‘Slow jogging’ tren kebugaran sempurna, berlari dengan kecepatan ‘niko-niko’

Rebecca Wilhelmina T
Jumat, 18 September 2026
5 menit membaca

PRIORITAS, 18/9/26 (Jakarta): Pelari yang gemar berlari sering kali mengejar kecepatan. Entah itu untuk memperbaiki catatan waktu lari 5K atau memangkas beberapa detik dari waktu maraton demi mencetak rekor pribadi terbaik.

Gagasan bahwa olahraga harus melibatkan upaya lebih jauh, lebih keras, atau lebih cepat telah lama mengakar dalam budaya kebugaran.

Namun, di tengah pandangan umum tersebut, sebagian orang mulai mengadopsi keyakinan yang hampir berlawanan dengan arus utama: bahwa kunci kebugaran justru terletak pada sikap santai dan tidak terburu-buru.

Meningkatnya popularitas tren slow jogging” (lari santai) secara daring menentang banyak hal yang selama ini kita pelajari tentang kebugaran. Alih-alih mengejar kecepatan, tren ini justru mendorong orang untuk mengambil langkah-langkah pendek.

Itu dilakukan sambil bergerak dengan kecepatan yang cukup lambat sehingga mereka masih bisa mengobrol dengan nyaman.

Bagi sebagian orang, hal ini mungkin tampak terlalu mudah untuk dianggap sebagai olahraga. Padahal, olahraga tidak harus intens untuk meningkatkan kesehatan.

Dari Jepang ke Korsel, lalu dunia!

Dilansir dari theconversation.com edisi pekan ini, tren slow jogging awalnya dikembangkan oleh seorang peneliti asal Jepang bernama Hiroaki Tanaka.

Menurut sang peneliti, berlari dengan kecepatan “niko-niko” (yang berarti “kecepatan sambil tersenyum”) bisa menjadi cara yang lebih menyenangkan untuk meningkatkan kebugaran kardiovaskular.

Tren ini kemudian populer di Korea Selatan sebelum akhirnya viral di dunia maya dan kini diadopsi oleh banyak orang di seluruh dunia.

Bahkan pelari yang gemar berlari pun bisa mendapatkan manfaat dari ”slow jogging”. (Courtesy: Shutterstock via theconversation.com)

Meskipun penelitian khusus mengenai slow jogging masih terbatas, terdapat banyak bukti yang menunjukkan bahwa aktivitas aerobik berintensitas rendah hingga sedang dapat meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan kesejahteraan.

Fakta bahwa suatu aktivitas tampak mudah tidak berarti aktivitas tersebut tidak efektif. Hal ini dikarenakan intensitas olahraga bersifat relatif.

Kecepatan lari yang terasa ringan bagi pelari berpengalaman, mungkin terasa cukup menantang bagi seseorang yang selama ini jarang beraktivitas fisik. Nah, bagi orang tersebut, slow jogging tetap dapat memberikan stimulus yang berarti bagi sistem kardiovaskular dan membantu meningkatkan kebugaran aerobik seiring berjalannya waktu.

Oleh karena itu, slow jogging bisa sangat bermanfaat bagi orang yang jarang berolahraga atau bahkan belum pernah mencoba lari sebelumnya.

Seberapa banyak bergerak sepanjang hari

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa untuk melakukan aktivitas fisik berintensitas sedang selama 150 hingga 300 menit setiap minggunya.

Pedoman terbaru juga menekankan pesan yang lebih sederhana: melakukan aktivitas apa pun lebih baik daripada tidak sama sekali. Lebih banyak aktivitas umumnya lebih baik daripada sedikit, dan waktu yang dihabiskan dengan perilaku sedenter (kurang gerak) sebaiknya dikurangi.

Pesan ini mencerminkan bukti yang terus berkembang bahwa kurangnya aktivitas fisik itu sendiri merupakan risiko kesehatan. Kebiasaan duduk dalam waktu lama telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, dan kematian dini.

Para peneliti kini menyadari bahwa kesehatan tidak hanya dipengaruhi oleh seberapa banyak kita berolahraga, tetapi juga oleh seberapa banyak kita bergerak sepanjang hari. Di sinilah slow jogging bisa sangat bermanfaat.

Salah satu temuan paling konsisten dalam ilmu olahraga adalah bahwa peningkatan kesehatan yang signifikan sering kali terjadi ketika seseorang beralih dari gaya hidup yang hampir tidak aktif menjadi mulai melakukan aktivitas fisik.

