
Mata uang Iran, rial merosot hingga level terendah di tengah gencatan senjata dengan Amerika Serikat. (‘Courtesy’ Beritasatu.com/AP/Vahid Salemi)PRIORITAS, 30/4/26, (Teheran): Rial, mata uang nasional Iran, dilaporkan jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah pada Rabu (29/4/26) di tengah tekanan ekonomi yang semakin berat akibat blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) atas Selat Hormuz.

Kendati tak disebutkan angka kurs rial yang anjlok itu, kondisi ini terjadi saat gencatan senjata dengan AS yang dinilai rapuh masih berlangsung sekarang.
Sementara itu, para ahli memperingatkan, pelemahan rial semakin berpotensi memicu inflasi di Iran saat ini. Apalagi mengingat banyak barang impor yang beredar di Iran, mulai dari makanan, obat-obatan, elektronik, hingga bahan baku industri, sangat dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS di level global.
Blokade perbesar tekanan terhadap perekonomian

Sebagaimana dilansir AP, Kamis (30/4/26), dan dikutip Beritasatu.com, blokade yang diberlakukan AS juga memperbesar tekanan terhadap perekonomian Iran dengan menghambat pengiriman minyak, yang selama ini menjadi salah satu sumber utama pendapatan Teheran, sekaligus pemasok devisa negaranya.
Adapun di tengah situasi tersebut, para pemimpin rezim Iran disebut tetap bertaruh pada ketahanan ekonomi domestik yang selama puluhan tahun dibangun untuk mandiri di bawah tekanan sanksi internasional di masa lalu.
Sajak empat pekan setelah gencatan senjata yang sebagian besar menghentikan pertempuran, AS dan Iran masih berselisih dan tak menemui kesepakatan terkait Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima arus distribusi perdagangan minyak dan gas dunia tersebut.
Adapun penutupan Selat Hormuz oleh Iran semakin menambah tekanan bagi kedua pihak dan memicu dampak luas terhadap perekonomian global saat ini. Akibat kondisi ini mendorong kenaikan harga pangan, bahan bakar, serta berbagai produk turunan minyak bumi di mana-mana. (P-*r/Bst/jr)

