
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Jakarta, Jumat (24/4/26). (‘Courtessy’ Antara/Kemenko Perekonomian)PRIORITAS, 24/4/26 (Jakarta): JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia sebagai negara nomor dua paling tahan guncangan energi global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto pun sontak menilai laporan itu benar-benar mencerminkan ketahanan energi nasional saat ini. Apalagi laporan itu menganalisis 52 negara yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia, di mana Indonesia ternyata berada di atas China dan Amerika Serikat

Diketahui, laporan terbaru Eye on the Market bertajuk “Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026” yang dirilis pada 21 Maret 2026 menempatkan Indonesia di posisi kedua negara paling resilien terhadap gejolak energi global yang sangat dinamis kini.
Terkait itu, Menko Airlangga di Jakarta, Jumat (24/4/26), mengatakan, temuan tersebut mengafirmasi arah kebijakan ketahanan energi yang dijalankan pemerintah secara konsisten di tengah dinamika geopolitik dan fluktuasi harga komoditas energi global.
“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi,” katanya, dikutip Antara.

Memberi ruang fiskal lebih terkendali
Adapun di tengah volatilitas harga energi global, menurutnya, posisi tersebut dinilai memberi ruang fiskal lebih terkendali bagi APBN 2026, sekaligus membantu melindungi daya beli masyarakat dan menjaga keberlangsungan aktivitas dunia usaha kita.
Kendati begitu, Airlangga menegaskan, capaian itu tidak membuat pemerintah lengah terhadap berbagai risiko yang kemungkinan dihadapi.
Dikatakannya, pemerintah bakal terus memperkuat sejumlah kebijakan, antara lain optimalisasi produksi Migas domestik untuk menekan defisit neraca Migas dan meningkatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) kita.
Di samping itu, pemerintah mendorong percepatan transisi energi melalui pengembangan energi baru terbarukan (EBT) sesuai Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), memperluas adopsi kendaraan bermotor listrik berbasis baterai ke depan.
Selanjutnya juga akan berfokus pada diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi guna mengantisipasi risiko geopolitik ke depan. Kemudian, Kemenko Perekonomian akan terus mengoordinasikan kebijakan energi dan fiskal secara terintegrasi untuk menjaga momentum ketahanan tersebut, sekaligus memastikan manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat dan pelaku usaha kita.
JP Morgan analisis 52 negara
Sementara itu, laporan JP Morgan Asset Management itu menganalisis 52 negara yang mewakili sekitar 82 persen konsumsi energi dunia saat ini.
Disebutkan, laporan ini menggunakan indikator total insulation factor, yakni ukuran komposit dari produksi energi domestik, meliputi gas, batu bara, energi nuklir, dan energi terbarukan sebagai persentase dari konsumsi energi final tersebut.
Di atas China dan Amerika Serikat
Nah, Indonesia mencatatkan insulation factor sebesar 77 persen, sedikit di bawah Afrika Selatan (79 persen), serta berada di atas Tiongkok (76 persen) dan Amerika Serikat (70 persen).
Adapun ketahanan energi Indonesia ditopang oleh kontribusi besar produksi batu bara domestik yang memenuhi sekitar 48 persen konsumsi energi akhir nasional, diikuti gas bumi sebesar 22 persen dan energi terbarukan sekitar 7 persen.
Pada laporan tersebut, Indonesia dikelompokkan bersama China, India, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina sebagai negara yang memperoleh manfaat signifikan dari produksi batu bara domestik selama periode guncangan energi.
Di samping itu, Indonesia dinilai memiliki eksposur langsung yang sangat rendah terhadap jalur distribusi energi global yang rentan.
Apalagi impor minyak dan gas melalui Selat Hormuz hanya sekitar 1 persen dari total konsumsi energi primer nasional.
Dinilai, angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Korea Selatan (33 persen), Taiwan dan Thailand (27 persen), serta Singapura (26 persen).
Semenrara itu, negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, dan Belanda dinilai paling rentan akibat tingginya ketergantungan pada impor energi mereka. (P-*r/se)

