberapa tahun terakhir, kontribusi manufaktur terhadap produk domestik bruto (PDB) menunjukkan tren penurunan.
Padahal sektor ini selama ini dikenal sebagai mesin pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, meningkatkan nilai tambah, serta memperkuat daya saing ekspor nasional. Berbagai kajian Bank Dunia menunjukkan bahwa perlambatan produktivitas sektor manufaktur menjadi salah satu faktor yang membatasi potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia. )
Karena itu, reformasi regulasi, peningkatan kualitas tenaga kerja, penguatan rantai pasok industri, dan percepatan adopsi teknologi dinilai menjadi langkah penting untuk mengembalikan peran strategis manufaktur.
Bank Dunia juga menyoroti meningkatnya tekanan terhadap anggaran negara akibat tingginya belanja pemerintah dan membengkaknya biaya subsidi energi setelah lonjakan harga minyak dunia.
Lembaga tersebut mendorong pemerintah untuk melakukan reformasi subsidi secara bertahap agar anggaran negara lebih sehat dan ruang fiskal dapat digunakan untuk investasi produktif, pembangunan infrastruktur, pendidikan, serta perlindungan sosial yang lebih tepat sasaran.
Menurut Bank Dunia, subsidi yang bersifat umum sering kali lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi dibanding kelompok rentan yang seharusnya menjadi prioritas penerima bantuan.
Selain produktivitas, Bank Dunia menilai peningkatan investasi dan kualitas sumber daya manusia menjadi syarat mutlak untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih tinggi.
Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan berupa tingkat investasi yang relatif rendah dibanding sejumlah negara pesaing di kawasan Asia. Di sisi lain, kebutuhan industri terhadap tenaga kerja yang memiliki keterampilan tinggi terus meningkat.
Karena itu, penguatan pendidikan vokasi, peningkatan kualitas pelatihan kerja, serta penciptaan iklim investasi yang lebih kompetitif menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional.
Meski menghadapi berbagai tantangan, prospek jangka panjang Indonesia tetap dinilai positif. Dengan jumlah penduduk yang besar, pasar domestik yang kuat, serta kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki modal untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Namun Bank Dunia menegaskan bahwa peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila reformasi produktivitas dijalankan secara konsisten. Tanpa peningkatan produktivitas, pertumbuhan ekonomi berpotensi tertahan pada level moderat dan sulit mencapai target ambisius yang dicanangkan pemerintah.
Karena itu, reformasi produktivitas bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, melainkan kebutuhan mendesak agar Indonesia mampu mempertahankan daya saing, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewujudkan cita-cita menjadi negara maju dalam beberapa dekade mendatang.(P-sm)