Membantu mengatur kadar gula darah

“Slow jogging” bisa membantu mengatur kadar gula darah. (Courtesy: TBnews.polri.go.id)

Bagi seseorang yang selama ini kurang bergerak, memulai aktivitas secara bertahap dan rutin dapat meningkatkan kebugaran kardiorespirasi, mengatur kadar gula darah, menurunkan tekanan darah, serta mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke di masa depan.

Slow jogging menawarkan cara yang relatif mudah untuk mencapai hal tersebut. Dibandingkan dengan bergabung di pusat kebugaran (gym), mengikuti olahraga terorganisasi, atau mendaftar lomba lari, hambatan untuk memulainya tergolong rendah.

Kecepatannya dapat diatur dan mudah disesuaikan dengan berbagai usia, tingkat kebugaran, maupun kemampuan fisik seseorang.

Namun, manfaat slow jogging mungkin lebih dari sekadar membantu orang yang kurang aktif untuk mulai berolahraga.

Banyak video yang dibagikan secara daring memperlihatkan orang-orang melakukan slow jogging secara berkelompok. Aspek sosial ini bisa jadi merupakan hal yang penting.

Mempererat hubungan sosial

Salah satu faktor penentu terkuat bagi partisipasi jangka panjang dalam aktivitas fisik adalah apakah seseorang cukup menikmati aktivitas tersebut untuk terus melakukannya.

Olahraga yang dilakukan bersama teman, anggota keluarga, atau kelompok komunitas dapat mempererat hubungan sosial, memberikan rasa senang, dan menumbuhkan rasa kebersamaan—yang semuanya dapat mendukung konsistensi jangka panjang.

Manfaat bagi kesehatan mental juga mungkin tak kalah penting. Aktivitas fisik secara rutin dikaitkan dengan berkurangnya gejala kecemasan dan depresi, suasana hati yang lebih baik, serta kesejahteraan hidup yang lebih optimal secara keseluruhan.

Aktivitas yang memadukan gerakan fisik dengan interaksi sosial dapat memberikan manfaat yang melampaui sekadar kebugaran fisik semata.

Meningkatkan kebugaran

“Jogging” meningkatkan kebugaran. (Courtesy: Alodokter)

Joging santai bahkan bisa bermanfaat bagi mereka yang sudah rutin berolahraga.

Meskipun kecil kemungkinannya untuk menggantikan latihan yang lebih berat bagi mereka yang mengejar target kebugaran tertentu, atlet ketahanan yang ingin meningkatkan kebugaran aerobik—atau bahkan memperbaiki catatan waktu lomba mereka—bisa mendapatkan manfaat dengan memperlambat laju lari mereka.

Hal ini dikarenakan joging santai bisa jadi setara dengan apa yang sering disebut pelari sebagai “laju zona 2” (zone 2 pace), yaitu kecepatan lari yang meningkatkan detak jantung namun tetap cukup lambat untuk memungkinkan seseorang mengobrol.

Lari dengan intensitas lebih rendah ini dapat membantu pelari membangun fondasi aerobik mereka secara lebih efektif (yakni tingkat kebugaran dasar serta seberapa efisien tubuh menggunakan oksigen saat berlari jarak jauh).

Itu juga sekaligus melatih tubuh untuk membakar lebih banyak lemak sebagai sumber energi selama berolahraga.

Oleh karena itu, bagi orang yang aktif, joging santai bisa menjadi pilihan yang lebih ringan pada hari-hari ketika latihan intensitas tinggi tidak diperlukan atau tidak diinginkan.

Dilihat dari sudut pandang ini, daya tarik joging santai menjadi lebih mudah dipahami. Nilai utamanya mungkin bukan terletak pada statusnya sebagai bentuk olahraga baru yang revolusioner.

Sebaliknya, hal ini mencerminkan kesadaran yang kian berkembang bahwa upaya menjaga kesehatan tidak harus dilakukan secara ekstrem agar bermanfaat.

Terkadang, tantangan terbesarnya hanyalah menemukan jenis aktivitas fisik yang cukup disukai seseorang sehingga mereka mau melakukannya secara konsisten. (P-*/rwt)

Terverifikasi di Dewan Pers
Nomor 1370/DP-Verifikasi/K/V/2025