
Jakarta, Indonesia – August 7, 2018: Jakarta Light Rail Transit (LRT) construction site in Kuningan district.PRIORITAS, 3/5/26 (Jakarta): Pembangunan MRT Jakarta fase 2A terus bergerak di jalur percepatan. Proyek yang menghubungkan Bundaran HI hingga kawasan Kota Tua Jakarta ini ditargetkan rampung bertahap hingga 2029.

Segmen awal Bundaran HI–Monas menjadi prioritas. Bagian ini dibidik selesai dan mulai beroperasi pada akhir 2027, sementara jalur lanjutan hingga Kota ditargetkan tuntas dua tahun berikutnya.
Perkembangan terbaru terlihat dari tersambungnya rel antara Bundaran HI dan Thamrin. Penyambungan ini terjadi setelah rampungnya pengecoran lapisan dasar rel di terowongan arah utara.
Direktur Konstruksi MRT Jakarta, Weni Maulina, menjelaskan pekerjaan berikutnya akan difokuskan pada jalur arah selatan di lintasan yang sama.

“Metode kerja ini dilakukan karena kami juga siap untuk mulai melakukan instalasi pintu tepi peron atau platform screen door,” tutur Weni, dikutip dari KOMPAS.com, Kinggu (3/5/26).
Ia menambahkan, pekerjaan konstruksi akan berlanjut ke lintas Thamrin–Monas untuk kedua arah. Seluruh pengecoran track bed ditargetkan selesai pada akhir 2026, sementara pekerjaan sipil dituntaskan pada 2027.
Dengan tahapan itu, proses integrasi sistem, pengujian, dan uji coba operasi dapat segera dilakukan sebelum layanan dibuka untuk publik.
Dari sisi konstruksi, sejumlah paket pekerjaan menunjukkan progres signifikan. Paket CP201 telah mencapai lebih dari 92 persen. Sementara CP202 dan CP203 masing-masing berada di kisaran 60 hingga 80 persen. Paket sistem perkeretaapian juga mulai masuk tahap pengecoran jalur.
Secara keseluruhan, capaian 59,19 persen melampaui target 57,52 persen yang ditetapkan sebelumnya. Pengecoran track bed pada segmen Bundaran HI–Monas sendiri telah mencapai 769 meter.
Mengintegrasikan transportasi publik dengan kawasan
Selain mengejar progres fisik, proyek ini juga dikembangkan dengan konsep transit oriented development (TOD). Pendekatan ini mengintegrasikan transportasi publik dengan kawasan hunian, bisnis, dan ruang publik di sekitar stasiun.
Di sisi teknologi, MRT fase 2A menggunakan rel produksi Nippon Steel dengan sistem direct fixation track berbasis bantalan beton pra-tegang. Struktur ini dirancang memiliki umur pakai hingga 50 tahun dengan kebutuhan perawatan rendah.
Material tambahan seperti bantalan sintetis juga digunakan di titik persilangan rel. Material ini dikenal tahan terhadap air, bahan kimia, serta memiliki isolasi listrik yang baik.
Untuk penyambungan rel, proyek ini menerapkan metode continuous welded rail dengan teknik flash butt welding dan thermit welding. Teknik ini menghasilkan sambungan yang kuat dan stabil terhadap perubahan suhu ekstrem. (P-Khalied M)

