Pesan terakhir Zulmansyah kepada Adrianus Pusungunaung: “Torang basudara” — Sebuah warisan di ujung waktu

Sem Muhaling
Minggu, 19 April 2026
3 menit membaca

PRIORITAS 19/4/2024 (Manado); Dini hari itu, Sabtu 18 April 2026, kabar duka menyebar cepat di kalangan insan pers. Zulmansyah Sekedang, sosok yang selama ini dikenal tenang namun tegas, berpulang di Jakarta akibat serangan jantung.


Namun bagi sebagian orang, kepergiannya bukan hanya kehilangan seorang pemimpin. Ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih dalam—sebuah pesan sederhana yang kini terasa begitu berat maknanya.

Bagi Adrianus R. Pusungunaung, pesan itu datang di waktu yang nyaris tak terduga.

Beberapa hari sebelum kabar duka itu, telepon berdering. Di ujung sana, suara Zulmansyah masih terdengar seperti biasa—tenang, bersahabat, seolah tidak ada yang berubah. Mereka berbicara tentang organisasi, tentang PWI, tentang hal-hal yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang mereka.


Tidak ada tanda bahwa itu akan menjadi percakapan terakhir.

Persahabatan di Tengah Badai

Hubungan keduanya tidak lahir dalam situasi yang mudah. Mereka dipertemukan dalam masa paling rumit dalam sejarah organisasi—ketika PWI dilanda perpecahan dan tarik-menarik kepentingan.

Di tengah situasi itu, Adrian berdiri pada pilihan yang tidak populer. Ia memilih mendukung Zulmansyah dalam kubu Kongres Luar Biasa (KLB), sebuah langkah yang menempatkannya di tengah pusaran konflik. Namun justru dari situlah kedekatan itu tumbuh. Bukan sekadar relasi organisasi, tetapi persahabatan yang ditempa oleh tekanan, perbedaan, dan keyakinan.

“Yang beliau tekankan selalu sama—kita harus menjaga marwah organisasi,” kenang Adrian.

Jalan Panjang Menuju Damai

Waktu berjalan, konflik mereda. Puncaknya terjadi pada Kongres Persatuan di Cikarang, 30 Agustus 2025. Organisasi yang sempat terbelah akhirnya kembali utuh.

Di sana, Akhmad Munir dipercaya memimpin, sementara Zulmansyah berdiri sebagai Sekretaris Jenderal—posisi yang dijalankan dengan penuh dedikasi.

Bagi Adrian, fase itu adalah penegasan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan perpecahan. Ia juga mengenang sikap Voucke Lontaan, yang tetap merangkul semua pihak meski sebelumnya berada di posisi berseberangan.

“Dua kali saya berseberangan, tapi tetap dirangkul. Itu bukan hal biasa,” ujarnya pelan.

Pesan yang Tertinggal

Dan kemudian, datanglah pesan itu. Bukan dalam forum resmi. Bukan pula dalam pidato panjang. Hanya sebuah kalimat singkat, dikirim melalui WhatsApp:

“Jabatan bertukar silih berganti, persahabatan dan silaturahmi sampai mati… Torang basudara.”

Kini, setelah sang pengirim telah tiada, kalimat itu terasa berbeda. Lebih sunyi. Lebih dalam.

Seolah menjadi penutup dari sebuah perjalanan panjang—dan sekaligus warisan yang tak tertulis.

“Saya tidak akan pernah melupakan pesan itu,” kata Adrian, suaranya tertahan.

Di Antara Jabatan dan Kemanusiaan

Dalam dunia organisasi, jabatan datang dan pergi. Konflik muncul dan reda. Nama-nama silih berganti.

Namun di balik itu semua, ada hal yang sering terlupakan—persahabatan.

Zulmansyah, melalui pesan terakhirnya, seakan mengingatkan bahwa di atas segala dinamika, manusia tetaplah manusia. Bahwa di balik perbedaan, selalu ada ruang untuk saling merangkul.

Dan bahwa pada akhirnya, yang tersisa bukanlah jabatan. Melainkan hubungan yang dijaga hingga akhir. “Torang basudara.” Kalimat itu kini tidak lagi sekadar pesan. Ia telah menjadi kenangan.(P-Sem)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025

xIklan
xIklan